Batu Pemberat

Meski hanya sebuah benda mati, mereka selalu menjadi saksi dari segala hal yang dilakukan makhluk hidup.

2023-11-21 11:57:54 - Adila



Hari Minggu di pekan ini terasa sunyi. Kemarin, 30 Januari, temanku beserta keluarganya memutuskan untuk pindah dari Aceh ke Depok. Aku tidak tahu alasan sebenarnya di balik perpindahan mereka. Ayah temanku sebelumnya adalah seorang tentara yang telah pensiun, pensiun dini, beberapa bulan yang lalu. Temanku mengatakan bahwa mereka pindah karena "Aceh sepertinya tidak aman." Namun, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lebih baik aku fokus pada tugas sekolahku karena besok aku harus pergi ke sekolah.

Itu hal tidak penting, aku tak perlu memikirkannya. Besok aku sekolah, lebih baik mengerjakan tugas. Akhir-akhir ini, aku sering ditinggalkan sendirian di rumah. Orang tuaku dan kakakku sering pergi menghadiri acara yang ramai. Namun, aku tidak diizinkan untuk ikut karena aku masih berusia 10 tahun.

***


Aku bernyanyi dengan girang saat dalam perjalanan pulang. Sekolahku tidak terlalu jauh, jadi aku terbiasa berjalan kaki. Ternyata, malam ini keluargaku akan makan malam bersama, dan ibuku juga telah memasak makanan dalam jumlah yang cukup besar untuk kami.

Saat makan malam, aku kaget melihat kakakku hadir. Setelah makan, kami duduk berbincang-bincang. Kakakku memberi tahu bahwa besok akan ada acara dakwah di Desa Matang Ulim, dan dia akan berangkat dari pagi untuk membantu persiapan. Orang tuaku dan aku juga diajak untuk ikut dalam acara tersebut.

***


Selasa, sekolah seperti biasanya, tetapi aku tak langsung pulang setelah shalat dzuhur berjamaah di sekolah. Ada tugas kelompok, membuat 99 Asmaul Husna di sebuah karton. Kami mengerjakannya di rumah Ria, rumahnya persis di samping sekolah. 

“Zai, kamu ikut kan nanti malam?” Ucap Oi.

 “Retoris, “ balasku. 

“Aku tidak bisa ikut, jadi nanti kalau kalian mengantuk, ke rumahku saja ya, temani aku” Ria terlihat sedikit sedih.

 “Pasti! Lagipula, jarak tempatnya ke rumahmu lebih dekat daripada rumah kami” Oi mengatakannya sambil memberikan senyuman lebar. 

Aku pun berkata “Jangan lupa sediakan makanan ya, Ri!”. 

Ria asli Jakarta, jadi kami menggunakan bahasa Indonesia ketika mengobrol.

Aku Pulang jam empat sore dan segera mandi. Kami berniat untuk berangkat sekitar jam setengah tujuh malam. Kupakai salah satu gamis kesukaanku. Gamis dengan warna navy di sisi kiri, namun berwarna biru denim di sisi kanan yang dipisahkan kancing seperti kemeja di bagian tengah depan. Memiliki dua saku berukuran cukup besar di bagian depan yang tak tertutup meskipun aku mengenakan hijab. 

Sebelum mengerjakan shalat maghrib, kami mendapat kabar bahwa ada pasukan ABRI yang datang ke tempat itu, tiba-tiba, menghancurkan beberapa properti. Mereka juga melukai beberapa orang di sana dan melarang acara ini dilaksanakan. Setelah itu, mereka pergi begitu saja. Perasaanku seketika mengganjal, namun aku tetap berharap tidak terjadi hal buruk apapun. Untungnya, Kakakku baik-baik saja. Warga tetap melanjutkan persiapan, tidak membatalkan acaranya, mengingat banyak orang yang telah diundang. Meski begitu, ibuku sempat khawatir dan memintaku untuk tidak ikut. Karena aku ingat janjiku dengan Ria, aku menggunakan alasan ini untuk tetap ikut. Ibuku setuju, namun dengan syarat, jam 10 malam aku sudah pulang, ke rumah Ria dari acara itu.

***


Malam itu, kami bersiap-siap untuk berangkat. Aku memilih untuk ikut bersama kakakku ke acara dakwah tersebut. Kami berangkat dengan satu motor, aku merasa kagum karena begitu banyak orang berkumpul di sana. Tak lama, terdengar seseorang memanggilku, itu Oi, yang sudah tiba lebih awal. Dia menghampiriku kemudian bercerita tentang kejadian cemas yang terjadi pada sore hari. 

