Berawal Dingin, Berakhir Panas

Cerpen tentang keserakahan untuk air dan akibatnya

Oct 27, 2026 - Samudra Annabhani 🙃👍

Pada suatu hari, sebuah desa di dekat Kota Lubuklinggau diancam sebuah tawaran. Pihak-pihak daerah sekitar telah membuat perjanjian untuk membuat sebuah Pusat Data AI di dekat desa tersebut. Pusat Data AI tersebut tidak memakan banyak lahan, tidak seperti lahan sawit tetapi memakan sangat banyak air. Sejak adanya Pusat Data AI tersebut, penduduk Desa Musi Rawas telah mengalami beberapa krisis air. Satu RT mungkin mendapatkan 2 ember air, setiap minggu.

Karena ini, penduduk Desa Musi Rawas mulai gagal panen, karena sumber air dialihkan ke Pusat Data AI untuk mendinginkan fasilitas tersebut. Pemerintah setempat menjanjikan air gratis bagi warga, tetapi kapan datangnya atau apakah memang akan datang sangat tidak diketahui. Beberapa bulan kemudian, air sumur mulai kekeringan dan sungai yang dulunya airnya sangat melimpah sekarang hanya sebesar kali kecil. Dulunya ikan melimpah, sekarang dapat ikan kecil sudah bersyukur satu desa.

Dampak Pusat Data tersebut sangat besar terhadap para penduduk desa. Bantuan air nya datang entah kapan, stok beras sudah mendekati 0 dan semangat warga berkurang, secara drastis. Tetapi, sebuah warga desa bertindak, bernama Putri Lisa. Lisa adalah ibu rumah tangga berumur 34 tahun, muda iya tetapi tidak terlalu muda untuk berpikir secara kritis untuk kesejahteraan desa.

Lisa memberi pesan ke Pak Camat desa mereka. Pak Camat diberikan surat tersebut secara langsung berhadapan dengan Lisa di rumahnya di Bengkulu. Pak Camat terasa khawatir dan memberikan surat tersebut dalam bentuk surel ke Pihak dari Pusat Data AI. Pihak dari Pusat Data AI tersebut terus membayarkan duit segepok, sebesar Rp. 40.000.000. ke Pak Camat untuk mengabaikan surat tersebut dan lanjutkan urusan lain.

Pak Camat, setelah lama dibujuk dengan tawaran berbeda-beda, akhirnya mengabaikan surat tersebut, menyimpan suratnya di drawer kamar istrinya. Lisa menunggu, dan menunggu. sudah 5 bulan berlalu, semua sumur di desa, habis kekeringan. Sungai sudah menjadi kolam lumpur, cocok dipakai untuk babi. Desa-desa lain sudah juga dimulai airnya dikuras. Sedangkan Pusat Data AI? Tetap beroperasi, tanpa kerusakan, tanpa overheating, semuanya sempurna*!

Para petani mulai menanam semangka dan timun di kebun mereka, karena mereka mengandung banyak air. Bahkan, mereka mulai membuat sebuah kultivar semangka yang cepat tumbuh, banyak biji, tumbuh besar dengan singkat serta mengandung lebih banyak air, yang disebut Semangka Rawas, karena desa asal mulanya. Desa sekitar yang airnya juga dikuras total menanam Semangka Rawas dan timun. Mungkin, desa-desa sekitar Lubuklinggau akan kembali manis lagi!

Untuk Pusat Data AI, semuanya menjadi pahit. Air yang mereka gunakan telah kuras total, dan menggunakan air dari Kota Lubuklinggau pasti akan membuat kemarahan rakyat. Server AI mereka mulai kepanasan dan beberapa gagal total. Dan sebagai akhir, Istri Pak Camat, yang sebenarnya teman Lisa menemukan suratnya Lisa di drawer dia, dan melaporkanya ke pemerintah pusat di Sumsel, yang segera bertindak. Akhirnya, Desa Musi Rawas kembali mengalir dengan air bersih dan Pusat Data AI tersebut akhirnya dibongkar dan dijadikan sebuah taman yang gratis, untuk semua.

Drama Pusat Data Ai dan Semangka di sana sudah selesai, tetapi tidak di daerah lain. Untuk membantu, Pemerintah Sumsel mendistribusikan biji Semangka Rawas ke daerah minim air dan luar negeri yang bersengsara karena dehidrasi dan kekeringan, akibat Pusat Data AI ataupun hal lain seperti korupsi dan fasilitas kurang layak. Kini, sebuah warga desa yang membantu merencanakan membuat Semangka Rawas bernama Ali Kuto mendapatkan Penghargaan Nobel karena membantu mengatasi kekeingan dengan cara kreatif.

MORAL: Jangan menggunakan hak orang lain tanpa persetujuan yang jelas, dan keterbatasan justru membuat orang menjadi yang paling kreatif di antara semuanya.


Made by Samudra with 🩵🚰🌊

More Posts