Panggung semifinal Liga Champions 2022 dibuka dengan drama hujan gol yang gila di Etihad Stadium. Pada leg pertama, Manchester City memamerkan sepak bola ofensif yang nyaris sempurna dan berhasil menumbangkan Real Madrid dengan skor ketat 4-3. Perang taktik itu membuat Los Blancos pulang ke Spanyol dengan defisit satu gol, namun gol-gol dari Karim Benzema dan Vinicius Jr. di Manchester menjaga asa bahwa pertempuran ini masih jauh dari kata usai.
Saat leg kedua digelar di Santiago Bernabéu, situasi justru berubah menjadi mimpi buruk bagi publik tuan rumah ketika Riyad Mahrez mencetak gol di menit ke-73. Papan skor agregat menunjukkan angka 5-3 untuk keunggulan City, dan layar televisi global merilis statistik peluang kelolosan yang kejam: Manchester City 99%, Real Madrid 1%. Di menit ke-89, komputer, pengamat, dan jutaan pasang mata sepakat bahwa laga telah selesai, menyisakan Madrid yang terkapar di ujung tanduk kemustahilan.
Namun, bagi Real Madrid, satu persen bukanlah sebuah kepasrahan, melainkan sisa ruang untuk memanggil sebuah mukjizat. Tepat di menit ke-90, magis Bernabéu terbangun saat Rodrygo Goes menyontek umpan Benzema menjadi gol. Hanya berselang beberapa puluh detik kemudian, di masa injury time, Rodrygo kembali terbang menyambut umpan silang untuk melepaskan tandukan mematikan yang merobek jala Ederson. Stadion meledak dalam histeria, agregat mendadak imbang 5-5, dan mental baja skuad asuhan Pep Guardiola runtuh seketika.
Memasuki babak tambahan waktu, City yang mendominasi secara taktis sudah hancur lebur secara psikologis akibat guncangan dua menit magis tersebut. Eksekusi penalti dingin Karim Benzema pada menit ke-95 menyempurnakan remontada paling ikonik dalam sejarah sepak bola modern dengan agregat akhir 6-5. Malam itu menjadi bukti sahih bahwa taktik sekeren apa pun akan bertekuk lutut di hadapan DNA juara Real Madrid, karena algoritma sepak bola tidak akan pernah bisa menghitung besarnya mentalitas sebuah klub.