Akar Kenangan yang Tersisa
Cerpen saja, terinspirasi dari Hafalan Shalat Delisa
2026-05-22 10:35:14 - japdul kece
Di kantong seragam kerjaku yang rapi, aku menyimpan sebuah benda kecil yang akan teringat sampai akhir hayat, dari kantong itu terdapat seuntai gelang usang berkilau keemasan tapi menyimpan kenangan pahit, mataku menatap kaki palsu yang terpasang, dinginnya logam itu seolah menarikku kembali ke masa kecil.
24 Desember 2004
“Ummi, Ummi! Humairah sudah menyelesaikan hafalan shalat!” sahutku, menampilkan deretan gigi putih yang rapi.
“Iya sayang,” Ummi sedang membaca buku sejarah.
“Ummi, Humairah ingin gelang seperti Kak Zainab, Kak Putri, dan Kak Laila!” Aku memegangi kerudung Ummiku dengan mata hijau yang berbinar-binar.
“Setelah ini sayang, kamu siap-siap dulu.” Ummi menatapku lembut.
Aku berlari dengan lincah, memasuki kamar. Persiapanku matang, Ummi memanggilku.
“Humairah, cepat!” Ummi di tepi pintu, kakiku melejit dengan gamis biru.
Sesampainya di pasar, Ummi menghampiri Koh Nico, beliau melihatku yang menggemaskan, matanya tenggelam.
“Haiya, Kak Mina, Humairah sudah besar loo!”
“Koh Nico, Humairah sudah selesai hafalan shalat loh!” Cengirku.
“Haiya, ini gelang khusus untuk Humairah aja loo! Ada ‘H’ untuk Humairah.” Koh Nico memberikannya kepadaku.
“Koh, saya bayar penuh ya,” Ummi menyodorkan uang.
“Haiya, tak perlu lo! Owe kasih harga setengah saja lo!” Koh Nico menolak.
Setelah perdebatan singkat mengenai harga, Ummi akhirnya memberikan uang setengah harga. Kemudian aku dan Ummi pulang ke rumah, Kak Laila menatap gelangku, alisnya berkerut.
“Kok Humairah memiliki gelang yang bagus?!” Padahal gelang mereka sama persis, namun punyaku ada inisial “H” untuk Humairah.
Tak berselang lama, Abi menelepon, Ummi mengangkat telepon tersebut. Ummi berbincang sejenak lalu giliran Kak Zainab sebagai putri sulung, hanya berbicara mengenai-
novel romance yang sering dibacanya, giliran Kak Putri yang lebih banyak berdiam dan mendengarkan nasehat dari Abi, lalu Kak Laila mendapat giliran, tapi… dia menolak dengan alis yang saling bertaut, pikirannya tersibukkan oleh Humairah yang mendapat gelang. Giliranku.
“Abi, Abi! Humairah sudah menyelesaikan hafalan shalat loh!” Suaraku terlalu bersemangat.
“Alhamdulillah, nanti Abi belikan boneka warna biru untuk kamu.”
“Asikk!” Seruku antusias, seketika rasa cemburu Laila semakin bergejolak.
Usai telepon, Ummi menanyakan Laila, namun ia diam saja, aku mengatakan kepada Laila.
“Kak, boneka kan bukan untuk Humairah saja, itu milik Kak Zainab, Kak Putri dan Kak Laila juga.” Aku memberi pengertian pada Laila, dia tersenyum tipis dan mengelus kepalaku.
26 Desember 2004
Sudah dua hari berlalu, langit Ulee Lheue tampak bersih. Hanya guncangan pagi ini yang sempat membuat orang-orang berlarian ke luar rumah. Kata tetangga sumbernya dekat pantai. Tapi semuanya segera kembali tenang. Kak Putri dan Kak Laila sibuk memasang karton di depan rumah, sementara aku sibuk bersiap-siap untuk ujian praktik shalat di madrasah bersama Ummi.
“Ummi, ayo! Humairah sudah gak sabar nih!”
“Iya sayang,” Ummi berjalan keluar rumah, aku berjalan di sebelahnya.
Sesampaiku di madrasah dengan lautan manusia yang hendak uji praktik shalat juga, aku menunggu giliran dengan khidmat hingga namaku disebut.
“Humairah Zhafira Az-Zahra,” speaker bergema, jantungku berdegup cepat.
“Ayo Humairah, santai saja.” Bu guru Salamah menenangkan.
Aku memakai mukena dan bersiap-siap dengan bacaan sholatku. Di sisi lain, para nelayan melihat tarian dahsyat dari tengah laut, wajah mereka pucat melihat air setinggi gedung empat belas lantai yang siap menelan seluruh wilayah Aceh. Sementara di sini, aku tetap khusyuk dan begitu lirih, Ummi masuk dan tersenyum melihatku, Bu guru Salamah terpana dengan bergelimang air mata.
