Menelusuri Workshop Taktis Tersembunyi di Kota Istmewa Yogyakarta
Slice Of Life #2
Ah sialan! Hari ini hari Senin. Malas sekali rasanya untuk beranjak dari kasur. Kubuka mata dan kulihat sekelilingku. Ada sesuatu yang berbeda Senin ini, aku sedang berada di hotel. Selain itu ada ibu, adik perempuan, dan utiku yang sedang beraktivitas. Ada yang sedang mandi, membereskan pakaian, dan ada juga yang lagi menelepon.
“Eh, cucu bujang udah bangun” ucap utiku.
Aku tersenyum dan pergi berkaca di cermin yang ada di wastafel. Acak-acak sekali rambutku. Segera kunyalakan keran untuk membasuh muka. Kini wajahku terlihat lebih baik meskipun aura kantuknya masih tersisa.
Sejak hari ini sampai Rabu, aku izin kepada wali kelasku untuk tidak masuk sekolah. Beberapa anggota keluargaku jauh-jauh datang dari Balikpapan untuk menjenguk diriku. Sekitar 5 bulan aku sudah tidak bertemu mereka. Terakhir kali aku melihat wajah mereka adalah ketika berpamitan di bandara untuk pergi berangkat kembali ke Semarang. Keluargaku pergi menjenguk lantaran liburan Desember nanti aku tidak pulang. Aku mengkhawatirkan asap karhutla yang masih menyelimuti Kalimantan sebab paru-paruku sensitif dengan udara. Maka dari itu, liburan Desember nanti aku akan pergi ke Mojokerto untuk melihat mbah, sepupu, pakde, dan budeku, serta mendatangi sejumlah kawanku di Surabaya.
Hari ini keluargaku mengajakku liburan singkat ke Yogyakarta. Ini adalah kali keenam aku pergi ke daerah istimewa itu. Aku sedikit senang mendengar kabar itu, dengan begitu aku bisa menikmati transportasi umum yang kusukai, KRL. Selain itu, aku hendak pergi ke tujuan utamaku yaitu toko CSM Tacticool Gear yang menjual perlengkapan taktis secara kustom. Produk mereka populer terutama di kalangan airsofter hingga aparat. Aku sendiri adalah pengguna produk mereka, yakni rompi JPC 1.0 yang memiliki corak loreng populer Multicam dan sering kupakai ketika bermain airsoft maupun tactical cosplay.
Perjalanan dimulai saat aku menaiki travel dari Semarang menuju Yogyakarta. Butuh waktu sekitar hampir 3 jam untuk sampai di Yogyakarta dengan melewati sejumlah daerah seperti Ungaran, Ambarawa, dan Magelang. Aku menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur serta menamatkan buku yang baru kubeli, Semua Untuk Hindia karangan Iksaka Banu. Buku itu baru kubeli kemarin di Gramedia Jalma Pandanaran dan sudah 93 halaman kulewati. Buku ini sebenarnya diisi banyak cerpen dengan salah satu judul cerita yang dijadikan nama buku ini. Detail buku ini akan kuceritakan lain waktu.
Sesampainya di Jogja, aku segera menuju hotel yang ada di kawasan populer Malioboro. Setelah berpamitan, aku pergi menuju Stasiun Tugu Yogyakarta yang tidak jauh dari kawasan itu dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju stasiun kulihat suasana di sekitar. Malioboro rasanya hampir tidak pernah mati dan selalu ramai dengan orang dan kendaraan yang lalu lalang meski bukan tanggal atau bulan liburan. Namun, tetap saja suasananya tidak seramai waktu liburan. Sejak aku pertama kali pergi ke Jogja hingga sekarang, aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda secara perasaan dari diriku. Meski rasanya trotoar kini lebih luas, tidak ada sesuatu yang spesial bagiku. Ini memunculkan pertanyaan dari pikiranku yang belum terjawab hingga hari ini,
“Apa yang istimewa dan menarik dari Malioboro?”
Aku mempercepat langkahku setelah beberapa pengemis dan penjual mendatangiku. Tidak nyaman rasanya, tapi inilah wajah Malioboro selain wisatawan. Sesampainya di Stasiun Tugu, aku segera menuju loket untuk mengisi saldo kartu KMT-ku dan pergi menuju peron duduk menunggu kereta komuter. Saat kereta komuter datang, bersegera diriku untuk mengincar rangkaian kereta keempat dan kelima karena tujuanku, Stasiun Maguwo, tidak memiliki peron yang panjang. Perlu waktu yang cukup lama untuk kereta berangkat sebab Stasiun Tugu adalah stasiun terakhir di jalur KRL Jogja-Solo jika pergi dari arah Surakarta.
Kereta berangkat dan stasiun Maguwo adalah urutan ketiga di jalur ini. Perlu waktu sekitar 12 menit untuk sampai di tujuan. Setelah kereta tiba, aku bergegas turun dan menyeberang jalur rel untuk keluar dari stasiun itu. Lokasi stasiun Maguwo berada di kawasan Bandara Adisutjipto sehingga terdengar bising suara mesin pesawat. Aku segera memesan Grab untuk pergi ke lokasi toko CSM.
Perlu waktu 8-12 menit untuk sampai di toko CSM. Seturunnya dari mobil, aku melihat bangunan kecil di depan mataku. Bangunan toko itu sederhana, jauh dari ekspektasi yang ada di kepalaku. Bangunan itu berbentuk seperti kubus dengan atap berwarna merah serta sunblast yang dilapisi gambar barang-barang taktis. Kubuka pintu dan diriku disambut seorang lelaki brewokan.
“Selamat datang ya Mas. Maaf kalau berantakan, lagi buat pesanannya orang soalnya” ucap ramah lelaki brewok itu sambil mencari sapu.
