God please help us get one more
Short story about spirit
I. A kid waiting red jersey
25 september 2026 merupakan hari yang di nanti-nantikan oleh semua penggemar sepak bola Indonesia, karena akan kembali menyaksikan sebuah tim yang dipenuhi ambisi dan impian akan kembali mempertunjukan sebuah perjuangan untuk mendapat sebuah berlian yang sudah lama hilang yaitu “Gelar juara”. Setelah sebuah perkiraan yang tak sesuai dengan ekspektasi pada piala AFF 2026 di mana timnas senior indonesia gagal melewati fase grup saat hanya mampu mengoleksi total 7 poin dari 4 pertandingan, dengan statistik 2 menang 1 kalah dan 1 imbang. Hasil ini pun tentunya mengecewakan banyak penggemar, tapi disisi lain para penggemar menyadari kalau timnas Indonesia belum full team, mata pun tertuju pada event selanjutnya yaitu “FIFA ASEAN CUP”. Karena turnamen ini berada di bawah Fifa, oleh karena itu setiap klub wajib melepas pemainnya untuk kembali ke tim nasional masing-masing, itu mengartikan timnas Indonesia akan full team pada turnamen ini, di sinilah para penggemar mulai memiliki harapan untuk melihat timnas Indonesia kembali mendapat gelar juara karena di atas kertas timnas kita unggul pada aspek apapun dibandingkan tim lain.
II. How it start
Pada turnamen kali ini timnas Indonesia ditempatkan pada grup A yang di isi tim-tim seperti Malaysia, Singapura, dan Bangladesh. Di pertandingan pertama timnas Indonesia akan melawan singapura pada tanggal 25 september 2026 di stadion Gelora Bung Karno, pertandingan tersebut pun berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Indonesia, gol kemenangan dicetak oleh Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny. Para penggemar pun optimis untuk menatap laga selanjutnya melawan rival bebuyutan yaitu Malaysia pada tanggal 28 september 2026 di Gelora Bung Karno. Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba timnas Indonesia berhadapan dengan Malaysia, stadion GBK pun dipadati oleh para penggemar, koreo-koreo serta chant pun dipersembahkan oleh para suporter, namun sayangnya hal yang diharapkan tidak jadi kenyataan, Indonesia hanya dapat bermain imbang melawan Malaysia setelah bermain dengan hanya 10 orang disebabkan Thom Haye diganjar kartu merah oleh wasit. Setelah pertandingan pun para suporter tentunya merasa kecewa, namun Justin Hubner tetap optimis Indonesia akan tetap lolos fase grup.
III. Chance
Pada tanggal 1 oktober Indonesia akan menghadapi Bangladesh, ini adalah kesempatan Indonesia untuk menjuarai grup A untuk lolos ke final, namun timnas Indonesia harus mengungguli produktivitas gol malaysia untuk merebut peringkat 1 dari mereka. Laga pun dimulai, Indonesia pun berhasil mencetak gol pembuka melalui Mitchell Baker dan gol kedua kembali diciptakan oleh Mitchell Baker, tapi di Bandung Malaysia berhasil mengakhiri babak pertama dengan mencetak 2 gol ke gawang Singapura itu menandakan timnas Indonesia masih berapa di peringkat 2, tapi untungnya timnas Indonesia berhasil kembali mencetak gol dan mengakhiri babak pertama dengan skor 6-1 dengan hasil ini Indonesia sementara merebut peringkat pertama dari Malaysia. Babak kedua pun dimulai, disinilah hal yang tak diinginkan terjadi, sampai menit ke 80 timnas Indonesia tak dapat kembali mencetak gol dan di pertandingan lain Malaysia berhasil mencetak 2 gol, asa kembali muncul lewat gol perdana Luke Vickery pada menit 84.