“Kamu tidak akan percaya, tadi keadaan sempat menegangkan, sudah dengar kabarnya belum?”

 “ABRI yang tiba-tiba datang?” Aku bertanya seolah tidak percaya.

“Yap, aku sedang di kamar mandi saat itu, aku tidak berani keluar, jadi aku tetap di dalam, kurang lebih 30 menit,” Oi terlihat mengira-mengira.

“Berarti kamu tidak tahu apa-apa yang terjadi? Hanya mengetahui kabar dari orang-orang yang ada di sana?”

 “Ya, aku sempat disuruh pulang, katanya takut sesuatu terjadi….”

“Ya sudahlah, semoga acara ini lancar hingga selesai.” 

Kakakku datang mendekat, “Kamu jadi ikut?”

 “Masa aku di rumah mulu…” 

 “Karena aku juga ikut, memangnya kenapa kak Maru?” Oi langsung bertanya. 

“Tidak ada apa-apa, hanya ingin memastikan agar kalian tidak perlu takut mengenai kejadian sebelumnya, kalian akan aman.” 

“OK, berarti tidak ada masalah kan?, aku akan duduk di sebelah sana”Aku menunjuk  tempat yang kumaksud.

Semakin lama, semakin banyak orang yang datang. Ini masih pukul 19.15 WIB. Acara akan dimulai pukul 20.30 WIB. Sekitar 7.000 orang berkumpul disini. Kami berjalan sisi ujung tempat para penonton. Aku tetap berada di dekat orang tuaku dan keluarga Oi.

“Dakwah Aceh Merdeka” ialah judul dari kegiatan ini. Tepatnya, sejarah perjuangan Aceh dan acara dakwah biasalah yang dilakukan. Mungkin, aku terlalu kecil untuk memahami keseluruhan hal yang dibahas. Banyak hal yang kurang kupahami. Aku lebih banyak mengobrol dengan Oi, bukan mendengarkan dakwahnya. 

Tak ada hal aneh hingga saat ini. Tiba-tiba kuingat hal ini, tentang kejadian sebelumnya. Tidak bisa kubohongi diriku sendiri. Aku khawatir. Setiap 5 menit sekali, kuperhatikan dari ujung satu hingga ke ujung lainnya untuk memastikan keadaan. Ibuku hingga bertanya, 

“Apa yang kamu cari, Dik?”

“Siapa tau ada yang menjual makanan aneh, aku ingin mencobanya” Meskipun sebenarnya bukan itu yang kumaksud, aku hanya tak ingin membuat ibuku ikut khawatir. 

Baru jam 10, aku sudah menguap dan hampir tertidur beberapa kali. Begitupun Oi. Seketika, aku ingat janjiku dengan Ria, kuajak Oi untuk segera berangkat ke rumah Ria. Setelah memberitahu orang tuaku dan keluarga Oi, kami berjalan berdua, sekitar 5 menit. Kami membeli roti di toko yang kami lewati, toko itu sebenarnya hampir tutup. Roti yang kami beli adalah cinnamon roll kesukaan Ria.

Begitu masuk rumah Ria, ia langsung menyambut kami. Ternyata ia menunggu kami di ruang tamu. Ia sangat senang dengan cinnamon roll yang kami bawa. 

“Aku kira, kalian tidak jadi ke sini…”

 “Oi hampir tidur di sana, jadi lebih baik kubawa saja ke sini”

 “Kamu juga kan?” sahut Oi. 

“Ya, ya, yang penting, kalian sudah ke sini, terima kasih.” Ria tersenyum kepada kami.

Sesuai janji, Ria sudah menyiapkan banyak sekali makanan, manis, asin, maupun pedas. Ria mengajak kami untuk menonton film. Sebelum itu, kami memasak popcorn terlebih dahulu. Rasanya, lebih baik jika aku ke sini saja langsung, tidak perlu ke acara itu. Kami bersenang-senang hingga melupakan kantuk yang sebelumnya dirasakan. ‘Pesta piyama’, Oi menggunakan istilah itu agar apa yang kami lakukan terlihat keren.

