3 Hari Perjalanan untuk Pulang ke Rumah

Slice of Life series #1

Sep 21, 2026 - Sastra

12 Juni-15 Juni 2026

Pengalaman pulangku pada liburan yang lalu sedikit berbeda. Biasanya aku pulang menggunakan pesawat melalui bandara Ahmad Yani menuju bandara SAMS (Sultan Aji Muhammad Sulaiman) di Balikpapan, rumahku. Namun kali ini aku pulang menggunakan kapal yang akan membawaku berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menuju pelabuhan Semayang di Balikpapan. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 36 jam atau 1,5 hari.

Semua bermula selepas aku melaksanakan OSN-K di sekolah. Setelah aku keluar dari ruang pengerjaan, rasanya senang sekali bisa pulang ke rumah. Maka aku bergegas menuju kamar di asrama untuk mengosongkan lemari dan barang-barangku. Aku memindahkan barang-barang pribadi ku ke gudang yang ada di asrama.

Keesokan harinya aku bergegas untuk pergi mandi dan sarapan untuk pergi ke stasiun Tawang karena kali ini aku pulang ke Balikpapan menaiki kapal melalui pelabuhan Tanjung Perak. Kapal yang akan kunaiki adalah kapal milik perusahaan swasta Dharma Lautan Utama 5 dan setelah kutelusuri informasi mengenai kapal ini, kapal ini dulunya bernama Miyazaki Express. Kapal ini dibuat pada tahun 1996 dan melayani wilayah Kansai dan Kyushu hingga tahun 2022. Aku membeli tiket kapal ini seharga sekitar 700.000 rupiah. Sangat jauh harganya jika aku naik pesawat langsung dari Semarang menuju Balikpapan yang harga tiketnya sekitar 1,5 juta hingga 2 juta rupiah. Mungkin ini adalah permasalahan umum harga tiket domestik yang mahal.

Tentu saja dalam perjalanan naik kapal ini aku tidak sendiri. Seorang anak guru ngaji mbahku, sebut saja dia Mas Is. Meskipun aku bisa berkamuflase dengan fisikku yang seperti anak kuliahan ini, tetapi tetap saja aku masih 15 tahun. Aku takut bila saja aku kena gendam atau sesuatu yang menyeramkan di pelabuhan.

Perjalanan ku dimulai dari stasiun Tawang. Aku berterimakasih kepada seorang temanku yang memberikan tumpangan dari Gunungpati hingga stasiun Tawang dan aku pun turun dari mobilnya. Aku mencari tempat duduk untuk menunggu Mas Is datang dan aku memilih duduk di depan sekelompok bapak-bapak yang memainkan musik keroncong. Lagu-lagu lawas dimainkan mereka mulai dari rayuan pulau kelapa, sepanjang jalan kenangan dan masih banyak lagi. Meskipun aku penyuka lagu-lagu rock seperti Green Day, MCR, Murphy Radio, Oasis dan lagu-lagu Jepang seperti AKFG, Hoshimachi Suisei serta Kessoku Band, aku juga suka lagu-lagu lawas. Putar saja beberapa lagu Koes Plus dan mungkin saja aku akan nyambung atau menikmatinya.



Aku menyukai daerah sekitar stasiun Tawang yang tentu saja itu adalah kawasan Kota Lama Semarang. Disana aku bisa melihat banyak sekali bangunan zaman kolonial yang membentuk sebuah kawasan pemukiman khas Eropa. Wajar saja kalau disebut sebagai Belanda kecil. Rasa kekaguman ini tentu saja karena peninggalan kolonial Belanda di Balikpapan tidak sebesar dan membentuk kota seperti di Semarang dan kota-kota besar di pulau Jawa yang lain. Di Balikpapan mereka meninggalkan sumur minyak Mathilda, rumah dahor, rumah lengkung, dan gereja.


