Angin Perubahan di Bumi Kejawar

Awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas

2025-12-02 00:53:02 - ~ひかり~

Angin Perubahan di Bumi Kejawar

Mentari pagi muncul perlahan menyentuh pucuk-pucuk pohon kelapa yang berjejer rapi di tepian Sungai Serayu. Udara di desa Kejawar terasa dingin, seolah membisikkan rahasia-rahasia lama. Di sudut pendopo kecil yang usang, seorang remaja bernama Surya duduk bersimpuh. Usianya baru enam belas tahun, tetapi sorot matanya memancarkan kedewasaan yang tak biasa, seolah memikul beban ribuan kisah yang tersembunyi dalam buku-buku tebal.

Surya adalah putra seorang abdi dalem yang setia melayani Tumenggung R. Joko Kaiman, pemimpin wilayah yang dikenal cerdas dan bijaksana. Kejawar adalah pusat kekuasaan, namun kondisinya semakin memprihatinkan. Pendopo tua itu meratap dalam kesunyiannya. Dindingnya retak, atapnya bocor, serta halaman rumputnya gersang. Surya tahu, tempat ini sudah tidak layak menjadi pusat sebuah pemerintahan.

"Surya, melamun lagi? Pikiranmu terbang setinggi awan," sapa Kiai Lurah yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi wedang jahe hangat.

Surya tersentak, "Maafkan saya, Kiai. Saya hanya memikirkan keadaan Kejawar. Rakyat resah, hasil bumi tak lagi melimpah seperti dulu. Sungai Serayu memang sumber utama kehidupan kami, tetapi ia kini sering kali membawa air bah dan penyakit. Pusat pemerintahan ini seolah tenggelam dalam kemunduran."

Kiai Lurah mengangguk, tatapan matanya redup. "Tumenggung kita pun merasakan hal yang sama, Nak. Beliau sudah lama memendam keinginan untuk memindahkan pusat kekuasaan. Mencari tempat yang lebih subur, lebih strategis, dan lebih berlimpah berkah."

Malam itu, di bawah cahaya obor yang menari-nari tertiup angin, diadakan rapat penting. Para tetua desa dan punggawa berkumpul. Tumenggung R. Joko Kaiman berdiri tegak.

"Saudara-saudara sekalian, sudah saatnya kita berani memulai perubahan. Kejawar tidak lagi bersahabat dengan kita. Jika terus bertahan, nasib rakyat kita akan hancur," kata Tumenggung dengan suara penuh wibawa.

Seorang penggawa tua, Ki Gede, lantas berdiri. "Ampun Tumenggung, memindahkan pusat kekuasaan bukan perkara mudah. Kejawar adalah harta peninggalan leluhur kita. Tanah ini telah menyimpan janji suci. Bagaimana jika pemindahan itu justru mendatangkan bencana? Bukankah Ki Buyut sudah berpesan untuk menjaga pusaka di tempat ini?"

Ketakutan Ki Gede adalah cerminan kegelisahan sebagian besar rakyat. Mereka mencintai tanah kelahiran mereka, dan gagasan pemindahan adalah sebilah pisau yang merobek kenangan. Konflik batin Tumenggung R. Joko Kaiman pun memuncak. Ia harus memilih antara kesetiaan pada tanah leluhur yang usang, atau masa depan cerah bagi rakyatnya.

Surya, yang bertugas menyajikan minuman, mendengar semua perdebatan. Tiba-tiba, ia merasakan dorongan aneh. Ia ingat perkataan ayahnya, "Seorang pemimpin sejati harus berani menanam benih harapan di tanah yang belum pernah terjamah."

Tumenggung Joko Kaiman memutuskan untuk melakukan sayembara kecil. Barang siapa yang dapat menemukan lokasi baru yang memenuhi tiga syarat yaitu, strategis, subur, dan bebas dari musibah, ia akan diberi hadiah besar.

Surya, dengan restu ayahnya, diam-diam ikut dalam pencarian. Ia tidak mengincar hadiah, melainkan ingin membantu Tumenggung yang ia kagumi. Ia menjelajahi hutan, mendaki bukit, dan menyusuri anak-anak sungai. Hari-hari berlalu dengan lambat, harapan Surya mulai menipis seperti lilin yang hampir padam.

Hingga suatu senja, ia tiba di sebuah wilayah yang tanahnya lebih tinggi, jauh dari luapan Serayu. Di sana, ia melihat pemandangan yang tak terduga. Empat pohon beringin yang tumbuh rapat dan menjulang tinggi di sebuah tanah lapang.

"Empat beringin..." bisik Surya. Ia teringat kisah lama tentang leluhur Tumenggung yang pernah bersumpah akan membagi warisan menjadi empat.

Saat ia berjalan mendekat, ia melihat sekelompok pedagang sedang beristirahat. Salah satu pedagang bercerita, "Tempat ini sangat ramai, Nak. Airnya jernih. Tapi anehnya, ada empat mata air yang bertemu di bawah pohon beringin itu, seolah-olah tanah ini sengaja dibagi empat oleh alam."

Tiba-tiba, Surya teringat nama kecil Tumenggung R. Joko Kaiman, yaitu Adipati Mrapat (yang berarti membagi empat). Ia merasa seluruh alam seolah berkonspirasi membisikkan sebuah jawaban.

