Alice sang penyihir Part 4

Cerita ini menceritakan perjalanan Alice, seorang murid berbakat dari Magic Academy yang berhasil menjadi siswa terbaik setelah berjuang keras mengenang orang tuanya. Namun, karena dikucilkan oleh teman-temannya akibat rasa iri, Alice memilih pergi dan jatuh ke dalam dendam. Ia membelot ke kota iblis The Abyss, merekrut pasukan kuat seperti Thamuz dan Helcurt, serta menggabungkan sihir dan teknologi canggih untuk menyerang Kerajaan Moniyan Empire. Meski sempat berhasil menculik Raja dan Ratu, rencana kejahatan Alice akhirnya digagalkan oleh mantan rekan akademi yang dipimpin oleh Shamrock Harley dan Lylia. Alice yang tertangkap akhirnya menyadari kesalahan dan menyesali perbuatannya di dalam penjara kerajaan.

Oct 22, 2026 - Amimi

Namun, hilangnya pemimpin tertinggi Moniyan Empire tidak berlangsung tanpa jejak. Di istana yang kini kacau balau, sinara sihir darurat dinyalakan. Shamrock Harley dan Lylia, yang dipanggil secara mendadak dari Magic Academy, langsung memimpin penyelidikan di ruang singgasana.


Dengan bantuan Anjiang, peliharaan Lylia yang memiliki penciuman sihir sangat tajam, mereka menemukan sisa-sisa jejak energi kegelapan yang ditinggalkan oleh Helcurt di jalur selokan.


"Jejak ini menuju ke lautan lepas," ujar Shamrock Harley sambil memutar-mutar tongkat sihirnya. Topinya sedikit dimiringkan saat matanya menatap tajam ke arah peta dunia. "Alice tidak bergerak sendirian kali ini. Dia membawa pasukan iblis yang jauh lebih kuat."


"Kita tidak boleh membiarkan Raja dan Ratu dalam bahaya!" seru Lylia gusar, sementara Anjiang menggonggong memberi sinyal setuju.

Sementara itu di markas rahasia, Alice tidak buang-buang waktu. Menggunakan pengetahuan sihir tinggi yang ia pelajari bertahun-tahun serta gabungan teknologi modern yang ia ciptakan, ia mulai merakit sebuah alat pengontrol pikiran. Alice berniat menggunakan Raja dan Ratu Moniyan Empire sebagai senjata utama untuk menguasai seluruh benua tanpa harus mengorbankan banyak pasukannya.


Kembali ke markas rahasia Alice di pulau terpencil. Alice sedang asyik meracik bahan-bahan canggih dan komponen senjata yang ia curi dari Moniyan Empire untuk membuat sebuah perangkat pengontrol pikiran raksasa.

"Nanti kalau Raja dan Ratu sudah berhasil aku kontrol pikirannya, kita tidak perlu capek-capek perang lagi, Thamuz. Kerajaan Moniyan akan langsung berlutut di hadapan kita," ujar Alice penuh percaya diri.


Thamuz cuma mengangguk pelan sambil mengeluarkan suara geraman yang sangat panas. "Rencana yang bagus. Tapi kalau boleh jujur, aku sudah bosan menunggu dari tadi. Aku pengen membakar sesuatu sekarang juga."

"Sabar kenapa sih, Thamuz! Jangan merusak suasana," sahut Helcurt tiba-tiba dari sudut ruangan yang gelap gulita. "Lihat aku dong, dari tadi diam dan tenang seperti bayangan."

Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar hebat. BZZZZT! DANG! DANG! DANG! Suara sirine alarm pertahanan buatan Alice berbunyi sangat nyaring, dan lampu-lampu darurat di markas mulai berkedip-kedip merah.



"Waduh, sepertinya ada tamu tak diundang yang berhasil menerobos pertahanan luar," gumam Alice sambil menghentikan aktivitas meraciknya.

WUSH! Dalam sekejap mata, di tengah-tengah ruangan muncul Shamrock Harley, Lylia yang menunggangi Anjiang, serta puluhan prajurit elit Moniyan Empire.


More Posts