Uang Hanyalah Sarana, Bukan yang Utama

cerpen tentang kesopanan, keikhlasan dan tanggung jawab

Nov 03, 2026 - Samudra Annabhani 🙃👍

Suatu hari, 2 anak lulus ke kelas 9 SMP. Mereka namanya Kandar dan Abdul. Kandar adalah seorang yang kaya, tetapi sangat suka membagi. Ia mendapat uang saku Rp.20.000, tetapi ia hanya gunakan Rp.5.000, karena sisanya ia bagikan ke teman-temanya. Sedangkan Abdul adalah seorang yang kaya juga, tetapi pelit dan kikir. Ia mendapatkan uang saku Rp. 50.000. setiap hari, tetapi tidak rela membagikan serupiah pun ke temannya dengan tanpa pamrih.

Sebulan setelah mereka masuk kelas 9 SMP, ada pemilihan ketua kelas. Kandar sudah sejak dahulu menjadi anak yang baik hati, jadi sebagian besar kelas memilih dia. Tetapi, Abdul membujuk orang lain untuk memilih dia, dengan imbalan mendapatkan duit sebesar Rp.50.000. Beberapa orang memilih Abdul, tetapi mayoritas tetap memilih Kandar. Abdul bahkan tidak menjadi wakil ketua. Karena itu, Abdul menjadi semakin iri terhadap Kandar.

Keirian Abdul memuncak ketika ia melihat rombongan siswa dari berbagai macam kelas yang sedang berbelanja di kantin dengan Kandar. Kandar mendapatkan duit 1 juta dari ayahnya, karena menjadi ketua kelas. Meskipun itu, Kandar tetap hanya menyimpan Rp.5.000. untuk dirinya sendiri dan membagikan sisanya. Abdul juga ingin menjadi terkenal, jadi ia mencoba berbagai macam cara, kebanyakan dengan membujuk siswa dengan uang, tetapi semua percobaan gagal.

Hingga Abdul tidak bisa menahannya lagi. Ia mulai tidak patuh terhadap Kandar, meskipun itu awalnya disampaikan oleh guru. Abdul menjadi lebih sering telat dan bahkan bolos. Sampailah pada suatu hari setelah para murid pulang, di lapangan luar area sekolah, Abdul melihat Kandar, sedang membaca buku di bawah pohon sambil mendengarkan musik lewat headphone. Di sekitar, tidak ada orang! "Kesempatan!" seru Abdul dengan lembut, sedang berniat untuk mengancam Kandar agar dengan paksa bisa menjadi ketua kelas

Abdul mulai melari ke Kandar dengan cepat. Bahkan, Abdul sampai hampir ketabrak truk. Saat Kandar menyadarinya, ia terlalu telat. Abdul mengancamnya, tetapi sebelum menaikkan tangannya, Kandar menanyakan Abdul dengan nada sedikit lembut. "Apakah kamu ingin menjadi ketua kelas?" tanya Kandar. "Uhh, iya?" jawab Abdul, sedikit kebingungan. "Maka, saya akan jadikan kamu ketua kelas, jika kamu inginkan" jawab Kandar.

Abdul menjadi terkejut ketika mendengar jawaban tersebut. Ia segera bilang iya dan pulang balik, dengan gembira, sedangkan Kandar melanjutkan membaca buku hingga ashar, sedang kelihatan senang juga. Pagi esok, ia merobek dan menggantikan kertas yang dulu menunjukan ketua kelas sebagai Kandar sekarang menunjukan Abdul sebagai ketua kelas. Ia juga meminta izin dari guru dahulu, dan guru mengizinkan Abdul menggantikan Kandar sebagai ketua kelas.

Hari pertama Abdul menjadi ketua kelas, ia diminta murid menjawab semua pertanyaan tugas MTK besok. Abdul tidak mau, kecuali di bayar Rp.25.000, jadi murid tetap meminta bantuan ke Kandar, yang membantu, bukan langsung menjawab soal yang mereka ingin selesaikan. Esok hari setelah sekolah, ia diminta guru MTK untuk membantu membawa kertas jawaban tugas dari kelas 9, yang berat sekali. Terus, ia diminta dipilah antara yang putri dan putra, dan membantu guru untuk membawa kertas jawaban dari kelas lain.

