Tugas Civic Education
Kesenjangan ekonomi masih menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia saat ini. Topik ini bukan sekadar teori membosankan di buku pelajaran sekolah. Faktanya, ketimpangan pendapatan dan kekayaan pada masyarakat kalangan bawah membuat mereka terpaksa berjuang demi memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari dan menafkahi keluarga mereka. Kesenjangan ini mudah ditemukan di kota-kota besar yang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit dengan konsumen yang dapat menikmati layanan baik dan gaya hidup mewah.
Kenyataan ini membuat kita bertanya-tanya, ke mana perginya janji keadilan sosial yang selalu negara serukan? Ketidakseimbangan dalam ekonomi ini jelas menentang nilai dari sila ke-5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saat sebagian orang bisa dengan mudah mengakses berbagai kesempatan emas untuk makin kaya, sebagian masyarakat lainnya justru terjebak dalam kemiskinan yang sulit diputus hanya karena mereka tidak memiliki akses yang sama.
Jika dilihat-lihat kembali, kondisi ini tak hanya melanggar nilai sila ke-5, namun juga sila ke-2, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Masyarakat kalangan bawah memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan lapangan kerja. Akibatnya hak mereka untuk hidup secara nyaman dicuri. Ketidakadilan ekonomi ini secara tidak langsung melenyapkan nilai-nilai kemanusiaan, menciptakan standar ganda di mana kualitas hidup seseorang ditentukan oleh seberapa tebal dompet yang mereka miliki.
Tidak berhenti di situ, jurang kesenjangan yang terlalu dalam dapat memecahkan bangsa, di mana kondisi tersebut menentang nilai sila ke-3, Persatuan Indonesia. Rasa cemburu sosial dan kecemburuan antarkelompok rawan menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Ketika rasa tidak adil ini terus membesar, kepercayaan rakyat terhadap sesama maupun terhadap pemerintah akan pelan-pelan memudar. Kemungkinan gesekan sosial hingga rasa asing di tanah air sendiri bisa muncul, yang jika dibiarkan terus-menerus dapat memecah persatuan bangsa yang sudah dibangun dengan susah payah.
Oleh karena itu, menyatakan masalah kesenjangan ekonomi bukan berarti kita bersikap ragu, melainkan bentuk kepedulian agar Pancasila tak berakhir menjadi foto pajangan di suatu ruangan saja. Seluruh bangsa Indonesia perlu mengamalkan Pancasila secara utuh, di mana kita semua harus bekerja sama, entah itu pemerintah maupun masyarakat, menghadirkan kebijakan secara menyeluruh. Contoh aksi nyata yang dapat dilakukan yaitu seperti penyebaran infrastruktur hingga ke daerah terpencil, penyediaan akses pendidikan yang terjangkau namun berkualitas, serta distribusi sumber daya adil yang harus menjadi prioritas. Sebab, Indonesia tak akan maju jika kemajuan itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang, sedangkan sisanya dibiarkan tertinggal di belakang.