Insight Podcast Sepulang Sekolah, Deddy Corbuzier, dan Ust. Felix Siauw
pt. 1, pt. 2-nya nanti.
Jadi, artikel ini berisi insight dari video yang saya tonton pada malam sabtu tanggal 6 Desember 2025. Videonya adalah video dari kanal Sepulang Sekolah, yang melakukan edisi #LearningByTalking dengan judul "SOSMED MENGHAPUS ADAB! Agamis Doyan Menghujat? | LearningByTalking ft. Deddy Corbuzier & Felix Siauw". Video ini berdurasi 1 jam, dan saya menggali insight selama waktu 4 jam.
Artikel ini dibagi menjadi berbagai paragraf, dengan setiap paragraf (seringnya) tidak berkesinambungan dengan paragraf-paragraf lain. Isi paragraf adalah insight dari video yang saya tonton, ditambah dengan insight dari diri sendiri (terpikirkan saat menonton video tersebut). Insight ini masih raw and unfiltered, dipenuhi dengan jarangnya grammar yang bagus, minimnya kata sambung, dan keterbukaan terhadap interpretasi pembaca. Tujuan publikasi artikel ini hanyalah agar ini bisa disimpan dan menjadi arsip yang kapan-kapan bisa dibaca kembali.
Podcast pt. 1
Insight (pendapat DAN fakta yang objektif, can be both):
Hate MBG adalah "mainan" anak orang kaya. Mereka adalah orang-orang mampu yang "kurang" suka dengan makanannya, karena mereka mampu mendapatkan makanan yang lebih baik. Di-backing dengan asumsi keracunan yang makin lama makin menyebar, mereka dapat "memainkan" audiens untuk berpikir bahwa MBG itu program gagal. Padahal kita tidak tau, banyak siswa yang bahagia karena adanya MBG.
Solusi: MBG diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Atau jika SEKIRANYA mampu, kasih ke orang lain. Lebih baik memberikannya/mengkritik pembuatannya daripada menghina makanannya.
MBG makin lama makin improve
"Semakin besar proyek, semakin besar kemungkinannya untuk dikapitalisasi"
Halo Effect ->
"Bencilah kelakuannya, jangan orangnya juga"
"Benci jangan terlalu benci, suka jangan terlalu suka"
-> Problem di Indonesia, yaitu bias terhadap orang yang “lebih” mereka suka, mereka akan defend walaupun dia berbuat kesalahan karena “terlalu sayang sampai buta”, dan bias terhadap orang yang “tidak” mereka suka, mereka akan attack dan mengubah pandangannya, sampai benci orangnya seakar-akarnya.
Idealnya, ini adalah porsi ketika orang (yang kita sayang) melakukan sesuatu yang tidak dapat diterima:
Porsi karena pertemanan, porsi karena dia adalah "bagian dari kita", dan bukan sesuatu yang harus dijauhi, dan porsi untuk mengatakan bahwa "jangan sampai itu terulang lagi", bukan malah membenarkan mereka.
Kalau kita tidak kenal dan tidak terlalu peduli, yasudahlah, empatikan sedikit, dan selanjutnya, tidak perlu dipedulikan. Salah satu indra yang dapat memberikan pengaruh buruk di sini adalah mata. Mata itu menipu, dan dia tidak ada interaksi. Mata dapat membuat pikiran di-setting, sampai sebenci-bencinya, atau bahkan, sesuka-sukanya. In both ways, dia buta.
Pola parenting Deddy Corbuzier:
Boleh ngomong kasar depan bapaknya. Tapi, jika di depan orang yang ga kenal, tamu, dan orang yang ga terlalu akrab, tidak boleh, dimarahin.
Bang Koi:
Boleh ngomong kasar, asalkan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menerima konsekuensinya dengan lapang dada. Karena jika seorang anak ngomong kasar dan orang lain tersinggung, yang dipertanggungjawabkan ya orangtuanya, bukan anaknya. Untuk menghindari hal itu, Koi menggunakan cara itu untuk mendidik anaknya.
Sangat tidak boleh apabila anaknya dihormati karena pencapaian orangtuanya. JUSTRU sangat baik apabila orangtuanya dihormati karena pencapaian anaknya.
