Mencari Tahu Kosakata Asing dari Internet
Pada suatu hari di akhir pekan, saya pergi berbaring di kasur dan membuka berbagai macam media sosial yang ada di gawai. Seperti manusia modern pada umumnya, saya juga memiliki banyak aplikasi media sosial di gawai saya, mulai dari Instagram, Facebook, X (dulunya twitter), dan Whatsapp. Akan tetapi, dari semua media soail yang saya punya, saya sangat suka membuka Facebook.
Facebook saat ini dikenal sebagai aplikasi yang sebagian penggunanya sudah berumur. Di masa lalu, Facebook mencapai era keemasannya pada tahun 2000-an akhir dan 2010-an awal. Pada masa itu, hampir semua anak muda mempunyai aplikasi Facebook di gawai mereka atau rela menyisihkan uang jajannya untuk pergi ke warnet supaya bisa masukke akun Facebooknya. Saya sendiri memiliki alasan untuk membuka Facebook lantaran konten yang ditawarkan kepada saya terasa cocok. Biasanya algoritma Facebook menawarkan video pertukangan, nostalgia masa lalu, teknik, dan sejenisnya kepada saya. Oleh karena itu, Facebook pastinya menyimpan berbagai kosakata gaul di masa lalu.
Saya menemukan banyak sekali kosakata gaul yang berasal dari zaman itu dan terasa asing bagi saya. Misalnya kata meneketehe, jayus, dan woles. Tiap-tiap kata ini memiliki arti yang berbeda. Kata meneketehe adalah kata plesetan dari kata mana kutahu. Kata jayus merujuk pada lelucon yang tidak lucu atau aneh dan kata woles adalah kata selow yang dibalik. Selow adalah kata serapan dari bahasa Inggris yakni kata slow yang berarti pelan atau lambat. Maka, kata woles atau selow berarti santai.
Perkembangan bahasa gaul pada aplikasi Facebook tidak berhenti pada era itu. Di masa kini tetap ada bahasa baru yang bermunculan dari aplikasi Facebook. Misalnya saya menjumpai sebuah kata doksli. Kata doksli berarti dokumen asli yang merujuk pada suatu informasi yang valid. Kata ini mulai populer akhir-akhir ini dan kerap kali dipakai pada postingan meme yang ada di media sosial.
Meskipun mayoritas penggunanya sudah tua, Facebook tetap menghasilkan sesuatu yang baru bagi jagad maya. Komunitas pengguna yang solid, kenangan masa lalu, dan hal-hal unik membuat Facebook tetap hidup sebagai sarana bersosialisasi di dunia maya meski tak seramai dulu. Sejak 2023 hingga hari ini, saya masih setia menggunakan aplikasi ciptaan Mark Zuckerberg dan kawan-kawan di gawai saya.