hujan meteor tahunan
Dalam waktu dekat, kita bisa menyaksikan sebuah fenomena langit tahunan yang sering dilewatkan, fenomena ini adalah hujan meteor draconid, tetapi ada yang spesial di tahun ini.
Berbeda dengan mayoritas hujan meteor lain yang melesat dalam sekelebat mata yang biasanya kurang dari 0,5 detik, meteor Draconid dikenal memiliki kecepatan meluncur yang sangat lambat, yaitu sekitar 21 kilometer per detik. Kecepatan rendah ini membuat garis cahaya utamanya bertahan lebih lama di langit, sekitar 0,5 hingga 2 detik. Meteor yang berukuran sedikit lebih besar bahkan dapat meninggalkan garis sisa berupa pendaran gas redup yang terus mengambang di langit selama 3 hingga 5 detik setelah meteor utamanya habis terbakar.
Draconid tergolong hujan meteor yang santai dengan intensitas rata-rata 5 hingga 10 meteor per jam pada masa puncaknya yang diprediksi jatuh antara tanggal 8 hingga 9 Oktober 2026. Namun, ada dua alasan mengapa pengamatan tahun ini tergolong langka dan istimewa:
1.Faktor Bulan Baru: Puncak aktivitas Draconid tahun ini berdekatan dengan fase Bulan Baru pada 10 Oktober 2026. Tanpa adanya gangguan cahaya bulan, langit malam akan menjadi lebih gelap, memberikan kontras sehingga meteor yang redup pun akan mudah dilihat mata telanjang.
2.Tidak Perlu Begadang: Jika hujan meteor lain biasanya baru terlihat maksimal pada dini hari menjelang subuh, Draconid justru mencapai posisi terbaiknya di langit pada awal malam hari, tepat setelah matahari terbenam hingga sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB.
Berdasarkan data pelacakan spasial Horizons milik NASA, komet induk dari fenomena ini, yaitu Komet 21P/Giacobini-Zinner, saat ini sebenarnya berada sangat jauh di konstelasi Crater, dengan jarak masif sekitar 839 juta kilometer dari Bumi setelah melewati titik perihelionnya.
Meskipun kometnya berada di jarak yang sangat jauh, Bumi kita saat ini posisinya justru sedang bergerak masuk ke zona "bekas jalan" atau lintasan orbit yang dipenuhi sisa-sisa awan debu komet tersebut. Ketika atmosfer Bumi menabrak partikel debu purba ini, gesekan hebat akan menciptakan energi panas yang membakarnya menjadi kilatan cahaya. Dari perspektif kita yang mengamatianya dari Bumi, seluruh lintasan garis cahaya ini akan tampak memancar keluar dari arah rasi bintang Draco (Sang Naga) di langit sebelah utara-barat laut.
Sumber:
https://theskylive.com/21p-info
https://www.idntimes.com/science/discovery/meteor-draconid-c1c2-01-757m3-xtksjc
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260929145014-199-1409531/daftar-fenomena-langit-oktober-2026-catat-tanggalnya