Surya berlari kembali ke Kejawar. Ketika ia sampai, ia langsung menghadap Tumenggung dan menceritakan temuannya.

"Tumenggung, saya menemukan tempat yang sempurna! Tanah lapang dengan empat beringin yang tumbuh rapat, dekat dari perlintasan dagang. Lokasi itu seolah-olah menanti kehadiran kita," kata Surya dengan napas terengah-engah.

Tumenggung R. Joko Kaiman terdiam. Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya berlayar jauh. Empat beringin, Adipati Mrapat... sebuah simbol yang kuat.

"Di mana lokasi itu, Surya?" tanya Tumenggung dengan suara bergetar.

"Di daerah yang banyak penduduk menyebutnya Banyumas... Banyu yang berarti air, dan Emas yang berarti kebaikan/kemakmuran. Air kemakmuran, Tumenggung!"

Tumenggung R. Joko Kaiman, didampingi Surya dan beberapa penggawa, pergi ke lokasi tersebut. Ia langsung merasakan kedamaian yang memeluknya. Setelah bermusyawarah dengan para tetua, keputusan bulat diambil: pusat pemerintahan dipindahkan ke sana.

Pembangunan dimulai. Rakyat bergotong-royong. Batang-batang kayu diangkut, atap-atap dianyam. Namun, konflik baru muncul. Ki Gede dan beberapa pengikutnya menolak keras.

"Ini penghinaan pada roh leluhur! Kalian mengkhianati Kejawar! Tanah ini akan menuntut pertanggungjawaban!" seru Ki Gede penuh amarah.

Ia menyebarkan rumor bahwa Banyumas akan segera ditimpa musibah, bahwa pohon beringin itu adalah sarang makhluk halus. Rakyat mulai ragu. Bayang-bayang ketakutan kembali menyelimuti semangat gotong royong. Bahkan, beberapa pekerja berhenti.

Surya, yang melihat semangat rakyat luntur seperti cat yang terkelupas, merasa sedih. Ia tahu, ketakutan lebih cepat menyebar daripada kebenaran.

Malam itu, Surya memberanikan diri menemui Ki Gede. Ia tidak berdebat, melainkan membawa sebuah gulungan tua yang ia temukan di perpustakaan ayahnya. Gulungan itu berisi catatan sejarah rahasia.

"Ki Gede, bacalah ini," pinta Surya. "Di sini tertulis, leluhur kita dahulu sengaja membuat pusat pemerintahan di Kejawar sebagai benteng sementara. Lokasi sejatinya yang dijanjikan justru mengarah ke tempat yang tinggi, di mana ada simbol pembagian empat kemakmuran, jauh dari Serayu. Tumenggung tidak melanggar janji, ia justru menunaikan warisan yang terlupakan."

Ki Gede membaca gulungan itu. Matanya melotot membaca baris demi baris. Wajahnya yang semula keras, kini meleleh menjadi penyesalan. Ternyata, selama ini, ia hanya mewarisi separuh kebenaran.

Keesokan harinya, Ki Gede datang ke hadapan Tumenggung. Ia berlutut. "Ampun, Tumenggung. Hamba telah tersesat dalam keraguan. Hamba akan membantu membongkar Kejawar dan membangun Banyumas!"

Keputusan Ki Gede bagaikan suntikan semangat bagi rakyat. Mereka yang semula ragu, kini kembali bekerja dengan api di dada. Kejawar dibongkar, tidak untuk dihancurkan, tetapi untuk dipindahkan batu demi batu, kenangan demi kenangan, ke tempat baru.

Pada tanggal 6 April 1582, dengan upacara sederhana namun penuh khidmat, pusat pemerintahan baru itu diresmikan. Tumenggung R. Joko Kaiman, atau yang lebih dikenal sebagai Adipati Mrapat, memimpin upacara. Ia membagi wilayah itu menjadi empat kadipaten (yang kemudian menyatu kembali), sebuah simbol pemenuhan janji leluhur.

"Mulai hari ini, tempat ini resmi menjadi Banyumas," seru Tumenggung memproklamasikan. "Semoga ia menjadi tanah yang sejuk bagi kita semua, tempat air dan kemakmuran bersatu."

Surya berdiri di barisan terdepan, hatinya dipenuhi kebanggaan. Ia bukan hanya menyaksikan sejarah, tetapi menjadi bagian dari benang merah yang merajutnya. Ia adalah saksi bisu, bagaimana seorang pemimpin harus berani mengubur masa lalu yang usang demi mewujudkan masa depan yang gemilang. Angin perubahan itu telah bertiup, membawa aroma harapan dan kemakmuran di Bumi Banyumas.


Latar Belakang:

Kabupaten Banyumas berdiri pada tahun 1582, pada tanggal 6 April 1582 atau bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 990 Hijriyah. Awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas berawal dari peristiwa terpecahnya Kadipaten Wirasaba menjadi empat wilayah di bawah pimpinan R. Joko Kaiman yang kemudian dijuluki "Adipati Mrapat". Wilayah-wilayah tersebut adalah Banjar Pertambakan, Merden, Wirasaba, dan Kejawar. Pusat pemerintahan kemudian didirikan di Kejawar yang kemudian menjadi nama Kabupaten Banyumas.

More Posts