Saat Mas Is tiba kami segera masuk ke dalam stasiun dan duduk di kursi di pinggir peron untuk menunggu kereta. Kereta yang akan kunaiki adalah KA Ambarawa Ekspress dan memakan waktu 4 jam untuk sampai di stasiun Surabaya Pasar Turi. Ini adalah KA yang biasanya kunaiki jika menuju Surabaya dari Semarang. Harga tiket dari kereta ini adalah 110.000 rupiah. Selain Ambarawa Ekspress, kadang aku menaiki KA Airlangga yang harganya lebih murah sekitar 50.000 rupiah dan punya kursi tegak membuat semua bagian badan saya terasa pegal-pegal atau KA Kertajaya. Di sepanjang perjalanan aku mengobrol dengan Mas Is. Obrolan bermula dari obrolan tentang sekolah hingga membahas pengalaman Mas Is yang satu kapal dengan orang “Make“ dan hendak menyelundupkan barang candunya itu ke dalam kapal. Sisanya, tentu saja tidur. Siapa yang betah mengobrol hingga 4 jam lamanya ?


Setelah 4 jam itu akhirnya aku sampai di stasiun Surabaya Pasar Turi. Bergegas diriku mengambil foto lokomotif B12 39 eks perusahaan kereta api SJS (Samarang Joana Stoomtram) meskipun aku sudah berkali-kali ke stasiun itu. Entah mengapa setiap kali aku berkunjung ke Surabaya, aku merasakan sesuatu. Sebuah mitos yang kudengar berkata bahwa jika seseorang berkunjung ke Jogja dan diterima maka Ia akan ingin kembali lagi ke Jogja. Tetapi hal itu mungkin berlaku untukku tetapi untuk Surabaya.


Aku merasa jatuh cinta dengan kota ini. Ketika aku menginjakkan kaki di Surabaya, rasanya aku merasakan ketenangan. Aku merasa bisa menerima dan diterima oleh kota ini. Apa yang kuketahui tentang Surabaya mungkin hanya Persebaya, Bonek, band favoritku Crayon Case dengan lagu terkenalnya Surabaya dan Gravits, pertempuran 10 November dengan insiden hotel Oranjenya serta rumah om ku di sekitar Surabaya daerah Ngagel.


Aku menginap di sebuah hotel di sekitar daerah Surabaya Utara agar tidak terlalu jauh dengan Tanjung Perak. Saat aku masuk, dalam pikiranku hotel ini mungkin pernah mencapai masa kejayaanya dan sekarang mulai redup. Saat ku buka pintu ada sebuah lift di lobby. Meja resepsionis hotel ada di sebelah kiri dari pintu masuk dan kulihat sekitar sana bahwa pegawai hotel sedang rebahan di atas matras tipis. Pintu ruangan pegawai itu sudah lapuk dihajar rayap. Aku mengurus kunci kamar ku dan pergi menuju lantai 3, tempat kamarku berada.


Aku diberikan 2 hal penting untuk pergi ke kamarku oleh resepsionis, sebuah kartu akses dan kunci. Pikirku buat apa coba ?, tetapi kartu itu sudah buruk rupa tampaknya, retak, gores dan warna putihnya mulai menguning. Dan ternyata benar saja, untuk masuk ke kamar kartu itu tidak bisa dipakai. Kamu perlu menggunakan kunci dan kartu itu hanya berfungsi untuk menyalakan listrik kamar.

Kulihat pulau kapuk di depan mata, dan kurasa saatnya kita memejamkan mata dan bersiap untuk hari esok di pelabuhan. Sial, aku baru ingat hari ini pertandingan piala dunia dan aku belum makan. Perut yang lapar ini tidak bisa membuatmu tidur dengan tenang. Maka akhirnya kuputuskan untuk membeli makanan di luar.


Senang rasanya bisa kembali melihat tulisan Terang Bulan. Lama sekali aku tidak melihat nama makanan itu. Meskipun wujud dan makanannya sama, tetapi beda daerah memiliki penyebutan yang berbeda untuk makanan itu. Kalau di kotaku, Balikpapan, nama makanan itu adalah Terang Bulan. Penamaan ini terjadi karena makanan ini dibawa oleh perantau Jawa Timur ketika merantau ke Balikpapan. Jadi wajar saja jika aku bersahabat dengan nama Terang Bulan. Namun ketika aku bersekolah di Semarang, nama kue ini menjadi asing. Kok bisa woilah jadi Kue Bandung atau Martabak Manis, padahal kue ini bukan dari Bandung dan Martabak tidak manis. Penamaan kue ini bisa membuat seisi kelas ku berdebat selama berjam-jam.