Air bah menjamah tepi pantai, orang sekitar berlarian bagai dikejar api yang menjilat tubuh. Menelan segala bangunan dan manusia, bahkan pohon pisang ikut terbawa arus ganas. Aku mulai rukuk, tiga kilometer dari air bah yang siap menerpa madrasah. Tarian kematian
bergejolak, sungguh satu kilometer sebelum menerpa madrasah, dengan suara gemuruh, air bah sudah siap menelan, dan…
Aku hendak sujud pertama ketika air bah menghancurkan seluruh bangunan, tubuhku terseret dalam posisi khusyuk. Pelepah pisang menghempas punggung dan wajahku, kakiku terhantam oleh gerbang madrasah, kepalaku siap menerjang dinding madrasah, dengan izin Allah, dinding itu luruh sebelum mencederaiku. Setelahnya gelap, aku tidak ingat apa-apa lagi. Dalam benakku hanya suara Ummi memanggil namaku yang semakin jauh.
Aku terseret hingga tersangkut di dedaunan, ternyata kesadaranku hilang selama empat hari, tanpa makan dan minum. Keesokannya diriku ditemukan oleh sekelompok tentara asing, David, melihat wajahku yang bercahaya, dia bertekuk lutut dan terpana. Dia segera mengumumkan pada prajurit lainnya, David melepaskan dan membawa tubuhku dengan penuh kekhawatiran. Tiga minggu berlalu, asaku mulai pupus. Di mana keluargaku? Apa yang terjadi? Hingga kemudian…
“Abi…” aku berusaha berlari dengan kruk dan terjatuh. Orang dewasa bilang, sebelah kakiku telah menyelesaikan tugasnya untuk menolongku. Jadi, sekarang dia sudah pergi mendahuluiku.
Abi terdiam seribu bahasa, menangis melihat anak bungsunya tersenyum seolah semua hal yang telah terjadi tidak pernah ada.
Pelukan Abi menyelimutiku, hanya mengatakan “Alhamdulillah…” dengan lirih. Aku mencari di belakang Abi, tapi aku tidak melihat Ummi dan Kakak-kakakku.
“Abi… di mana Ummi dan Kakak-kakak? Mereka nunggu di rumah ya?” Seketika raut wajahnya berubah, namun ia tidak menjawabku dan hanya tersenyum lirih.
***
Setelah tiga minggu, aku dan Abi pulang dengan helikopter milik tentara asing, aku melihat seluruh Ulee Lheue hancur tak bersisa, seketika memoriku terputar begitu saja membuat aku sedikit trauma dengan bacaan sholat. Aku mulai takut. Aku takut rumahku juga hancur. Apakah Ummi dan Kakak-kakak selamat?
Abi mengajakku pergi ke suatu tempat tanpa mengatakan apa-apa. Sesampainya di sana, aku hanya melihat area kosong dengan tiga batu berjejer. Rasa takut kembali menghantuiku…. Di sana Abi menjelaskan bahwa Kak Zainab, Putri, dan Laila dikebumikan di satu tempat. Sementara Ummi masih belum ditemukan sampai sekarang, aku mulai menulis nama mereka dengan ranting kayu. Mataku berkaca-kaca.
“Pasti Kakak suka.” Aku tersenyum tipis.
Hari demi hari berlalu, madrasah sementara didirikan, guru pengganti didatangkan, kaki palsu juga dikirimkan untukku. Terakhir, para prajurit, Sersan David, dan Suster yang sering merawatku juga ikut berpamitan. Beberapa hari kemudian, rumah dibangun ulang, aku setiap hari berkunjung ke pemakaman massal, bercerita pada ketiga Kakakku dan tak lupa aku juga mendoakan mereka. Hafalan shalat terlalu menyakitkan untuk kueja. Jadi aku hanya mengirimkan doa namun tidak di waktu shalat.
Temanku, Teuku Imam, dirinya juga menangis karena kakaknya dikebumikan di sana, Imam menyadari keberadaanku dan buru-buru mengelap air mata serta hidungnya yang berair.
“Imam, sepertinya ada yang kurang nih,” aku nyengir lalu mengambil ranting kayu dan menuliskan nama kakaknya serta menata batu di atasnya. Imam mengerti maksudku, dirinya tersenyum tipis.
“Imam, kamu mau main petak umpet lagi seperti dulu?” Imam mengangguk.
Abinya Imam menghampirinya untuk memberitahukan sesuatu.
“Nak, Ummi sudah ditemukan.” Raut wajah Imam seketika berubah, di sisi lain aku terbakar oleh rasa iri yang menjalar padaku, sekarang aku sudah lelah dengan kesabaran, lalu aku berlari menuju rumah dengan kaki pincangku, sesampai di rumah, aku merasakan panas dalam tubuhku. Kenapa hanya Ummi yang belum ketemu?!
