cerita siapa? cerita della (tugas b.indo)
Dari Senggol Jadi Rangkul
Perkenalan
Semburat cahaya matahari menyinari sebuah pedesaan asri. Pemandangan gunung dan bukit yang terlihat bagaikan saudara yang saling memeluk, sawah hijau dan padi yang subur ikut menghiasi indahnya desa itu. Desa indah itu bernama Desa Kirana.
Desa yang indah pasti juga memiliki seseorang yang indah. Di Desa Kirana terdapat gadis yang bernama Sekar Arum Lestari, atau yang biasanya lebih dikenal sebagai Sekar. Kini umurnya sudah 19 tahun, di umurnya yang baru menginjak 19 tahun Arum sudah mendapat gelar “kembang desa.” Dari gelarnya saja kita pasti sudah bisa membayangkan betapa cantiknya Sekar. Mata jernih, rambut hitam halus berkilau bagaikan sutra, kulit putih bersih, senyum manis bak gula. Hampir seluruh warga desa menyukai Sekar, bukan hanya karena penampilan Sekar tetapi juga karena keramahan dan kebaikan hati Sekar.
Di desa tersebut juga tinggal seorang gadis bernama Kedasih Wulan. Wulan jugalah wanita yang berparas cantik, kulit sawo matang, hidung mancung, mata indah, dagu tirus, berumur 20 tahun. Tapi mengapa Wulan tak mendapat gelar ‘kembang desa’? Wulan tak mendapat gelar tersebut karena wataknya yang buruk, ia sering memamerkan kecantikannya dan merendahkan orang lain, ia juga sering membandingkan dirinya dengan orang-orang yang tak lebih dari dirinya. Banyak warga yang tak suka pada dirinya, beberapa orang juga membandingkan Sekar dengan Wulan seperti malaikat dan iblis.
Kesombongan Wulan
Pada pagi yang cerah, semua warga desa sudah menjalani kesibukan aktivitasnya masing-masing. Wulan masih sibuk bergulat dengan skincare dan makeupnya, entah sudah dari berapa jam yang lalu Wulan terduduk di depan cerminnya. Saat Wulan merasa riasannya sudah terlihat bagus ia langsung bergegas keluar rumah untuk menunjukan dan memamerkan kecantikannya, Wulan melihat Sekar yang sedang mengobrol santai dengan beberapa warga desa membuat dirinya merasa tempat yang seharusnya miliknya diambil alih oleh Sekar. Wulan menghampiri Sekar dan beberapa warga desa itu, “hei udah pada ngumpul aja nih, kok aku ga di ajak sih?” ucap wulan yang tiba-tiba nyempil di antara warga yang sedang berkumpul yang membuat Sekar sedikit terdorong ke belakang. “Eh hai Wulan, iya nih kita udah kumpul.” balas Sekar yang sedikit kaget, beberapa warga memasang wajah tak senang akan kehadiran Wulan. Wulan juga nampak tak senang karna yang membalas sapaannya adalah Sekar, “Eh ada Sekar, duh Sekar muka mu kok kayak dekil banget? Gak Pernah makeup? Atau gak bisa makeup?” Sindir Wulan kepada Sekar di iringi dengan tawa kecil. “Ah iya kah? Aku lagi ga makeup aja soalnya kan cuman mau ngobrol-ngobrol santai aja. Omong-omong makeup kamu bagus Wulan, cocok di kamu.” Jawab Sekar canggung tapi juga diikuti dengan pujian untuk Wulan, Wulan merasa jawaban yang diberikan oleh Sekar seperti sedang memainkan trik ‘merendah untuk meroket’. “Emang, aku pake makeup jenis apa aja juga tetep cakep kali. Aku heran deh sama warga-warga disini, kok bisa yang jadi kembang desa malah wanita dekil kayak gini. Padahal ada yang lebih cantik di sini.” Jawab Wulan untuk meremehkan gelar yang para warga kasih kepada Sekar.