Garis Demarkasi Rasa: Menakar "Batas Roso" agar Tidak Kebablasan dalam Hidup

Sering kali dalam menjalani hidup, saya mendapati diri saya tergelincir pada asumsi bahwa "lebih banyak itu lebih baik." Jika peduli itu baik, maka sangat peduli pasti lebih baik. Jika beribadah itu mulia, maka beribadah habis-habisan pasti jauh lebih mulia. Namun, dari perenungan dan pengalaman belakangan ini, saya menyadari sebuah ironi kehidupan: segala sesuatu yang melampaui batasnya justru akan merusak nilai kebaikan dari hal itu sendiri.

Oct 20, 2026 - R. Gatot Susilo

Dalam nilai-nilai kearifan yang saya pelajari, ada sebuah peringatan yang sangat kuat agar kita tidak kebablasan (melampaui batas), dan keharusan untuk selalu mengenali Batas Roso (batas kewajaran sebuah perasaan).

Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar petuah usang. Ini adalah sebuah rem darurat yang menyadarkan saya untuk menata ulang bagaimana saya merespons dunia, merawat orang-orang yang saya cintai, hingga bagaimana saya memposisikan diri di hadapan Sang Pencipta secara proporsional. Mari saya uraikan bagaimana saya memaknai batas-batas ini.

1. Jebakan Kebablasan: Saat Kebaikan Berubah Menjadi Racun

Pelajaran pertama yang paling menampar bagi saya adalah menyadari bahwa sikap kebablasan sering kali tidak berawal dari niat buruk. Ia justru lahir dan menyamar dalam bentuk niat-niat baik yang kehilangan kendali.

Saya pernah merasa sangat ingin membantu seseorang yang saya sayangi. Saking inginnya saya melihat ia terbebas dari kesulitan, saya mengambil alih semua urusan dan masalahnya. Tanpa sadar, saya kebablasan. Niat awal yang bernilai "merawat" berubah menjadi "merampas kemandirian" dan mematikan pertumbuhannya.

Saya belajar bahwa segala sifat mulia memiliki takarannya. Berani yang kebablasan akan menjadi nekat yang merusak. Hemat yang kebablasan akan menjadi pelit yang menyiksa diri. Dan cinta kepada manusia yang kebablasan—tanpa diikat oleh akal sehat—pasti akan berubah menjadi obsesi dan rasa posesif yang menyesakkan.

2. Mengenali Batas Roso: Meletakkan Perasaan pada Porsinya

Sebagai manusia, saya dianugerahi roso (batin/perasaan) yang peka. Roso inilah yang memampukan saya untuk berempati, jatuh cinta, dan merasakan keagungan spiritual. Namun, saya harus sadar penuh bahwa perasaan paling suci sekalipun mutlak memiliki Batas Roso.

Ketika saya mengizinkan perasaan mengambil alih kendali sepenuhnya tanpa diimbangi oleh kejernihan pikiran, saya akan kehilangan keseimbangan. Misalnya dalam mencintai pasangan atau sahabat. Jika saya mencintai tanpa Batas Roso, saya akan mulai menuntut kesempurnaan. Saya akan memaksakan ekspektasi agar ia membalas afeksi saya dengan cara dan takaran yang sama persis. Kekecewaan yang muncul nantinya, pada hakikatnya bukan karena orang tersebut jahat, melainkan karena saya gagal menjaga batas kewajaran batin saya sendiri.

Mengenali Batas Roso berarti saya berani bersikap tegas pada diri sendiri: "Cukup. Perasaan ini valid, rasa kecewa ini nyata, tapi ia tidak boleh mendikte seluruh perilakuku." Ini adalah garis demarkasi yang mencegah hawa nafsu menyusup masuk dengan kedok "perasaan yang mendalam."

3. Filosofi Sakmadyo: Seni Berjalan di Titik Keseimbangan

Penawar utama dari penyakit kebablasan ini adalah kemampuan untuk hidup sakmadyo, yang berarti "sewajarnya" atau "secukupnya". Saya meyakini bahwa sakmadyo bukanlah bentuk kemalasan, ketidakpedulian, atau cinta yang setengah hati. Sebaliknya, ini adalah level kebijaksanaan tertinggi.

Dalam konteks spiritual dan cinta kepada Allah, mencintai secara sakmadyo berarti saya beribadah secara seimbang. Saya mendekat kepada-Nya tanpa harus menelantarkan tanggung jawab saya di muka bumi—seperti bekerja, menafkahi keluarga, dan bersosialisasi. Tuhan Sang Pencipta pun secara tegas tidak menyukai segala hal yang melampaui batas. Cinta Ilahiah justru terejawantah dengan indah ketika hubungan dengan langit (ibadah) dan bumi (kemanusiaan) berjalan selaras.

Dalam konteks hubungan antarmanusia, mencintai secara sewajarnya berarti saya mencintainya hari ini, namun tetap menyisakan ruang logika jika esok ia berbuat salah. Begitu pun saat saya marah atau tidak suka pada sesuatu; saya menahan diri secukupnya, karena sangat mungkin apa yang saya benci hari ini justru membawa kebaikan esok hari.

Kesimpulan

Pada akhirnya, perjalanan untuk merawat ketenangan batin adalah perjuangan seumur hidup untuk menahan diri dari godaan kebablasan. Kedewasaan sejati yang ingin saya raih tidak lagi diukur dari seberapa ekstrem atau dramatis saya bisa merasakan sesuatu, melainkan dari seberapa terampil saya mengendalikan rasa itu agar tetap berada pada porsinya yang pas.

Dengan terus menyadari Batas Roso dan memegang erat prinsip sakmadyo, saya menemukan keteduhan batin yang jauh lebih kokoh. Sebuah ritme kehidupan di mana saya bisa merasakan kebahagiaan dan cinta secara utuh, namun tidak membiarkan satu emosi pun menghancurkan keutuhan akal sehat saya.

More Posts