Jelas Abi panik melihat bungsunya tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab, panasnya seperti tungku yang berkobar. Abi berlari ke posko sukarelawan dan pemuda bernama Fadly ikut membantu. Bersama dengan dokter, aku dibawa ke posko kesehatan terdekat yang baru selesai dibangun, dengan alat yang cukup memadai hibah dari tentara asing. Aku bermimpi berada di taman yang indah tiada tara. Aku duduk menatap keindahan taman, lantas ada yang menepuk pundakku pelan. Seketika aku terkejut melihat Ummi yang tampak begitu nyata, aku memeluk dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ummi.
“Ummi, Humairah rindu Ummi karena Allah semata.” Sungguh murni sekali ucapan itu, tersampaikan melalui hati yang menahan pilu.
“Ummi juga rindu Humairah, sayang.” Ummi menatapku teduh.
“Humairah, kamu harus menyelesaikan hafalan shalat dulu.”
“Tapi…”
“Sayang, Ummi akan selalu merindukanmu.”
Perlahan Ummi beranjak dan masuk ke dalam taman indah itu, sungguh tanganku berusaha menggapai tapi tidak bisa kusentuh.
Mimpi itu seolah obat rindu untukku, akan tetapi aku sadar bahwa itu tidak nyata. Aroma obat menusuk hidungku, mataku mulai mengerjap sejenak dan merintih.
“Abi…, Humairah mimpi Ummi… ”
Abi langsung memelukku dan mengelus kepalaku pelan. Aku terisak di dekapannya.
***
Selang beberapa hari, aku bermimpi kembali. Menatap kupu-kupu dengan tujuh warna yang indah, Ummi muncul di tempat kupu-kupu itu berada.
“Ummi, Ummi!” Aku berlari menghampiri.
“Ummi… Humairah rindu Ummi, Humairah sungguh mencintai Ummi karena Allah semata.” Sungguh kalimat itu bukan sebuah kedustaan.
Sama seperti sebelumnya, di saat Ummi akan pergi, aku berteriak untuk menggapai, namun kali ini Ummi menunjukkan seuntai gelang emas dengan inisial “H” untuk Humairah.
Aku akhirnya paham.
Aku mengerti.
Aku menyesal mengapa harus lupa dengan itu.
Sungguh aku menyadarinya. Sungguh aku jahat, aku menipu Ummi, dan sekarang aku menipu engkau ya Allah? Dan tidak beribadah kepada engkau karena trauma? Berani sekali aku menghafal bacaan shalat hanya untuk seuntai gelang, padahal hadiah yang engkau janjikan lebih baik daripada seisi bumi.
“Humairah gak mau ini, Humairah mau Ummi di sini!” Mataku bergelimang air mata.
“Ini tetap menjadi hadiah atas hafalan shalatmu sayang, sementara dari langit akan lebih indah lagi.”
Ummi menuntunku ke luar dari taman. Apa? Aku tidak akan bertemu Ummi lagi? Aku terbangun dari mimpi dengan mata sembab. Mimpi itu sungguh terasa nyata, seolah aku mendapat teguran atas keenggananku untuk beribadahsejak hari itu.
***
Minggu itu, aku beserta teman sekelas dan Bu guru Nia melakukan camping, persis setelah selesai mendirikan tenda, waktu Ashar telah tiba, aku memulai shalat yang pertama sejak hari itu, ketika melakukan takbir, ketenangan memenuhi kepalaku, penduduk langit bertasbih. Selesainya shalat, aku berjalan ke sungai dan sinar yang menyilaukan dari rerumputan tebal menarik perhatianku. Kuhampiri cahaya itu dan aku terpaku. Aku melihat jasad Ummi yang menggenggam seuntai gelang emas dengan inisial “H”. Penduduk langit bertasbih memuji Sang Maha Pencipta.
“Allahu akbar, UMMI!”
18 Maret 2026
Sekarang, aku bukan gadis kecil yang lemah, tetapi wanita yang berjuang untuk bertahan hidup, tidak ada lagi gadis kecil yang menangisi Umminya, aku berdiri dan menatap ke depan bagai akar yang kokoh. Aku sadar bahwa diriku tidak berdiri dengan satu kaki normal dan satu kaki besi, akan tetapi berdiri dengan fondasi cinta dan keteguhan hati yang diwariskan oleh orang tua.
Aku menatap langit Ulee Lheue, tersenyum sambil berdoa untuk Ummi, Kak Zainab, Kak Putri, dan Kak Laila. Aku masuk ke dalam gedung untuk menyambung kehidupan yang panjang namun singkat ini. Aku akan selalu mengingat peristiwa yang pilu itu, tapi demi Ummiku, demi mendoakan Ummi dan Kakak-kakakku, aku akan selalu shalat dengan hafalan yang telah kumiliki. Mungkin Ulee Lheue telah berubah, tetapi diriku tetaplah akar pohon yang sama—pohon yang dihantam oleh air bah di Aceh, tak tergoyahkan oleh badai manapun—.