Jam saku penuh kenangan

baca ges

Sep 21, 2026 - あbybぃtっzyy

Suara gemercik air yang menghantam atap seng pos ronda menjadi satu-satunya nada yang menemani Aris pada malam hari itu. Hujan deras turun tanpa ampun, memaksa pemuda berusia tujuh belas tahun itu menghentikan langkahnya dan mulai berteduh. Bajunya setengah basah, dan angin malam mulai membuat jemarinya dingin.


Saat mencoba merapatkan jaket, matanya menangkap pantulan cahaya redup di sudut bangku kayu. Sebuah benda logam kecil tergeletak di sana, tertutup sedikit debu. Aris memungutnya. Itu adalah sebuah jam saku tua berbahan kuningan dengan ukiran sulur pohon yang rumit di bagian depannya.


Dengan penuh rasa ingin tahu, ia menekan tombol kecil di bagian atas. Tutup jam itu terbuka dengan suara detik yang nyaring dan ritmis. Namun, yang membuat jantung Aris berdegup lebih kencang bukanlah bentuk jam tersebut, tetapi ukiran tulisan tangan di bagian dalam tutupnya:


“Untuk Aris, jangan biarkan waktu memudarkan impianmu. – Ayah, 2018.”


Napas Aris tertahan. Ayahnya telah meninggal delapan tahun lalu, dan ia sama sekali tidak pernah tahu keberadaan jam ini. Bagaimana bisa benda yang tersimpan rapi dalam ingatannya sebagai kenangan yang hilang, kini ada di pos ronda tua desa mereka?


Perlahan, Aris memutar tombol pemutar jam. Detik jam saku itu berbunyi semakin keras, mengalahkan suara deburan hujan di luar. Tiba-tiba, sebuah kertas kecil yang dilipat sangat tipis terjatuh dari balik bantalan dalam jam tersebut. Aris membukanya dengan hati-hati.


Di dalamnya tertulis sebuah kalimat singkat dengan tinta biru yang mulai pudar: “Jika kamu menemukan ini, berarti kamu sudah cukup dewasa untuk melanjutkan perjalanan melukismu.”


Aris menatap tangannya yang sangat gemetar. Selama bertahun-tahun, ia telah mengubur impian menjadi seorang pelukis karena merasa tidak ada lagi yang mendukungnya. Benda kecil ini seolah menjadi pesan yang menembus ruang dan waktu, mengingatkannya pada janji masa kecil yang sempat terlupakan.


Hujan perlahan reda, menyisakan bau tanah basah yang menenangkan. Aris menggenggam jam saku itu erat-erat, melangkah keluar dari pos ronda dengan perasaan hangat yang membakar dadanya. Malam itu, ia tahu apa yang harus ia lakukan besok pagi: mengambil kembali kuas dan kanvasnya.


Jadi inti dari cerpen singkat ini adalah: penemuan jam saku peninggalan sang ayah menjadi simbol pengingat bahwa Aris tidak boleh menyerah pada passion-nya sebagai pelukis, meskipun ia merasa sendirian setelah kehilangan orang tuanya. Benda tersebut memberi keyakinan baru bahwa impiannya tetap berharga untuk dilanjutkan.


Pesan dari cerpen ini adalah : Jangan biarkan waktu memudarkan impianmu, ketahuilah kasih sayang orang tuamu tak terbatas.

More Posts