Orang yang pengen lihat dirimu lebih sukses dari dirinya, cuma orang tua kita, karena mereka membina kita dengan lapang dada (kebanyakan).
Guru ending-nya hanya memberikan ilmu (transfer of knowledge) pada zaman sekarang, dan bukan karakternya (transfer of character). Karena sekarang, guru lebih takut pada ortu anaknya daripada melakukan aksi "pembenaran karakter". Jika memang gurunya tidak boleh keras, maka anaknya pun yang keras. Oleh karena itu, pendidikan karakter lah yang seharusnya ditekankan pada masa muda. Tetapi, jika guru diberi otonomi lebih -> pesantren yang strict. Jika anaknya tidak boleh keras, maka yang keras gurunya. Setiap sekolah adalah perwujudan dari: ekstrimisme siswa ATAU ekstrimisme guru. Tidak bisa di tengah-tengah.
Akhirnya, harus orangtua juga yang mengurus, dan memang seharusnya tanggung jawab mereka, karena mereka punya anak. "Tidak semua orang tua layak punya anak". Cara parenting-nya juga harus benar. Seharusnya, cuma orangtua yang bisa main "fisik", dalam kata lain, suara dan shock effect-nya (contoh, sabuk, tali, cambuk, dll.) <- KHUSUS LAKI LAKI. Permainan “fisik” yang diberikan memang tujuannya adalah untuk mengajarkan hal yang benar kepada anaknya.
"Laki-laki itu harus bisa membunuh, tapi memilih untuk tidak. Jika dia tidak bisa membunuh, dia pengecut. Jika dia mampu membunuh tapi memilih untuk tidak, maka dia bijak." Hal ini dapat digambarkan dengan dua orang yang lari dari pertempuran. Satu ahli bela diri, dan satu pengecut. Keduanya lari, tapi alasan mereka berbeda. "Si vis pacem, para bellum”. “Jika menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang. Tandanya, laki-laki, sebagai mediator dan negosiator harus punya kekuatan. Tidak ada orang yang menginginkan laki-laki lemah yang tidak bisa melindungi dirinya, untuk mendapatkan kedamaian. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa, jadi apa gunanya dilindungi?" Bahkan hal ini ada dalam Islam, yaitu "Muslim yang kuat lebih dihargai daripada muslim yang lemah".
"Tidak ada peradaban yang maju tanpa empati - Some Indian." Contoh yang MELANGGAR ini adalah: Bakar Sampah, Sound Horeg. Terkadang, orang ingin dirinya dipahami, tapi dia tidak ingin memahami orang lain. Salah satu core nilai utama yang dapat diterima dan di-apply, sekaligus sebagai idealist counter dari fenomena di atas adalah "Jangan mencelakai orang dan jangan dicelakakan orang."
Ada beberapa daerah sekarang memasang stiker ke rumah-rumah orang yang “sekiranya” tidak mampu dan layak menerima bantuan. Dampaknya, ada beberapa rumah yang mencabut stikernya karena malu, tetapi sebelumnya ingin mendapatkan “empati” itu. Itu tandanya, mereka ingin melakukan praktik dasar korupsi, yang dicoba untuk ditangkal oleh pemerintah daerah. Tetapi, ada beberapa orang yang mencoba bertahan. Dan tinggal tunggu sebulan 2 bulan (meskipun mereka mampu), mereka akan kehilangan rasa malu “dicap” sebagai keluarga yang perlu menerima bantuan itu.
Malu adalah hal yang tidak berharga di zaman sekarang. (INSIGHT SENDIRI. Banyak hal di dunia ini yang seharusnya mereka MALU melakukannya, sekarang menjadi tidak malu. Contohnya adalah, aktivitas yang tidak bermoral, seperti melakukan perzinaan, melanggar aturan, norma dll. Saat ini, orang di Indonesia kehilangan rasa malunya, dan ini menjadi krisis moral terbesar di zaman sekarang.)
Dan yang berkaitan dengan malu, balik lagi, adalah pertemanan dan edukasi. Edukasi kita tidak ada empati. Tapi seharusnya, core utama di sini adalah empati. Krisis empati ini masalah, karena tidak diajarkan oleh edukasi Indonesia saat ini. Dan empati tersebut, balik lagi ke struktur edukasi di Indonesia, yang banyak diisi oleh transfer for knowledge, bukan transfer of character.