Kedua orang tua Ria adalah dokter, mereka mendapat jadwal jaga malam kali ini. Aku dan Oi memakai piyama milik Ria. Film yang kami tonton ialah The Prince of Egypt. Kami sudah tertidur sebelum film itu selesai. Untungnya, di rumah Ria ada seorang pembantu, ia mengarahkan kami untuk tidur di kamar dan ia membereskan hasil yang kami lakukan tadi.

***


Aku bangun pukul 5.17 WIB, kemudian mengambil wudhu, membaca Al-Qur’an dan salat subuh bersama Oi, Ria, dan pembantunya. Ketika kulihat wajah pembantu Ria, ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Tapi, ia tidak berbicara tentang apapun. Kusimpulkan kalau itu hanyalah perasaanku. Kami kemudian sarapan bersama.

Ibu Oi, tak lama datang setelah kami selesai sarapan. Ia langsung menghampiriku, mendekapku, meminta maaf, dan menangis. Kami bertiga bingung, tidak tahu apa yang terjadi. 

“Kami tidak bertemu dengan orang tuamu maupun kakakmu sejak kejadian malam tadi”, kata Ibu Oi, setelah berusaha menenangkan diri. Kemudian, ia menjelaskan apa yang terjadi kepada kami, meskipun sesekali terhenti karena tangisannya. Kini aku paham, sebenarnya inilah yang membuat pembantu Ria ragu untuk menyampaikannya.

Pukul 24.00 WIB, acara dakwah berakhir, semua orang pulang. Ada yang berjalan kaki, menggunakan motor, dan menaiki mobil bak terbuka. Karena ada yang melempari batu kepada orang-orang yang pulang dari acara ini, juga banyak kendaraan yang diberhentikan anggota Koramil, mereka berkumpul di Simpang Kuala Idi Cut, dekat markas Koramil. Karena situasi mulai kacau, anggota ABRI (TNI dan Brimob) membubarkannya dengan menembakkan senjata api berpeluru tajam. 

Terjadilah kegaduhan. Masyarakat berlarian ke sana-ke mari untuk menyelamatkan diri. Ada yang tertembak kemudian terjatuh, ada yang masih bisa berlari. Darah berceceran di mana-mana. Tidak ada yang mengetahui berapa banyak korban di lokasi. Sebagian dari masyarakat maupun korban, ditangkap aparat. Orang tua Oi, memilih untuk melalui jalan yang berbeda dengan yang lainnya, kemudian mereka mampir ke sebuah masjid, dan sempat tidur sebentar di sana. Mereka terbangunkan oleh suara gaduh itu. Tapi karena ibu Oi ketakutan, mereka tidak pergi ke sana. Yang menyebabkan sebuah rasa bersalah atas hilangnya keluargaku.

Ada yang mengatakan bahwa salah satu TNI berkata,  “Kamu yang membunuh tentara, habis semua. Kamu potong leher. Kamu campak ke sungai.” Hingga saat ini, belum ada yang mengetahui maksud kalimat ini. Masyarakat bubar tak beraturan. Ibu Oi khawatir mengenai apa yang terjadi pada orang tuaku. Mereka belum terlihat sama sekali setelah kejadian ini. Salah satu korban yang meninggal sudah ditemukan dan dibawa ke kediaman keluarganya pada pukul 3 pagi tadi.

Aku yakin, keluargaku masih hidup, hanya saja entah di mana mereka sekarang. Harapan masih ada. Aku menangkan ibu Oi, dan meyakinkannya akan hal ini. Serta kukatakan bahwa ia tak perlu meminta maaf ataupun merasa bersalah, semua ini telah diatur oleh Allah SWT. 

Karena ini hari Rabu, sekolah tidaklah libur. Kami bertiga bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ria memintaku untuk tinggal di rumahnya sementara, hingga aku bertemu keluargaku. Aku menyetujuinya karena, hanya itu yang kurasa akan membuatku tidak merasa kesepian.

Saat pulang sekolah aku mendengar kabar bahwa banyak orang yang sedang berkumpul di sekitar jembatan Arakundo. Karena penasaran, kami bertiga, Ria, Oi, dan aku pergi ke sana. Kata orang-orang, tadi pagi, sekitar jam setengah delapan, ada warga yang melihat darah berlumuran di jembatan ini. Warga berasumsi bahwa korban dibuang ke sungai ini. Pencarian jasad korban pun dilakukan dari tadi pagi. Aku tiba-tiba merasa takut. Oi sepertinya mengetahui apa yang kurasakan, tak lama, ia mengajak kami untuk segera pulang ke rumah dari tempat ini. 

