Dari Senggol Jadi Rangkul
part 2 yh
Warga Yang Kesal
Warga yang kesal karena kedatangan Wulan yang merusak suasana, terlebih lagi Wulan juga terus menyombongkan dirinya yang membuat para warga risih. “Duh neng, mau gelar kembang desa jatuh ke tanganmu? Bangun neng udah siang loh ini. Neng emang cantik sih tapi wataknya aduh duh, bikin semua orang garuk kepala tau ga neng.” Balas salah satu warga yang bernama Sri atau di panggil Ibu Sri, balasan itu mendapat sorak dukungan dari para warga yang sebenarnya sangat kesal akan kedatangan Wulan. “Eh gak boleh gitu Ibu Sri, mau gimanapun juga gelar kembang desa gak boleh terlalu di bangga-banggakan,” jawab Sekar yang berusaha menengahi keributan yang sedang terjadi ditempat itu. “Sekar kamu muka dua banget sih, bilang aja kamu lagi kesenengan karena dibela warga-warga pemujamu ini? Gausah sok-sokan jadi pahlawan kesiangan gitu deh, geli aku dengernya.” Jawab Wulan dengan nada ketus, tindakan si Wulan memancing kembali emosi para warga yang sempat mereda. “Eh nduk, ora kabeh wong iki diukur dirine saka raine. Nduk koe ki ayu loh, sayange ae koe ndue sikap sing elek nduk, jal kowe perbaiki sek sikapmu. Sebagian warga wis podo resah loh karo sikape koe nduk.” Ucap salah satu sepuh di desa tersebut. “Duh apa lagi sih ini, banyak banget kayaknya pemujamu ya Kar, duh apasih yang spesial dari kamu Kar? Kalau dibilang cantik juga masih cantikan aku jauh di atasmu, tapi warga-warga desa ini gatau sudah kamu cuci otaknya atau gimana ya Kar, sampai mereka bisa jadi sefanatik ini sama kamu. Udah ah capek aku lama-lama nanggepin kalian semua.” balas Wulan yang muak menghadapi warga desa yang tak ada yang membela pihaknya, Wulan memutuskan untuk pergi dari kumpulan warga itu.
Aduan Warga Sekitar
Pada suatu pagi, Pak arif yang adalah bapak kandung dari Kedasih Wulan, mendengar ketukan di pintu rumahnya, Pak Arif membukakan pintu dan ternyata seseorang yang ada di balik pintu adalah beberapa kumpulan warga. “Loh pak ada apa ini kok ramai-ramai di depan rumah saya?” tanya Pak Arif yang masih terheran-heran akan kedatangan beberapa warga, “Gini loh pak, kita itu sudah cukup resah sama perlakuan dan perkataan anak bapak. Sepuh desa yang kita hormati aja berani dilawan sama Wulan pak.” Sebenarnya tak jarang Pak Arif didatangi warga yang mengeluh perihal perilaku sang anak, dititik ini Pak arif benar-benar sudah kewalahan dan akan mengambil keputusan terakhir. “Tenang bapak ibu, kali ini saya akan mengambil keputusan terakhir, meski berat untuk saya tapi saya sadar jika anak saya terus di biarkan itu juga tidak baik. Jadi bapak ibu bisa kembali dulu ke rumah biar anak saya menjadi tanggung jawab saya.” Walau warga masih merasa sedikit bingung akan keputusan yang akan diambil oleh Pak Arif warga memilih untuk pulang ke rumah masing-masing dan berharap keputusan yang diambil bisa benar-benar mengubah sifat Wulan.