9-0

Cerpen

Oct 10, 2026 - ᴬˡᵛᵃʳᵒ ༄

Di suatu sore yang indah, terdengar sorakan “GOLL!!!” dari lapangan sekolahku. Seperti biasa, aku dan teman-temanku selalu bermain bola di sore hari. Namaku Sero, hobiku adalah bermain bola. Aku bersekolah asrama di SMP-SMA GUNPAT PATI 13. Kami, hidup bersama di asrama yang besar ini dengan orang-orang yang ramah.


Saat itu, aku sedang bermain futsal. Dan aku pikir, ingin bertanding dengan sekolah-sekolah lain. Lalu, aku menceritakan ini kepada teman-temanku. Putra, Barry, Tamhar, Mario, dan Pilix.


Mario: “OH, bagaimana kalo kami ikut turnamen bola?” kata Mario dengan excited.

Putra: “Aku setuju dengan Mario,” ujar si Putra.


Kami semua sepakat ingin mengikuti turnamen bola.

Lalu, kami menyampaikan ide ini kepada pembina kami, Kak Suga. (ia adalah seseorang yang menjaga kami/bisa disebut pembina di asrama.


Kak Suga: “WAH ide yang menarik, nanti akan saya carikan turnamen bola terdekat,” ujarnya.

Malam itu, kami berdiskusi untuk posisi setiap pemain.


Putra: “Aku mau flank”.

Barry: “Aku pun aku pun,” kata Barry sambil melompat-lompat.

Mario: “Kalo aku?” Mario bertanya dengan muka polosnya.

Putra: “Kamu dan Pilix akan jadi kiper ya, hehe”.

Mario: “Olooo, padahal aku juga mau maju.” Kata Mario dengan lesu.

Tamhar: “Aku akan jadi anchor dan kau Sero akan jadi pivot”.


Kami semua pun setuju dengan posisi masing

…

Beberapa hari pun berlalu dan Kak Suga menemukan turnamen bola terdekat di sekolah. Kak Suga menyampaikan ini kepada semua anak-anaknya.


Kak Suga: “Eh guyss, ini saya dah nemu turnamen bola niih. Kalian setuju gak? Tapi kita hanya punya waktu 1 bulan saja”. Kak Suga bertanya kepada semua anaknya (anak di sini maksudnya tuh anak yang dijaga, bukan anak kandung).


Pilix: “WAHHH, gass ajaa, Kak,” Pilix menjawab dengan antusias.

Tamhar: “CIHH, ini mah bukan apa-apa, siap kubantai semua sekolah. Akan kumenangkan turnamen ini dengan EZ wahahaha.” Candaan dari Tamhar membuat kami semua tertawa.

Kak Suga: “Kalo kalian mau mengikuti turnamen ini, kalian juga harus mulai latihan dengan disiplin.” Kata kak Suga dengan serius.


Semua pun setuju dengan itu. Kak Suga berkata bahwa latihan dilaksanakan setiap pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dan sore hari sepulang sekolah.

Di satu bulan itu kami berlatih, berjuang keras dengan rutin di pagi dan sore hari. Melawan rasa ngantuk dan malas. Terkadang, tidak semua temanku ikut latihan. Aku juga tidak tau kenapa mereka tidak ikut. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, kami tetap berlatih walaupun tidak lengkap (ini maksudnya yang ikut turnamen bukan hanya orang-orang yang kusebut, tapi banyak. Cuma yang kusebutkan yang utama saja)

…


Tiga minggupun berlalu. Cepat sekali rasanya melewati tiga minggu yang sangat singkat ini. Tinggal satu minggu lagi kami akan bermain. Hari-hari seperti biasa aku lewati bersama temanku. Berlatih, berlatih, dan terus berlatih.

…

Waktu yang kami miliki tersisa dua hari lagi. Di malam itu, Kak Suga mengadakan rapat untuk kami berdiskusi. Kak Suga menyampaikan beberapa hal yang penting untuk kami.


Kak Suga: “Fokuslah kepada lawan yang membawa bola. Lalu, kalian juga harus berkomunikasi satu sama lain. Dan juga, siapkanlah mental kalian.” Kak Suga berbicara sambil menatap kami semua dengan kedua matanya.


Di satu hari itu adalah waktu kami untuk beristirahat. Agar kami juga bisa memaksimalkan kemampuan kami.

…

Waktu pertandinganpun tiba. Hari dimana kami akan bertarung. Hari itu, kami berangkat pagi sekitar pukul tujuh pagi. Saat tiba di tempatnya, hatiku terasa takut melihat para pemain dari sekolah lain. Rasanya, takut sekali untuk kalah. Sekolahku mendapatkan giliran pertama untuk bermain mengawali turnamen itu. Saat aku menginjak lapangan, rasanya gugup sekali. Melihat para pemain, rasanya seolah aku sudah tau jika akan kalah. Jantungku berdetak sangat kencang.


Terdengar peluit pembuka dari wasit. Aku mengoper kepada Barry untuk mengawali permainan. Tiba-tiba Barry dan Putra berlari kencang ke depan untuk menyerang.

