Jejak Sendiri di Atap Awan

Nov 05, 2026 - AIMAN

Angin dingin menyapu wajah Raka, membawa serta kabut tipis yang mulai menyelimuti jalur pendakian. Raka menghentikan langkahnya sejenak, mengatur napas yang memburu di tengah udara tipis ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut. Di punggungnya, ada sebuah tas carrier biru yang warnanya sudah mulai pudar. Itu bukan miliknya. Itu milik Gilang, kakak laki-lakinya.


Sejak kecil, Gilang adalah kompas bagi Raka. Gilang yang mengajarinya cara mendirikan tenda, cara menyalakan api dari ranting kering, dan cara membaca cuaca dari pergerakan awan. Mereka punya satu mimpi besar yang selalu dibicarakan setiap malam di beranda rumah: menjejakkan kaki berdua di puncak Mahameru.


Rencana itu sudah matang. Tiket kereta sudah dipesan, logistik sudah dicatat, dan fisik sudah dilatih selama berbulan-bulan. Namun, takdir ternyata punya skenario yang lebih berkuasa. Tiga minggu sebelum tanggal keberangkatan mereka, sebuah kecelakaan di jalan tol merenggut nyawa Gilang.


Dunia Raka runtuh. Pendakian ini sempat ingin ia batalkan selamanya. Namun, setiap kali ia melihat carrier biru itu di sudut kamar, ia seolah mendengar tawa kakaknya yang menyemangatinya untuk terus berjalan.


Kini, di bawah langit malam yang bertabur bintang di batas vegetasi terakhir, Raka berjalan sendirian. Tanjakan pasir yang curam dan berbatu membuat setiap dua langkah ke atas harus dibayar dengan merosot satu langkah ke bawah. Udara sedingin es menusuk tulang, dan rasa lelah mulai menggerogoti tekadnya.


"Kaki lo itu cuma alat, Ka. Yang bawa lo ke puncak itu mental," Raka menggumamkan kalimat yang sering diucapkan almarhum kakaknya dengan suara bergetar. Air matanya menetes, namun langsung kering tersapu angin gunung yang buas.


Setelah berjam-jam bertarung dengan dingin dan lelah yang teramat sangat, rona jingga mulai mengintip di ufuk timur. Jalur berpasir itu mulai melandai. Raka mengangkat wajahnya, dan di sanalah ia berdiri—di tanah datar berpasir yang luas, puncak tertinggi di tanah Jawa.


Matahari terbit dengan begitu indahnya, menyinari lautan awan yang berada jauh di bawah kakinya. Pemandangan yang selalu mereka impikan kini ada di depan mata.


Raka melepas carrier biru itu dan duduk berlutut di atas pasir dingin. Ia merogoh kantong tas tersebut dan mengeluarkan sebuah bandana merah—bandana kesayangan Gilang yang selalu dipakai kakaknya di setiap pendakian.


Tidak ada senyum kemenangan di wajah Raka, hanya rasa sesak yang akhirnya meledak. Di tengah keheningan puncak yang megah, Raka menangis sejadi-jadinya. Tangisannya luruh bersama angin pagi.


"Kita sampai, Bang," bisik Raka parau, menggenggam erat bandana itu di depan dadanya. "Kita sampai di puncak. Tapi kenapa rasanya sedingin ini tanpa lo?"


Gunung itu tetap diam, hanya gemuruh kawah di kejauhan yang menjawabnya. Raka tahu kakaknya tidak akan pernah kembali. Namun, saat sinar mentari pagi mulai menghangatkan tubuhnya yang membeku, Raka mengerti satu hal: Gilang tidak meninggalkannya. Kakaknya itu telah mewariskan keberanian dan kekuatan padanya. Di atap awan itu, meski kakinya memijak sendirian, jejak yang tertinggal adalah milik mereka berdua.

More Posts