IV. "Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali 'Imran 146)
Disini malapetaka mulai datang, setelah Indonesia berhasil mencetak gol yang diciptakan Luke Vickery selang 1 menit timnas Bangladesh berhasil kembali menjebol gawang Indonesia dan impian semakin terasa mustahil saat di laga lain timnas Malaysia dengan menakjubkan kembali menambah 2 gol dan menutup laga dengan skor 6-0 untuk kemenangan mereka, hal itu pun menyebabkan selisih gol Indonesia dan Malaysia berjarak 2 gol sekaligus Malaysia kembali merebut posisi pertama di grup A. Saat peluit akhir dibunyikan para pemain Malaysia langsung berselebrasi karena mengira mereka yang akan melaju ke final karena timnas Indonesia setidaknya harus mencetak 2 gol dalam 2 menit untuk kembali merebut peringkat pertama dan melaju ke final.
"Maju tak gentar, membela yang benar. Maju tak gentar, hak kita diserang. Maju serentak, tentu kita menang." Sebuah kutipan yang cocok untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya, dengan semangat pantang menyerah para pemain berhasil mencetak 2 gol lewat Kevin Diks dan Mitchell Baker dan kembali merebut peringkat pertama grup A dan memastikan diri melaju ke final. GBK pun bergemuruh, para penonton dari Sabang sampai merauke yang menyaksikan hal ajaib ini terjadi sontak berteriak hingga menangis. Di Bandung perayaan timnas Malaysia berubah menjadi kesedihan dengan sekejap mata, setelah official timnas Malaysia memberitakan kabar bahwa timnas Indonesia menutup laga dengan hasil 9-2 sekaligus melaju ke final FIFA ASEAN CUP. “Hadirin jamaah shalat jumat yang berbahagia” kata yang bertebaran luas di media sosial disebabkan euforia kemenangan timnas Indonesia yang bertepatan dengan hari jumat, selama beberapa hari pun media sosial riuh dipenuhi euforia kelolosan timnas Indonesia ke final.
V. One step closer
Setelah indonesia berhasil dengan ajaib melangkah ke final, Indonesia sudah ditunggu oleh lawan yang tangguh juga yaitu Thailand. Para suporter tidak sabar menyaksikan laga final berlangsung, ditunjukan dengan 67.000 tiket penonton ludes hanya dalam 1 malam, berbagai harapan serta banyak dukungan yang ditujukan untuk timnas Indonesia lewat media sosial. Hari final pun tiba, 5 Oktober 2026 semua mata di Indonesia tertuju pada laga ini. Sesaat sebelum laga dimulai stadion Gelora Bung Karno telah dipadati oleh puluhan ribu penggemar yang datang ke stadion dengan satu hal yang sama yaitu ingin melihat timnas Indonesia membuka puasa gelar selama 35 tahun lamanya, koreo-koreo serta chant mulai dipersembahkan oleh para fans, lagu Indonesia Raya pun berkumandang sontak membuat semangat para pemain timnas serta para suporter semakin membara. Peluit tanda dimulainya pertandingan pun ditiupkan, pada babak pertama timnas Indonesia dapat membuat beberapa ancaman ke gawang Thailand namun belum mampu menjebol gawang Thailand yang dijaga oleh Saranon Anuin, babak pertama pun berakhir dengan skor kacamata. Peluit babak kedua pun ditiupkan, percobaan demi percobaan pun dilakukan timnas Indonesia untuk menjebol gawang Thailand, sampai akhirnya tiba waktu ketika Ole Romeny dijatuhkan tepat di depan kotak penalti Thailand. Dean James pun mengambil tendangan bebas tersebut dan berhasil membuahkan gol setelah bola terdifleksi oleh pemain Thailand, seketika stadion GBK bergemuruh, para penggemar timnas yang menonton dari rumah pun tentunya berteriak menyaksikan gol tersebut terjadi. “GOLLLLLLLL” skor sementara 1-0 untuk Indonesia para penggemar pun sudah optimis Indonesia akan keluar sebagai juara, namun malapetaka pun datang. Pada menit ke 87 pemain Thailand tak terjaga sedikitpun dan berhasil mencetak gol ke gawang indonesia, skor 1-1 pun bertahan dan memaksa laga berlanjut ke babak tambahan. Pada babak ini jantung seluruh penggemar timnas Indonesia berdetak kencang, setiap ada ancaman maupun peluang yang diciptakan membuat jantung seperti mau copot, kemudian Allah SWT pun seperti ingin menguji ketabahan makhluk ciptaan nya untuk kesekian kalinya.
