Jejak Ingatan Hangat Melalui Lukisan
Cerpen saja, reminder... Cerpen ini bukan genre romance!!, jangan kita lihat isi sekilasnya, lihatlah yang terlihat ada kebaikan!!
Di kota Kyoto, seorang pemuda yang sedang melukis dengan tiga kanvas yang telah dipenuhi oleh coretan karya. Yap, itu adalah aku, hehehe. Karya ketigaku sudah selesai. Namun, terdapat wajah ketidakpuasan dari wajahku yang menatap kanvas tersebut.
Aku menghela napas panjang, aku sedang kemacetan ide untuk melukis (yang pasti, aku sedang Artist’s Block). Aku menatap studio yang berantakan oleh kanvas dan cat minyak, lalu aku berdiri untuk membuka jendela. Jelas sekali kalau aku mau menghirup aroma senja yang begitu syahdu diiringi oleh pemandangan kota Kyoto yang kaya akan sejarah, kuil dan tradisinya.
Saat kepalaku menyembul dari jendela, terdengar suara “klik” dari bawah, mataku mengikuti sumber suara “klik” tersebut.
Aku menatap seorang gadis cantik membawa kamera di tangannya. Aku sedikit kesal dan segera turun dari studio dan keluar untuk menghampirinya.
“Di mana letak sopan santun mu?! Mengapa kau memotret diriku tanpa izin?!” Mataku menatap tajam dengan suaraku sedikit dingin.
“Oh maaf, saya sungguh khilaf. Akan tetapi, saya mendapatkan hasil yang sangat memuaskan untukku.” Dia menyerahkan hasil potretnya dari kameranya ke aku.
Aku menatap hasil itu dengan sedikit terpukau. Ketepatan, kontras warna, dan pencahayaan yang sangat sempurna disaat diriku diterpa senja.
“Oum, bagaimana kita ke kafe saja, sekalian saya hendak mentraktir kamu sebagai permintaan maaf.” Senyum simpul yang ia berikan dibalas oleh anggukan kecilku.
Kami berjalan menuju kafe terdekat juga terkenal di Kyoto. Mungkin nama kafe nya adalah % Arabica Kyoto Arashiyama yang menjadi tempat favorite dan menjadi lokasi ikonik juga berkat pemandangan jembatan Togetsukyo di tepi sungai.
Ketika kami masuk ke dalam, kami disambut hangat oleh pelayan dengan aksen Kyoto-ben yang sangat enak untuk didengar jika yang mendengar adalah wisatawan asing.
“Kamu mau pesan apa?” Terdengar gadis itu menanyakan menu kepadaku.
“Mungkin, aku mau pesan matcha latte saja.” Aku mulai duduk dibangku dengan penuh khidmat.
Dia juga sedang memesan menu yang kami inginkan di kasir. Setelah selesai, dia beranjak dari kasir lalu mulai duduk berhadapan denganku.
“Oh iya, saya lupa untuk memperkenalkan diri. Nama saya Hana Ayumi Sasrakirana, kamu bisa memanggilku Ayumi.” Dia menyodorkan tangannya dengan senyum tak kusangka….
“Nama saya… Zayn Pieter Al-Fatih, kamu bisa memanggilku Zayn.” Aku menyodorkan ke tangannya dengan wajah tegas (padahal aku aslinya lagi malu berat).
Ayumi mulai tersenyum, mengucapkan nama ku untuk sekadar mengingat saja.
Aku sebenarnya sedang berkalut dalam pikiranku mengenai kemacetan ideku, sungguh itu sangat menggangguku. Namun, Ayumi seperti membaca seluruh isi pikiran dan juga hatiku.
“Kamu seperti sedang memikirkan hal yang berat sekali, bolehkah kamu bercerita kepadaku?” Tatapannya yang teduh membuat egoku luruh begitu saja.
“Huh, baiklah,” ujarku sambil menarik napas dalam-dalam. “Sebenarnya, aku sedang mengalami kemacetan ide, aku sampai melukis tiga kanvas dan hasilnya tidak memuaskan untukku.” Aku memijat keningku dan membuang napas panjang.
“Begitu yaa….” Dia bersimpati kepadaku.
Aku menatapnya, tidak biasanya warga Jepang langsung mengajak makan atau sebagainya ke orang asing.
“Kamu orang Jepang asli atau bukan?” Aku meneguk salivaku. “Ahh, maafkan atas kelancangan ku….”
“Aku bukan orang Jepang asli kok, kebetulan aku memang tinggal di sini sudah jalan 4 tahun. Aku aslinya orang Indonesia, tapi sedikit blasteran lah.” Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aku sedikit tercengang mendengar sebuah pernyataan yang tak kusangka-sangka, bukan orang Jepang asli? Tapi orang Indonesia? Di luar nalar….
