Kajian Kok Bahas Privilege
Salah satu kajian paling berkesan
Otakku rasanya sudah mendidih. Common Assessment, Unit Test, dan segudang tugas menumpuk, menguras sisa-sisa energiku. Di titik itu, aku sedang berada di fase "males-malesnya". Rasanya, segala sesuatu tentang belajar dan masa depan tiba-tiba terasa berat dan membingungkan.
Waktu menunjukkan ba'da Maghrib. Aku dan teman-teman duduk di Assembly Point MEGA IBS. Tempat ini sangat sederhana, hanya berupa deretan dudukan di pinggir jalan, tanpa kemewahan aula atau dinginnya AC masjid. Tapi malam itu, kesederhanaan tempat ini justru menjadi saksi sebuah momen yang mengubah cara pandangku.
Pemateri kajian malam itu adalah Ustadz K.H. Prof. Dr. Ranu Tiyas Purbaya, S.Pd., S.S., M.Hum., M.Ed., Lc., M.A., atau yang kami panggil Ranu Abi.
Saat beliau mulai berbicara, aku tidak benar-benar fokus. Aku lebih banyak menengadahkan kepala, menatap langit malam yang dihiasi bulan. Pikiranku melayang, mencerna kata-katanya setengah hati. Di sebelahku, Ilham pun tampak sama. Kami berdua terdiam, sama-sama tenggelam dalam kelelahan dan pikiran kami masing-masing.
Namun, suasana berubah ketika Ranu Abi mulai bercerita tentang masa lalunya. Suaranya tenang, tapi setiap kalimat yang keluar seolah memiliki bobot yang berat.
Beliau bercerita tentang masa kecilnya di desa. Tentang keterbatasannya.
"Orang yang dari desa kaya Abi aja, yang bahkan nggak tahu apa itu UNNES, UI, atau kampus-kampus besar lainnya, bisa kuliah di UNNES dan sekarang bisa jadi guru kalian," ucap Ranu Abi, matanya menyapu kami satu per satu. "Masa kalian, yang start-nya sudah dari 'plus', yang fasilitasnya lengkap, malah ujung-ujungnya masuknya kampus swasta dan masa depannya nggak jelas?"
Hening. Angin malam di Assembly Point tiba-tiba terasa lebih uademm.
Beliau tidak berhenti di situ. Dengan nada yang bukan untuk merendahkan, melainkan untuk membakar, beliau melanjutkan, "Untuk bisa sampai di level kalian, di MEGA ini aja, Abi butuh effort yang besar. Kalau kalian nggak males dan mau berjuang, seharusnya kalian besok akan jadi pemimpin-pemimpin besar."
BISSS (banyak istighfar soyy)
Kalimat itu menamparku keras. Bukan tamparan yang menyakitkan, melainkan tamparan yang menyadarkan. Aku menatap bulan lagi, tapi kali ini pikirannya jauh lebih jernih.
Oiya juga ya, batinku. Kenapa aku malah males-malesan?
Ranu Abi tidak sedang membandingkan dirinya dengan kami untuk membuat kami merasa bersalah. Beliau sedang menyadarkan kami tentang satu hal yang sering kami lupakan: Privilege.
Beliau yang memulai dari nol, dari desa yang bahkan tidak tahu nama-nama kampus besar, bisa sampai di sini dan mengajar kami. Lalu bagaimana dengan kami? Kami sudah berada di titik start yang jauh lebih baik, di lingkungan MEGA IBS yang luar biasa, tapi kami malah mengeluh lelah dan kehilangan arah.
Sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Rasa malas dan kebingungan tentang tujuan hidup yang sebelumnya mencekik, perlahan menguap. Aku kembali bersemangat untuk menghadapi ujian-ujian yang ada.
Kajian di Assembly Point itu mengajarkanku satu hal yang akan selalu kubawa sampai kapan pun: kita tidak perlu jauh-jauh mencari alasan untuk bersyukur dan berjuang. Cukup lihat sekeliling kita. Sadari betapa banyaknya orang yang tidak seberuntung kita. Dan yang paling penting, jangan pernah sia-siakan opportunity dan privilege yang sudah Allah titipkan di pundak kita.
Bulan di atas tikum kumpul assembly point, seorang siswa yang tadinya males dan bingung arah belajarnya, baru saja menemukan kembali alasan untuk berjuang.
1 foto seribu pelajaran..