- HANDAROE -
a little short cerpen pendek hehe :]
Handaroe terbangun saat ia mendengarkan suara bergemuruh dari kejauhan. Tubuhnya terasa kaku hanya untuk sekedar mengangkat sejari saja. Ia baru merasakan lumpur yang dingin di muka dan sekujur tubuhnya. Zirah lamela yang ia pakai tertutup coklat tebal akibatnya. Menolehkan matanya, Handaru melihat para temannya tergeletak tak bernyawa, pasokan bawaan mereka berhamburan di sekitar nya dan darah kering yang mengguyur mereka.
Dengan ketakutan akan di diketahui oleh musuh, Handaroe memejamkan mata seerat-eratnya nya. Dengan perlahan, ia mulai melambatkan nafasnya lagi. Tetapi ketika Handaroe membukanya lagi, ia melihat para musuh kembali untuk merampas apa yang tersisa. Menendang mayat sekawannya yang tergeletak, mencaci mereka dengan umpatan dan bahkan ada yang melempar ampas fana ke kepala Handaroe, sebegitunya mereka dihina. Handaroe mengepalkan tangannya sampai putih begitu mereka pergi.
“Takkan ku biarkan mereka seenaknya mengolok-olok teman ku. Kan ku habisi para pemberontak tersebut dalam satu malam, …” Handaroe bergumam pada dirinya sendiri sebelum perlahan berdiri dari tempat yang tidak suci itu.
Membersihkan apa yang tersisa pada Handaroe, ia melihat sekitarnya untuk mengambil apa yang tersisa. Pedang kecil berkarat, tombak yang tumpul, dan pelples yang hanya tersisa setengah, Handaroe bergegas untuk berjalan serta memikirkan strateginya dalam perjalanan. Dalam perjalanannya, Ia melihat kemah pemberontak yang tak jauh dari pandangan nya. Dengan tangkas, Handaroe mendaki bukit yang tak jauh dari kemahnya dan sekaligus menjadi tempat persembunyian yang bagus untuk mematai mereka.
Handaroe menunggu sampai matahari tergelincir ke bawah dan sampai langit tertidur nyenyak diatas. Dan saat mereka sudah tertidur, Ia mulai berjalan perlahan menuju kemah para musuh. Berjalan perlahan di tanah basah, ia memasuki salah satu tenda yang mereka dirikan untuk mencari petunjuk-petunjuk yang akan mengarah kepada markas komando mereka. Tapi, ketika Handaroe keluar dari tenda tertidurnya musuh, Ia melihat salah satu pemberontak yang sedang menjaga kemah dengan terkantuk - kantuk yang juga menyimpan salah satu petunjuk menuju markas komando mereka, sebuah peta yang menunjuk lokasinya.
Melihat kesempatan itu, Handaroe menyergap ia diam-diam dari belakang. Dengan kaget dan ketakutan si pemberontak itu mencoba lawannya tetapi mulut dan tangannya tak dapat bergerak secara bebas. Tetapi Handaroe pun juga tak bisa mengontrol ia dengan baik sehingga mereka pun terjatuh ke jurang yang tak jauh dari kemah. Handaroe tetap berpegang erat kepada sang pemberontak tersebut selagi mereka terguling - guling melewati tebing yang terjal tersebut. Walau tergores bebatuan, terbaret pepohonan, Handaroe terus berpegang kuat demi merebut kesempatan tersebut.
Akhirnya mereka terhenti berguling dari pergulatan tersebut, Handaroe berhasil merebut petanya dengan menariknya sedikit lebih kuat, seakan ia muak dengan semua basa basi tersebut. Tetapi, semua perjalanan dan perkelahian yang tentu meletihkan Handaroe menguras banyak energi ia. Ia mencoba menggerakkan kakinya tetapi dia hanya bisa berjalan dengan pincang dan penglihatannya mulai kabur dan tidak jelas. Handaroe sudah tak kuat dengan sakit menusuk di kepalanya, ia jatuh tergeletak di samping sang pemberontak tersebut yang sudah dingin. Di saat ia mulai memejamkan matanya, ia melihat suara yang familiar dari kejauhan tetapi matanya terasa berat dan sudah tak kuat untuk membukanya.
Handaroe kira ini sudah akhir dari semuanya. Lalu membuka matanya lagi dan sekarang semuanya sudah berubah lagi. Suasananya lebih aman, hangat dan nyaman dibanding lingkungan yang gersang sebelumnya. Ia merasakan perban yang dipasang di seluruh tubuhnya dan semua luka yang ia alami diobati sepenuhnya.
“Wah, ternyata kamu sudah bangun ya,” Seseorang dengan suara yang rendah mengelus tangannya.
Handaroe terdiam sebentar “Beribu maaf untuk tugas yang saya gagalkan dalam perang ini, Senapati,” Terdengar keraguan dan penyesalanya dalam suaranya.
“Justru kami yang harus berterima kasih pada anda. Walau prajurit sebaya anda telah gugur di sergap oleh Pemberontak Negara, anda tetap berjalan terus melawan mereka. Saya akui…..siapa nama mu?”
“Ehh….Handaroe…pak,”
“Prajurit Handaroe terus tetap berjuang melawan mereka. Menyerbu tempat persembunyian dan mendapatkan informasi dari mereka bukanlah sebuah suatu kemampuan yang semua orang bisa lakukan…,” Sang Senopati tersebut menggenggam tangannya dengan sedikit erat.
“Bersenanglah, berkatmu kami berhasil menemukan dan memusnahkan markas komando mereka lewat peta yang kamu ambil, mengakhiri 13 tahun perang saudara ini,”
Setetes air mata jatuh diatas kain selimutnya, Handaroe berasa lega ia bisa berkontribusi sesuatu kepada tanah airnya sebelum menghelakan nafas terakhirnya disitu juga.
~FIN.~
Afterword :
maap ya kalo semisalnya cerpen ya itu terlalu...gimana lah gitu. wajar masih pemula
makasih yaa
iiiyyyyyaaaaaaa