“Hahaha, aku sangat memahami raut wajahmu itu, sulit dipercaya bukan?” Ayumi tertawa kecil.
***
Beberapa 30 menit setelah itu, Ayumi membayar di kasir (walaupun itu memakai uangku, dikarenakan dia lupa membawa uangnya). Kami berdua keluar dan disambut oleh semburat cahaya senja bak lukisan ciptaan yang Maha Kuasa.
“WAHHH, indah sekali langit pada sore ini….” Ayumi memandang langit dengan mata yang cukup berbinar.
Ayumi mulai memotret langit dengan oranye kemerahan (langit senja ya… bingung juga menggambarkan kata senja yang begitu indah). Aku menatapnya, lalu aku tersadar bahwa… senyumnya yang merekah bagai sekuntum mawar yang begitu merah, bahagianya sambil membawa kamera untuk memotret itulah yang membuat… diriku… mendapatkan sebuah ide dibenakku.
“Ayumi! Sekarang aku mendapatkan ide untuk melukis di kanvas!!” Aku begitu semangat, Ayumi sepertinya tahu maksudku.
“Baiklah, aku penasaran dengan hasil karyamu.” Membentanglah sebuah lesung di pipinya.
***
Ketika aku kembali ke studioku yang ditemani oleh Ayumi. Aku menyambar kursi beserta alat-alat untuk melukis, kemudian dia duduk di sofa studio.
Aku mulai konsentrasi, memunculkan sebuah gambar di pikiranku, membayangkan dan… aku tahu!!
Tanganku mulai menari-nari di atas kanvas putih, melukis bak pelukis profesional di zaman dahulu (tapi beneran pernah menang awarding sampai go internasional loh namanya FiKVA International Figurative Painting Contest 2023), Ayumi mulai memperhatikan betapa luwesnya tanganku.
Diam-diam, Ayumi memotretku yang sedang melukis. Dia menatap hasil fotonya dengan senyum yang mengembang sekali..
***
Setelah 5 jam aku melukis, hasil yang begitu maksimal telah terpampang di sebuah kanvas, sungguh….
“Bagaimana hasilnya? Aku mau tahu.” Tanya Ayumi dengan senyum yang kian mengembang.
“Sebentar, kamu tutup mata dulu, Ayumi.”
Ayumi mengikuti sesuai instruksi diriku, lalu aku menaruh kanvas tepat di hadapannya… “Bukalah matamu, Ayumi….” Dia perlahan-lahan membuka matanya.
Matanya mengerjap sejenak, lalu matanya begitu membulat sempurna dengan pipi yang merah merekah bagai semprotan langit senja berwarna kemerahan.
“Kenapa kamu melukis diriku yangs sedang memotret?” Suara Ayumi menjadi lirih sekali.
“Karena, aku mendapatkan tema dari kamu… mau tahu?”
Ayumi mengangguk dengan ekspresi sebegitu penasaran (wajarlah, namanya juga penasaran), maka aku segera memberitahu. “Temanya adalah tentang ‘jejak ingatan hangat melalui lukisan’ itulah temaku….” Aku tersenyum tipis.
“Begitu ya… kalau begitu, aku mau menyimpannya, apakah boleh?” Matanya begitu berbinar-binar.
“Boleh, tapi aku ingin membuat salinannya dulu.” Ayumi tersenyum lebar mendengar tuturan dariku.
***
Setelah seminggu, aku membuka stand di pameran seni, dengan membawa sepuluh kanvas dan yang paling banyak orang-orang puji adalah karyaku dengan tema: Jejak Ingatan Hangat Melalui Lukisan.
Ayumi datang ke tempat stand ku, dia tersenyum dan pura-pura bertanya.
“Saya ingin bertanya. Apakah karya anda dengan tema jejak ingatan hangat melalui lukisan itu memiliki makna?”
Aku tersenyum tipis lalu berkata.”Ada, setiap lukisan memiliki maknanya. Maka maknanya adalah…,” aku menarik napas dulu lalu melanjutkan. “Di mana, dikala aku bertemu seseorang yang memberiku ide, tapi dia juga memberi kehangatan yang masih bisa kurasakan di dalam ingatanku, senyumannya yang lebar, dan lain-lain. Maka, aku melukis bahwa aku akan terus mengingat kebaikannya.”
Ayumi tersenyum sebegitu lebarnya, maka dia juga memberi foto tentang diriku. Disaat diriku sedang menghirup udara senja di jendela, sudut foto dan semacamnya… dia begitu presisi dan profesional.
“Terima kasih, Ayumi….”
“Terima kasih juga, Zayn….”
~Tamat~