Pernahkah kalian menggunakan kata seperti buku ku, kata nya, dan rumah mu dalam tulisan kalian? Apakah kalian sadar bahwa tulisan tersebut menyalahi aturan bahasa Indonesia? Iya, dia salah karena tidak pada sesuai.
Jika kalian memiliki sesuatu, tentu kalian ingin mengakuinya kan? Baik itu benda atau apapun wujudnya. Jadi manakah yang benar? Kata milikku atau milik ku? Jawaban yang tepat adalah milikku. Mengapa demikian.
Penjelasan mengenai hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari salah satu cabang ilmu bahasa yang bernama morfologi. Menurut Ryding (dalam Prasetya, 2025), morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengulas mengenai pembentukan kata dan fungsi elemen-elemen penyusunnya. Baiklah, karena kita adalah orang Indonesia, tidak lengkap rasanya kalau kita tidak bahas dari segi KBBI. Menilik dari KBBI V, morfologi adalah cabang ilmu pembentukan kata. Berdasarkan pendapat tersebut dapat kita ketahui bahwa aturan penulisan kata yang kita gunakan sehari-hari dinamakan morfologi. Salah satunya adalah penggunaan -ku, -mu, dan -nya. Lalu mengapa mereka tidak bisa berdiri sendiri? Apakah mereka tidak tahu yang namanya mandiri? Tentu tidak kawan!
Penggunaan -ku, ku-, -mu, mu-, dan -nya yang harus menempel dengan kata yang mendahului atau mengikutinya tidak terlepas dari kodrat mereka yang tidak termasuk dalam keluarga kata yang dapat berdiri sendiri. Ya, -ku, ku-, -mu, mu-, dan -nya bukanlah kata tunggal. Jadi mengapa correction google docs selalu meminta mereka untuk berdiri sendiri? Karena yang buat google docs bukan orang Indonesia dan ia juga masih perlu belajar. Karena itulah, kita yang orang Indonesia sepatutnya lebih tahu dari google dan tidak mudah percaya padanya.
Kalau mereka bukan kata tunggal, lalu apakah mereka? Mereka dinamakan klitik. Menurut KBBI, klitik adalah bentuk yang terikat. Klitik sudah memiliki makna tapi dia tidak bisa berdiri sendiri. Dia harus selalu menempel dengan kata yang mendahului atau mengikutinya. Mudahnya seperti ini, klitik yang sudah punya makna sendiri itu tidak akan lengkap rasanya tanpa kata yang mendahului atau mengikutinya. Ibarat garam yang sudah punya rasa asin, dia tidak akan merasa puas jika tidak bisa melengkapi nasi goreng kesukaan kalian.
Selain itu, klitik perlu bergabung dengan kata yang mendahului atau mengikutinya untuk membedakannya dengan kata aslinya. Klitik dibentuk dari kata yang dipendekkan. Klitik -ku dari kata aku, klitik -mu dari kata kamu, dan klitik -kau dari kata engkau, dan klitik -nya dari kata ia. Jadi jelas ya bahwa klitik harus bergabung/menempel/terikat dengan kata yang mendahului/mengikutinya.
Prasetya, Kabul. (2025). Klitiks Bermakna Numerik dalam Bahasa Indonesia. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan, Linguistik, dan Sastra Indonesia, Vol. 3, No. 1. Diakses dari https://doi.org/10.55210/asmaraloka.v3i1.490, diakses pada 12 Oktober 2026.
Yudhistira. (2021-02-17). Perbedaan Klitik dan Afiks | Narabahasa. Narabahasa. Retrieved from https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/morfologi/perbedaan-klitik-dan-afiks/ Accessed on: 2026-10-12