***


Malam ini, pukul 9, warga menemukan jasad seorang korban, di tubuhnya terdapat banyak luka tembak. Esoknya, sekitar pukul 10, ditemukan lagi korban lainnya sekitar 5 meter dari jembatan ini. Katanya, jasad pemuda ini ditemukan dalam kondisi patah-patah dan berlubang. Sebelumnya, ada korban yang ditemukan mengapung di sungai Arakundo, berjarak 10 km dari jembatan. Setelah mendengar hal ini, aku berusaha berpikir jernih. Tidak, hal itu tak mungkin terjadi pada keluargaku. Walaupun sebenarnya, hal ini terus menggangguku.

Hari ini, hari Jumat, aku merasa lemas. Ria menyarankanku untuk beristirahat saja. Jadi, aku tidak berangkat ke sekolah. Aku bingung, apa yang terjadi padaku. Aku mulai menanyakan, apa yang aku lakukan di sini. Tak kusadari, air mata mulai membasahi wajahku. Aku jarang menangis, aku bahkan lupa, kapan terakhir kali aku menangis. Aku berusaha untuk menangis tanpa bersuara. Aku tidak mau pembantu Ria mengetahuinya.

Tiba-tiba, ada seseorang yang masuk ke rumah Ria, dengan terburu-buru. Kemudian, orang itu memanggilku. Entah apa yang aku pikirkan, aku berlari menemui orang itu. Ia memelukku, menangis, menyuruhku untuk bersabar. Ia menyampaikan hal mengenai apa yang terjadi dengan kakakku, Kak Maru. 

Kak Maru ditemukan di Desa Teupin Gajah yang sudah mendekati Kuala Malehan, dalam keadaan mengapung, dengan beberapa luka tembak. Seketika kakiku lemas. Tapi aku tidak bisa menangis. Aku meminta diantar bertemu dengan kakakku. Aku ingin melihatnya, bagaimana kondisi di akhir hayatnya, ingin mengikuti proses pemakamannya. Kupaksa diriku untuk tetap kuat. Jangan sampai orang-orang di sekitarku khawatir denganku.

Ketika sampai, dan melihat jasad kakakku, rasa sesak memenuhi dadaku. Kutundukkan kepalaku. Aku memastikan identitasnya. Kemudian kami segera memakamkannya. Yang bisa kulakukan hanyalah mendoakannya. Ini sudah terjadi, tak bisa kuubah. Allah tahu aku bisa melaluinya. Aku terus meyakinkan diriku sendiri.

***


Setelah satu minggu, kabar mengenai orang tuaku tak kunjung datang. Aku ditinggal sendirian. Aku, tak tahu, apa yang harus kulakukan. Hampa, sedih, bingung, marah, bercampur dalam diriku. Aku masih berada di rumah Ria, tidak pula berangkat ke sekolah sejak Jumat itu. Oi dan Ria selalu berusaha menghiburku. Tapi, hal yang kurasakan tetaplah sama. Aku sedikit merasa bersalah kepada mereka. Karena aku tak pernah terhibur.

Tanggal 15, sahabatku, yang baru saja pindah ke Depok, datang ke sini bersama keluarganya. Nama sahabatku ini Arissa. Ia dan keluarganya berbela sungkawa atas apa yang terjadi. Aku sedikit senang atas kedatangan mereka. Jauh-jauh dari Aceh pindah ke Depok, kemudian ke Aceh lagi untuk menemuiku. Arissa mengajakku untuk ikut bersamanya tinggal di Depok. Pada awalnya aku bingung, tapi Ria dan Oi mengatakan bahwa keputusan ada di tanganku. Apapun yang kupilih, mereka tidak akan keberatan selama aku dapat merasa lebih baik.

Aku tidak enak dengan keluarga Ria yang telah kurepotkan selama ini. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba meninggalkan mereka. Merekalah yang menjagaku semenjak kejadian itu. Lalu, mana yang harus kupilih? Karena ibu Oi memperhatikanku selalu, ia menyuruhku untuk ikut dengan Arissa. Karena menurutnya, aku akan lebih bahagia di sana dan ketika Arissa datang aku terlihat senang. 

“Melihatmu senang saja sudah cukup menjadi ucapan terima kasih untuk kami.” ucap ibu Oi.