Abdul tiba-tiba bertanya-tanya ke diri sendiri mengapa ia memilih menjadi ketua kelas. Sedangkan, Kandar sedang senang membagikan duitnya ke teman-teman dengan ikhlas, karena sekarang ia memiliki waktu luang yang banyak untuk mentraktir temannya. Sayangnya, Abdul akan menjadi ketua kelas selama semester pertama, dan ia tidak boleh menolak.

Abdul lama kelamaan menjadi bosan menjadi ketua kelas, dan ia menjadi iri lagi terhadap Kandar. Walaupun Kandar sudah tidak menjadi ketua kelas, pengaruhnya terhadap kelas tetap sama, yaitu tetap suka membagi tanpa pamrih. Abdul ingin mencari tahu kenapa Kandar mendapatkan banyak teman baik, sedangkan Abdul hanya mendapat sedikit teman. Nilai-nilai Kandar biasanya 85-92. Tetapi, karena Abdul dibiayakan mahal untuk les privat profesional, Abdul sering mendapat nilai 100. Jadi, ia mulai memamerkan nilainya di sekolah, tetapi dengan sombong.

"Pasti tidak ada yang memiliki nilai 100! Hanya saya yang bisa mendapatkan nilai 100!" seru Abdul di tengah kelas. Ia tetap memamerkan nilainya bahkan setelah sekolah selesai di luar gerbang. Karena itu, ia dikucilkan dari kelasnya. Kandar tidak mengikut mengucilkan, tetapi tidak membantu Abdul pula, karena itu tanggung jawabnya Abdul. Lama kelamaan, Abdul makin tidak taat kepada perintah guru, lebih sering bolos dan malah lebih sombong setiap harinya.

Karena itu, ia sering sekali ditegur oleh wali kelasnya sendiri, karena gagal menjalani tugas yang diberikan. Jadi, Abdul menjadi semakin sombong, sering mengancam temannya untuk membicarakan penampilannya yang tampan dan gagah, di luar area sekolah. Sekolah tidak menyukai tindakan Abdul, jadi Abdul dihukum, Hukumannya adalah diturunkan nilai tugas dan ujiannya sebesar 20 poin selama 1 semester dan tidak dijadikan ketua kelas lagi, digantikan Kandar.

Abdul semakin iri terhadap Kandar. Jadi, pada suatu hari, Abdul pergi ke rumahnya Kandar dan meracuni kelinci kesukaannya, yang ia pelihara selama lebih dari 4 tahun. Abdul meracuni kelinci malang tersebut dengan sebuah selada yang dikasih sabun cuci piring dan shampo. Pagi hari, Kandar keluar rumah, dan naik mobil seperti biasa. Ketika di kelas, Abdul terkejut. Kandar, tidak menangis? Sore hari, Kandar ditegur tetangga. "Kenapa kelincinya mati!?" ujar tetangganya.

"Saya tidak tahu! Tadi malam, setelah isya masih tetap sehat saja kelincinya!" seru Kandar. Kandar menyelidiki kandang kelinci, dan menemukan bau aneh, seperti sabun dan shampo dari tempat makan kelinci. Bau shamponya mirip dengan yang Abdul punya, tetapi tidak cukup bukti untuk memastikan bahwa Abdul yang meracuni.

Esok hari, Kandar menanyakan Abdul. "Abdul, siapa yang membunuh kelinci tetanggaku? Bau dari kandang mirip bau shampo mu," tanya Kandar. Abdul terus mengaku bahwa ia yang membunuh kelincinya. Kandar terkejut, tetapi tenang. Ia segera menghubungi tetangganya, yang langsung marah. Terus, Kandar menasihati Abdul dengan sebuah pelajaran.

"Berbuat baik tidak perlu menggunakan uang. Tetapi, berbuat baik perlu niat dari dalam hati. Uang hanyalah sarana, intinya adalah niat dari hati. Tanpa uang, kita masih bisa membantu, tetapi tanpa niat dalam hati kita tidak bisa membantu. Dan ketika kamu iri, situasi menjadi lebih kacau"

Selesai! sekian dari saya, mohon maaf jika ada kekurangan/salah kata, terimakasih:)


Made by Samudra with ❤

More Posts