VI. “Maka kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Surah Al-Anbiya 87-88)
Memasuki menit ke 111 timnas Thailand berhasil menggandakan skor dan mengubah papan skor menjadi 2-1, pada detik itu juga nyawa kita seperti perlahan ditarik keluar dari badan, melihat menit sudah mencapai 111 semua orang merasa mustahil untuk Indonesia dapat keluar sebagai juara pada turnamen kali ini mengingat waktu tersisa beberapa menit lagi dan di tambah kepercayaan diri squad Thailand yang semakin bertambah setelah mencetak gol. Ada satu kalimat yang mungkin langsung muncul di hati sebagian pecinta timnas Indonesia “Kenapa harus selalu berakhir seperti ini”.
Para penggemar yang sudah memasrahkan hasil pertandingan pun hanya bisa menerbangkan doa ke yang maha kuasa. Dan pada akhirnya pertolongan dari sang maha kuasa itu datang ke bangsa yang merah darahnya dan putih tulangnya, INDONESIA. Dan akhirnya timnas Indonesia berhasil menyamakan kedudukan melalui sontekan dari Elkan Baggot pada menit ke 116
semangat para pemain dan penggemar seketika bangkit kembali, laga pun berlanjut sampai menit 120 dan skor masih 2-2 dan memaksa laga dilanjutkan dengan adu penalti. Indonesia berkesempatan mengambil sepakan pertama yang akan dieksekusi oleh Kevin diks, semua mata tertuju pada titik putih yang berada di kotak penalti itu dan, golll Kevin Diks berhasil mengeksekusi tendangan penalti pertama dengan sangat baik. Penendang demi penendang dari kedua tim pun bergantian mengeksekusi tendangan penalti, dan tiba saat penendang penalti ketiga dari Thailand Sarach Yooyen maju untuk mengeksekusi, namun tendangannya pun mengenai tiang dari gawang timnas Indonesia. Sontak stadion Gelora Bung Karno pun bergemuruh oleh teriakan 67.000 jiwa, jantung para penggemar pun semakin berdegup dengan kencang, lalu giliran Shayne Pattynama maju untuk mengeksekusi tendangan penalti dan berhasil masuk. Yang menandakan Emil Audero hanya perlu menggagalkan 1 tendangan dari pemain Thailand untuk Indonesia mengangkat trofi. Lalu pada akhirnya Emil Audero pun berhasil menggagalkan penendang penalti Thailand untuk kedua kalinya. Seluruh para penggemar dari Sabang sampai Merauke yang hadir di stadion ataupun yang hanya menonton dari layar tv, sontak berteriak dan bergembira setelah save krusial itu dan menandakan timnas Indonesia berhasil memutus sejarah kelam 35 tahun tanpa juara. Seluruh kegembiraan, teriakan, pelukan, dan bahkan tangisan terjadi malam itu setelah penantian yang begitu panjang, setelah semua hal yang dilalui oleh timnas Indonesia akhirnya kita menemukan satu cahaya di tengah kegelapan.
Euforia di media sosial juga tidak kalah, hanya dalam beberapa jam setelah pertandingan media sosial dipenuhi oleh berita kemenangan timnas Indonesia. Malam dimana menjadi pembuktian bahwa sepakbola membunuh logika, di saat 1% sudah cukup bagi suatu bangsa untuk keluar dari zona terkelamnya, disaat doa yang benar benar jujur diterbangkan oleh ribuan orang dan sang maha kuasa memberikan pertolongan dari jalan yang sangat terjal seakan mengatakan “berusahalah dan ceritamu akan berlanjut besok”. Hal yang ditunggu pun akan segera dilakukan yaitu pengangkatan trofi, trofi pun diangkat dan seketika kita semua flashback ke perjalan terjal timnas Indonesia menuju titik ini, rasa senang pun berlanjut sampai beberapa hari, terbang tinggi Garuda…..