Kuputuskan untuk ikut bersama Arissa, tinggal di Depok. Kesedihanku teralihkan. Aku bersekolah di sekolah yang sama dengan Arissa. Keluarganya sangatlah baik. Aku diperlakukan seperti anak mereka sendiri, bagian dari keluarga ini. Aku juga tidak pernah merasa kurang dalam hal materi, mereka adalah keluarga berada. Berkat mereka, aku bisa melanjutkan kehidupanku layaknya anak lainnya. Walaupun aku tetap tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi.

***


Kini, umurku sudah mencapai 20 tahun. Aku sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah, jurusan Hukum. Sembari kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk mengumpulkan informasi tentang Kejadian Arakundo itu. Karena, kasus ini masih belum jelas bagaimana akhirnya. Terkadang, ada orang-orang yang memperingatkanku dan memintaku untuk berhati-hati. Dulu, ada jurnalis yang ditangkap tiba-tiba, ketika menyelidiki kasus ini.

Peristiwa ini diduga terjadi karena pembalasan dendam ABRI terhadap pembunuhan beberapa anggotanya di Lhok Nibong 1998 oleh sekelompok orang tak dikenal. Hal ini mengingatkanku dengan kalimat “Kamu yang membunuh tentara, habis semua. Kamu potong leher. Kamu campak ke sungai.” Warga sekitar sungai Arakundo mendengar deru mesin kendaraan masuk ke kawasan jembatan lama Arakundo. Tidak lama kemudian, truk yang tidak dikenal identitas itu kembali lagi ke arah Idi Cut. Pada hari Rabu sekitar pukul 2.30 WIB. Arakundo terletak sekitar 23 km sebelah barat Idi Cut. 

Banyak saksi mata melihat tiga truk militer yang mengangkut korban penembakan bergerak menuju jembatan Sungai Arakundo. Sebelum diangkut ke truk, para korban diikat terlebih dahulu dengan kawat di sekujur tubuhnya, kemudian dimasukkan ke karung goni milik masing-masing tentara yang masih bertuliskan nama pelaku beserta pangkatnya, contohnya "Sertu Iskandar". Batu besar diikatkan di setiap karung sebagai pemberat, lalu karung tersebut dilemparkan ke Sungai Arakundo. Seorang saksi mata lain mengatakan bahwa ceceran darah di sekitar jembatan Arakundo berusaha ditutup-tutupi dengan pasir oleh tentara. Pasir tersebut adalah hasil penambangan penduduk sekitar sungai yang biasa ditumpuk di dekat jembatan.

Total korban tewas berjumlah 7 orang. Acara ini diduga sebagai bagian dari Gerakan Aceh Merdeka, sehingga sulit untuk dicari kebenarannya. Puluhan warga sipil terluka akibat insiden ini. 58 orang ditangkap dan kabarnya disiksa saat ditahan di penjara. Mereka semua dilepaskan tanggal 5 Februari. Tiga orang yang dituduh sebagai penceramah dalam kegiatan di Simpang Kuala sekaligus anggota GAM ditangkap aparat keamanan dan diadili. Pascainsiden ini, 13 orang dilaporkan hilang dan tidak pernah ditemukan lagi.

Kuharap, kasus ini dapat selesai dengan jelas. Hingga, keluarga-keluarga korban sepertiku merasa lega. Sempat terlintas di kepalakuu, bagaimana jika keluarga-keluarga korban malah menjadi pemberontak dengan kata lain, menjadi teroris yang sesungguhnya?


TAMAT -


Sungai Arakundoe pun diduga masih mendekap banyak mayat korban.

Siapa yang bersalah atau tidak salah juga belum jelas.

Tapi, memang ada tujuh jenazah yang sudah dikuburkan.

Ada 56 orang yang sempat masuk sel polisi.

Ada pula warga yang cemas mencari-cari anggota keluarga yang tak pulang seusai berkunjung ke "Dakwah Aceh Merdeka" itu.

-Asip berita Harian Serambi Indonesia edisi Jumat 6 Februari 1999


Cerita ini hanya karangan fiksi sang penulis, namun sebagian peristiwa memang nyata. Kejadian ini disebut “TRAGEDI ARAKUNDO”, yang terjadi di Aceh. Maru, namanya diambil dari salah satu korban kejadian ini, Kamaruddin Ibrahim (20) Desa Matang Neuheun Bagok. Semoga amal dan ibadah para korban di terima di sisi Allah SWT, Aamiin. 

Sumber utama: Tribunnews Aceh  Wikipedia


More Posts