Selain membeli Terang Bulan, aku juga membeli sate kulit bebek. Gigitan pertamaku untuk makanan itu terasa nikmat. Rasanya aku ingin kembali membeli sate kulit itu lagi tetapi aku perlu menghemat uangku untuk perjalanan nanti.

Perut sudah terisi dan yang tersisa pertandingan pertama piala dunia, Afrika Selatan melawan tuan rumah Meksiko. Aku pergi kembali ke kamar hotel sambil membawa terang bulan itu di dalam kresek dan menyalakan TV :


"Hmmm….. Nonton gak ya ?, ah nda usah lah wong Jerman belum main kok. Guring haja lah Ulun"


Semoga Die Mannschaft beruntung tahun ini, minimal lolos babak grup aku sudah bersyukur mengingat hasil buruk timnas Jerman di dua piala dunia edisi sebelumnya.


***


Alarm berbunyi, bukan hanya 1 handphone tetapi 3 ! Ketakutan kami untuk kesiangan yang membuat kami memasang alarm dari 3 handphone sekaligus. Untung saja hari itu kami tidak terlambat untuk pergi ke pelabuhan, kepagian malah. Kapal kami dijadwalkan berangkat pada pukul 8:00 WIB dan aku sudah sampai di Tanjung Perak pada pukul 5:30. Pantas saja kami disuruh berputar balik ketika hendak masuk ke bagian keberangkatan.


Hari itu bukan aku saja yang mendapatkan nikmat untuk tidak kesiangan dari Allah, namun juga seorang driver grab yang mengantar kami ke pelabuhan. Bapak driver itu bilang kalau beliau mendapatkan order kami setelah sholat subuh. Memang hebat rejeki Tuhan yang maha kuasa.



Karena jadwal keberangkatan masih lama aku memutuskan duduk saja di ruang tunggu sambil mengawasi kondisi di sekitarku. Banyaknya cerita kriminal di pelabuhan yang kudengar membuat diriku menjadi awas. Takut rasanya aku akan kehilangan dompet bukan karena hanya uang, kartu ATM dan kartu identitas saja, tetapi ada kartu langka Oshi ku disana. Sebuah kartu pocky Hololive yang bergambar Ayunda Risu.


Sepanjang waktu ku menunggu aku memasang TWS di telingaku. Tetapi hanya satu saja yang kupasang karena takut tidak bisa mendengar pengumuman dari pengeras suara. Entah mengapa stasiun, pelabuhan dan bandara memiliki kesamaan yakni suara pengumuman yang terdengar seperti orang yang sedang berkumur.


Dan akhirnya setelah waktu yang lumayan lama aku bisa naik ke kapal. Aku dengan seksama memperhatikan barang bawaan ku termasuk sebuah boneka merchandise Hoshimachi Suisei, Plate carrier Multicam dan dompet. Tetapi siapa juga yang mau mengambil boneka Hoshimachi Suisei. Memangnya ada pencopet yang menonton Vtuber ? Aku mengeluarkan KIA dan membuka pdf tiket dari handphone ku untuk bersiap memasuki tempat pengecekan barang dan tiket. Antriannya sangat panjang. Rasanya seperti upacara bendera yang pembina upacaranya terlalu lama menyampaikan amanat.


Di dalam antrian itu ada banyak sekali keluarga dengan anak-anak, pekerja yang hendak merantau, lansia dan lain-lain. Aku ingat ketika petugas kewalahan menghadapi lansia yang tidak mengerti cara kerja gerbang tiket otomatis yang harus memindai tiketnya terlebih dahulu. Jumlah nya tidak hanya satu, tetapi terdiri dari banyak rombongan yang mungkin terdiri dari 8-10 orang. Petugas itu sampai mengucap “ Ya Allah pak/buk “ karena bingung harus menjelaskan seperti apa. Setelah selesai mengantri aku menunggu untuk diperbolehkan masuk ke dalam kapal.