Beberapa menit berlalu, terdengar banyak sekali peluit panjang gol untuk musuh.

Kacau semuanya. Kenapa jadi gini sii? Kenapa semua gol yang dicetak dari musuh itu bermula dari kesalahanku?


Pilix: “AYO BANGKIT SEMUANYAAA, INI BELUMM SELESAIII”. Terdengar suara teriakan penyemangat untuk kami semua dari Pilix.


Aku merasa tak berdaya di pertandingan ini. Dari tadi, aku memiliki banyak kesempatan untuk shooting. Namun, kaki ini terasa tidak mau bergerak seolah tidak mau mengikuti perintahku. Jantung terasa berdetak sangat kencang.


“PRRIITT!” Peluit panjang terdengar untuk mengakhiri babak pertama, seolah berpihak kepada lawan. Skor sementara 4-0 yang berpihak kepada musuh.


Mario: “ARRGHH, KENAPA JADI GINI? SATU SKOR SAJA TIDAK kami DAPATKAN”. Terdengar keluhan dari Mario.

Sero (aku): “Maaf, aku gagal memanfaatkan kesempatan.” Aku membalas Mario.


“Ini semua salahku. Apa yang salah denganku? Banyak peluang yang kusia-siakan”. (Aku berbicara dalam hatiku).

…



“PRITTTT”. Peluit babak selanjutnya pun dimulai.

Kali ini, bola awal akan diambil dari lawan.


Dan tiba-tiba…

Musuh shooting dari tengah lapangan.


“GOLLLLL”. Terdengar sorakan kencang dari sang penembak bola.

“ADUUHHH. Siapa sangka dia akan menembak dari tengah situ”. Ujar Putra sambil pasang muka yang bingung.


Aku mendengar peluit panjang lima kali dalam satu babak ini. Yang dimana total gol mereka adalah sembilan. Sedangkan kami masih nol.

Aku teringat apa yang Kak Suga sampaikan kepada kami malam itu. Aku mulai sadar, selama bertanding, kami jarang sekali berkomunikasi satu sama lain, ragu untuk mengeluarkan suara, dan tidak punya mental yang kuat. Pada akhirnya, semua latihan yang kujalani selama ini sia-sia. Satu gol pun tak tercipta.


Hingga…

“PRITTT PRITT PRIIIITTTT”. Terdengar peluit panjang untuk mengakhiri pertarungan, dan ini adalah kekalahan. Ini adalah hari pembantaian. Rasanya pahit sekali. Kami sudah berusaha keras. Latihan pagi dan sore. Melawan rasa ngantuk dan malas. Dan ini hasilnya?


Kami melangkah lesu ke pinggir lapangan. Seluruh muka kami, dibanjiri dengan keringat yang bercampur dengan rasa malu. Para pemain dari sekolah lain melihat kami dengan tatapan yang seolah merendahkan kami. Rasanya ingin cepat aku pulang. Aku menunduk dalam-dalam sambil menatap sepatuku dengan rasa kecewa. Kami berjalan menuju Kak Suga yang menunggu kami di bangku cadangan.


Barry: “Guys, maafin aku ya. Aku ga maksimal mainnya.” Kata Barry dengan lesu.

Tamhar: “Aku juga, dari tadi aku tidak bisa bertahan menjaga pemain lawan yang sudah di belakang.” Respons Tamhar.

Putra: “Bukan cuma pertahanan. Dari tadi kami udah mau counter attack, tapi selalu terputus di tengah tengah.”

Mario: “Ini bukan cuma salah kalian kok. Ini juga salahku. Bola pelan pun aku tak bisa menangkap.” (Dengan muka lesu)


Padahal… ini semua salahku. Tak ada yang mau menyalahkanku. Tak ada yang berubah dari babak pertama. Aku dapat banyak sekali kesempatan, dan aku malah gagal memanfaatkannya. (aku berkata dalam hati).


Di sepanjang jalan aku melangkah, air mata keluar terus menerus tanpa bisa kucegah. Aku tak bisa menahan tangisan ini. Rasanya, tidak wajar sekali kami terbantai dengan skor 9-0. Apa yang kurang dari kami? Aku merasa sangat bersalah, menyesal, sedih, dan kecewa. Apa lagi aku menampilkan penampilan yang buruk, sangat tidak enak.


Kak Suga: “Guys, tidak apa-apa kok. Saya tahu rasanya kalah dalam pertandingan itu menyakitkan, apalagi setelah berlatih keras, rasanya… rasanya semua usaha yang sudah kami kerahkan menguap begitu saja tanpa sisa. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan saat melihat papan skor akhir. Tidak apa-apa guys, itu adalah proses kalian untuk menjadi lebih baik. Habiskan jatah gagal kalian. Nikmatilah proses kalian, karena proses itu lebih penting daripada hasil".

Lalu, kami semua menangis dan berpelukan satu sama lain.


-TAMAT-


(Maaf kalau bahasanya engga enak dibaca, ato engga nyambung, ato tatanan bahasanya kurang tepat)


More Posts