Jadinya adalah knowledge with no wisdom. Banyak pengetahuan, tapi tanpa adab. Dan salah satu faktor utama kehilangan adab adalah sosial media. Karena pada akhirnya, kita coba mengejar dopamin dan kesenangan sesaat. (INSIGHT SENDIRI. Dan apa yang berkaitan dengan kesenangan sesaat? Rokok, pergaulan bebas, alkohol, pacaran, dan semua hal lainnya. Sosial media terlalu meromantisasi hal-hal yang seharusnya tidak ada tersebut.)
Korupsi adalah akar paling buruk yang ada di seluruh Indonesia, sampai saat ini. Salah satu sifat utamanya adalah, mereka memanfaatkan suatu tragedi untuk kepentingan mereka sendiri. Contoh: truk isi makanan jatuh, warga malah mengambil isinya. Atau bisa jadi, mereka memanfaatkan empati orang lain demi keuntungan mereka. Contoh: zaman dahulu, orang Kristen, jika mau masuk sekolah, mereka akan pergi ke gereja, untuk mendapatkan surat rekomendasi "tidak mampu" dari sekolah. Karena gereja memiliki banyak pengaruh di sekolah Kristen.
"Bahagia itu mudah JIKA ingin dimaknai. Hanya orangnya yang TIDAK INGIN bahagia. Tetapi, kita ingin terlihat lebih bahagia dari orang lain, dan terkadang, orang lain terlihat lebih bahagia daripada aslinya." Kita sangat sering melibatkan kebahagiaan orang lain dalam kebahagiaan kita. Contoh: "Wah, orang lain kok punya suami gini, gini, gini, kok aku enggak", dan akhirnya ribut dengan suaminya. Sukses, redflag, greenflag, dan bahkan standar apapun, saat ini di "setting" oleh media sosial. Media sosial membuat apapun menjadi comparison/perbandingan. Contoh: Perlakuan orang straight terhadap orang LGBT yang dilebih-lebihkan. Padahal, kalo LGBT ya LGBT aja, selama kamu baik, yasudah, orang (RASIONAL, BUKAN INDONESIA) tidak peduli.
Empati sudah mati di negara ini. Satu-satunya yang hidup adalah engagement. Orang terkenal sakit/blunder, dihina, dan (jokingly) didoakan agar mati, dan anehnya, dengan hinaan itu, mereka menemukan true happiness dan stress release, dan itu sakit. Itu adalah gambaran banyak orang Indonesia, dan Indonesia adalah negara sakit. Penyampahan tidak berguna seperti ini sering ditemukan di negara ini. Di saat yang sama, orang yang nyampah ini pengen dianggap lebih daripada orang yang "disampahin". Contoh: Orang yang menghina fisik di komentar medsos, sekaligus orang yang "salih" di beranda medsos. Jadinya, Islam hanyalah "topeng" untuknya. Orang-orang yang seperti itu adalah loser yang tidak dapat memenuhi dirinya kebahagiaan dalam dirinya sendiri. Dan sebagai orang "waras", kita harus sadar bahwa itu tidak boleh mengganggu kita. (INSIGHT SENDIRI: Orang pro tidak akan menyalahi orang lain yang ingin belajar, karena dia sendiri pernah ada di posisi itu. Orang-orang yang menyinyir usaha dan kemampuan kita, adalah orang-orang bertopeng loser itu.)
Orang yang (sebenarnya) SEDANG tidak bagus hidupnya, tidak akan mempublikasikan hidupnya yang tidak bagus itu. Ia akan menaruh sesuatu yang baik, dan disangkanya orang lain, "hidup dia pasti baik-baik saja", padahal belum selalu. Orang lain yang melihatnya juga malah ikut membanding-bandingkan. dengan dirinya sendiri. Kebahagiaan "palsu" orang akan tetap ada, dan kita tidak akan pernah bahagia dengan itu.
Insight Tambahan:
Silent Treatment > Physical Treatment (Lebih cocok di modern era), bahkan di Islam seperti itu.