Sekitar 15 menit aku menunggu dan diperbolehkan masuk ke dalam kapal. Yang kulihat sebuah dermaga yang panjang dengan banyak kontainer, porter pelabuhan yang mencari pelanggan dan masih banyak lagi. Matahari Surabaya membuatku berkeringat banyak padahal masih pagi hari. Dalam pikiran ku mungkin jarak bangunan menuju kapal tidak terlalu panjang. Mungkin kapalnya sudah siap di depanku karena juga ada kapal ferry di depan ku. Ternyata tidak. Aku harus berjalan kaki dengan membawa sebuah tas jinjing, tas ransel dan kardus dalam jarak sekitar 200 meter. Tersiksa pundak dan punggungku, ingin sekali rasanya untuk cepat sampai ke dalam kapal. Di dermaga dan dekat kapal ferry pun aku masih harus menghindari truk-truk besar. Sungguh sengsara rasanya.


Sesampainya di lobby kapal aku diperlihatkan lobby kapal yang seperti lobby hotel. Sebenarnya aku tidak heran karena sebelumnya aku pernah naik kapal dharma lautan yang lain yakni dharma lautan 7. Namun rasanya aku masih berusaha membayangkan kisah bapakku 18 tahun yang lalu ketika merantau ke Balikpapan dari Mojokerto naik kapal Pelni. Meski begitu mau perusahaan kapal apapun itu, mungkin orang yang ngemper di lorong-lorong kapal akan tetap ada.


Aku mendapat kamar kelas 2. Setelah mendapatkan kartu akses kamar (kartu yang ini benar-benar berfungsi, tidak seperti hotel yang sebelumnya) Aku dan Mas Is memutuskan untuk tidur berusaha menghilangkan rasa pegal-pegal ini. Beberapa detail kecil kudapatkan di kapal ini seperti tulisan Hiragana, Katakana dan Kanji di beberapa bagian kapal yang menandakan kapal ini benar-benar pernah mengarungi lautan Jepang. Aku berusaha membaca huruf-huruf itu meskipun yang kuketahui hanya Hiragana. Hitung-hitung latihan, haha.


Untuk bisa tidur saja aku harus menghadapi cobaan lagi. Saat kapal hendak berangkat seharusnya seluruh penumpang tidak berada di geladak kapal. Entah siapa dia itu, sepertinya keras kepala tidak mau naik ke tempat penumpang seharusnya berada. Berkali-kali orang itu ditegur melalui pengeras suara namun tak kunjung naik. Tidur ku diusik oleh suara itu. Apa coba, lebih enak di kamar atau di lorong malah daripada di geladak kapal. Disana loh bau solar.


Selama perjalananku menaiki kapal ini hiburan ku hanya game offline yang diinstal di handphone ku, novel yang kubawa, film dari televisi yang acaranya diatur oleh nahkoda, makan, tidur dan tentu saja menikmati pemandangan laut yang luas di dek kapal. Hampir tidak ada sinyal di sepanjang perjalanan ini. Omong-omong soal sinyal aku menemukan sebuah keanehan. Ketika kapal berada di jarak sekitar 28 kilometer dari pulau Madura aku tidak mendapatkan sinyal sama sekali. Anehnya ketika kapal ini berjarak sekitar 40 kilometer dari Kalimantan Selatan aku sudah bisa menikmati sinyal meski kadang ada dan hilang. Mungkin menara pemancar sinyal di Madura sudah dibawa ke tukang rombeng.


