Kembali ke Alun-Alun Ngawi
Malam itu, dinginnya angin lereng Gunung Lawu berhembus lembut menyelimuti Kota Ngawi. Lampu-lampu temaram menyala hangat di Alun-Alun Ngawi, membiaskan cahaya di atas bangku-bangku kayu tempat warga melepas penat setelah seharian beraktivitas. Sebagai salah satu alun-alun terluas di Jawa Timur, area ini terasa hidup dengan riuh anak-anak yang bermain mobil-mobilan listrik dan warga yang berolahraga ringan di sepanjang jogging track.
Deny, seorang pemuda yang baru saja kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau, duduk santai di sudut alun-alun. Di hadapannya, barisan warung tenda ramai oleh canda tawa pengunjung yang menikmati kuliner malam. Aroma gurih bumbu kacang nasi pecel khas Ngawi serta renyahnya rempeyek berpadu dengan hangatnya asap wedang ronde, membawa ingatan Deny kembali pada kenangan masa kecilnya di kota yang tak jauh dari benteng bersejarah Benteng Pendem ini.
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang kakek tua tampak telaten merawat tanaman bunga di sekitar monumen alun-alun. Deny menghampirinya dan membuka percakapan.
"Mbah, sekitar alun-alun sekarang makin asri dan ramai ya," tutur Deny ramah.
Kakek itu menghentikan kegiatannya sejenak, lalu tersenyum hangat. "Ngawi itu ramah, Mas. Dari dulu sampai sekarang, yang bikin alun-alun dan kota ini terasa spesial bukan cuma pemandangan rindangnya, tapi orang-orangnya yang selalu berkumpul, saling menyapa, dan menjaga silaturahmi."
Pernyataan sederhana itu menyentuh hati Deny. Di antara tenang aliran Sungai Bengawan Solo yang tak jauh membelah wilayahnya dan riuhnya suasana malam di pusat kota, Ngawi menyimpan kehangatan yang tak pernah berubah. Alun-alun ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan rumah tempat sejauh apa pun seseorang melangkah, kehangatannya akan selalu memanggil untuk pulang.