Agar tidak terlalu bosan aku mencoba berkeliling kapal. Beberapa detail kecil kutemukan. Misalnya ada tempat seperti bak yang bisa dipakai untuk berendam bersama, sebuah kloset yang tidak memiliki sekat penutup dan jacuzzi. Mungkin budaya orang Jepang memang begitu. Selain itu, aku juga sering menikmati angin laut dan pemandangannya di dek. Badan ku merasakan kenikmatan alam ketika diterpa angin laut, namun perlu diingat rawan masuk angin. Ombak juga menghiasi perjalanan ini pastinya. Ketika aku tidur atau sholat aku merasakan sedikit goyangan. Pernah pada suatu malam ombak begitu hebat hingga tidur saja badanku terguling kesana kemari.



Untung saja nahkoda mengerti apa yang kusuka. Televisi memutar sebuah film berjudul Danger close : Battle of Long Tan. Mengisahkan aksi tentara Australia yang bertugas di perang Vietnam. Karena film itu, aku jadi teringat koleksi sabuk M-1936 dan 2 pouch M16 ku di rumah. Aku berterima kasih kepada nahkoda karena tidak mengulang pengalaman burukku mengenai televisi kapal. Dahulu kala ketika aku menaiki kapal Dharma Lautan 7, entah apa nahkoda memutar final destination 1-5 dan suzanna. Aku yang sedang makan waktu itu dan berusaha mendapatkan hiburan yang menarik malah berakhir dengan tidak nafsu makan setelah melihat adegan di film final destination.


Setelah 2 hari dan 1 malam perjalanan akhirnya kapalku tiba di pelabuhan Semayang. Sebelum kapal bersandar di dermaga, aku mengambil beberapa foto karena matahari sedang terbenam. Kata seorang temanku ketika aku mengunggah foto ini di status whatsapp, suasananya seperti sekelompok perwira IJN/IJA yang sedang menikmati sunset dari atas kapal. Kupikir cocok juga karena aku berada di sekitar Teluk Balikpapan dan Selat Makassar yang menjadi lokasi pertempuran kapal Jepang dan Sekutu pada Perang Dunia ke-2.


Karena komentar teman itu, aku merasa menjadi seperti seorang tentara Australia yang sedang melihat ke arah perbukitan untuk membebaskan Balikpapan dari tangan Jepang pada masa Operasi Oboe 2. Aku seolah-olah melihat struktur pertahanan seperti meriam, bunker, parit dan senapan mesin sudah menunggu disana.


Akhirnya aku menyelesaikan perjalanan yang melelahkan ini. Aku berjalan di dermaga sambil membawa barang bawaan ku menuju keluar pelabuhan dan aku harus menghadapi cobaan lagi dengan banyaknya calo. Calo-calo ini jumlahnya ada banyak dan menawarkan jasa mereka dengan kesan memaksa. Aku dikejar-kejar seorang calo yang menawarkan jasanya menuju Samarinda atau Tenggarong dan kujawab :


“ Itu nah pak bapakku loh sudah di depan sana nunggu. Aku pang orang sini aja bukan mana mana.

Rumahku loh di bunyu situ aja “ sambil menaikkan nada bicara agar calo itu pergi dan aku bisa segera pulang kerumah.


Padahal yang dimaksud rumah bunyu itu adalah rumah dinas lama Mbah ku yang pernah kutinggali hingga aku berumur 4 tahun saat Mbah Kung ku masih bekerja di Pertamina.

Aku dijemput Ayahku menggunakan pick up Suzuki carry. Aku dan Mas Is segera meletakkan barang di bak dan masuk ke dalam mobil. Sebagai anak yang baik tentu saja aku menyalimi bapakku. Tetapi sebelum aku pulang ke rumahku, aku harus mengantarkan Mas Is terlebih dahulu pulang ke rumahnya yang berada di daerah Batakan persis di belakang Stadion Batakan. Maka ketika aku sampai rumah aku segera mandi dan bersiap untuk tidur.


“Tunggu sebentar, adekku kemana ?“


Aku keluar lagi dari kamarku dan bertanya kepada Ibuku kemanakah adik perempuan dan satu-satunya adikku itu. Rupanya, Adikku berada di Jakarta untuk Training Centre renang. Mas nya jauh-jauh pulang dari Jawa dianya malah ke Jawa. Memanglah.




More Posts