Banyak potongan kain cordura dan velcro yang berserakan di lantai. Potongan velcro segera mengganjal di kaos kakiku memberikan sensasi kasar pada telapak kaki.
“Jarang-jarang lho Mas ada yang datang langsung kesini. Masnya ini bisa dihitung jari orang keberapa yang datang langsung kesini di tahun ini” seorang lelaki gempal menambahkan dan baru saja muncul dari kolong meja sambil memegang jarum dan benang.
Aku mengerutkan alis dan bertanya kembali kepada dua orang lelaki itu, apa benar demikian lalu mereka mengiakan pertanyaanku. Kata mereka, mayoritas pembeli membeli melalui e-commerce seperti Toco dan Tokopedia.
“Om, Saya mau buat gear Rusia. Ada jual GP pouch sama Utility pouch yang panjang loreng Multicam kah ?”
“Oh, Multicam ya Mas ? Gak EMR atau ATACS-FG Mas ?” respon Om brewok itu
“Mau buat Impresi PMC Wagner sama FSB Om mankanya ambil Multicam. Kalau BDUnya baru saya pakai ATACS-FG” tanggapku sambil melihat barang-barang disekitar.
“Oh sebentar Mas, tak cari dulu. Kalau gak salah kemaren ada sisa satu di kontainer”
Ia kemudian mencari dan menyodorkan kedua barang itu kepadaku. Alisku terangkat merasa berhasil mendapatkan barang yang selama ini kucari-cari.
“Dua pouch ini harganya berapa Om ?” tanyaku
“Ini GP Pouch 160.000 sama Utility pouchnya 180.000” seingatku mereka menjawab demikian.
Kembali terbelalak mataku tidak percaya dengan harganya. Lumayan murah dibanding di e-commerce. Aku pernah membeli produk mereka sebelumnya melalui Tokopedia yakni Dangler Pouch yang dipasang disekitar area vital dan berfungsi sebagai penyimpanan tambahan serta perlindungan kecil bagi area vital dari tembakan BB airsoftgun.
Kupastikan kembali kepada Om brewok itu tentang harga barangnya, sebab, kalau kubeli melalui e-commerce perbedaan harga bisa sekitar 20.000 hingga 100.000 rupiah. Perbedaan harga yang sangat berarti bagiku terlebih diriku masih seorang pelajar yang belum bisa menghasilkan uang sendiri.
“Iya mas memang segitu harganya. Harga di Tokopedia sama Toco memang kami kasih lebih tinggi karena potongan admin buat kami lumayan mas, Jadi kami harus menaikkan harganya biar tetap untung” kata lelaki gempal itu.
Mereka menjelaskan kepadaku bahwa kenikmatan kupon ongkir dan diskon besar suatu barang bagi konsumen membuat penjual nangis darah. Penjual mau tidak mau harus menanggung potongan admin bagi produk mereka yang berdampak bagi keuntungan mereka. Maka dari itu, mau tidak mau penjual harus menaikkan harga agar mereka tetap untung. Cukup prihatin, tetapi aku akhirnya mendapatkan pengetahuan darimana keuntungan penyedia website e-commerce.
“Mankanya Mas. Kalau Masnya datang langsung kesini atau beli lewat Whatsapp pasti harganya cukup beda” Tambah Om brewok itu.
Dari arah pintu masuk toko, bagian samping ada rak wiremesh yang berisi penyimpanan tambahan seperti pouch berukuran sedang maupun kecil. Selain itu, ada pula kaos bertemakan militer dan airsoft digantung disana. Sisi depan berisi rak hanger yang berisi kemeja dan jaket dengan berbagai corak loreng, mulai dari loreng sejuta umat Multicam, loreng MTP Inggris hingga koleksi loreng militer Amerika Serikat seperti ACU dari era perang Afghanistan, Tigerstripe dari era perang Vietnam dan M81 Woodland dari era operasi just cause di Panama. Sementara itu, di sisi kanan dari pintu masuk terdapat berbagai jenis rompi pembawa plat anti peluru, mulai dari JPC seperti milikku hingga LBT-6094.
Beberapa rompi yang dibuat menggunakan corak loreng yang unik. Ada rompi jenis CPC yang menggunakan loreng Frogskin Amerika dari era Perang Dunia ke II di Pasifik dan Chest Rig model Zulu dengan loreng Jietai milik pasukan beladiri Jepang.
Kemeja loreng M81 Woodland cukup memikat perhatianku sebab keinginanku mengoleksi benda militer Amerika Serikat lain selain satu set sabuk M-1956ku. Selain itu juga, pola kamuflase Woodland cukup banyak digunakan di zamannya menyebabkan kemudahan dalam membangun jenis impresi seperti diriku yang ingin membuat impresi pasukan ARBiH Bosnia dari era perang saudara Yugoslavia.
“Om, saya boleh nyoba pakai jaket sama kemejanya ?” Tanyaku penasaran segera ingin memakainya.
“Boleh mas. Silahkan” Om brewok itu memperbolehkannya
Aku mencoba memakai jaket loreng Multicam dan OCP lalu kemeja Woodland dan TIgerstripe. Kami berdiskusi mengenai perbedaan corak loreng OCP dan Multicam yang mirip karena corak OCP mengambil dasar dari Multicam. Tidak hanya itu, kami juga membahas pola loreng lain seperti EMR, ATACS-FG, dan loreng legendaris Britania Raya, DPM serta MTP.
Aku menanyakan darimana mereka mendapatkan kain pola loreng seperti ini dan bagaimana mereka memproduksinya. Mereka menjawab kalau mereka mengimpor pola loreng tertentu seperti Tigerstripe dan Jietai karena langka di Indonesia. Namun, mereka menggunakan penjahit lokal sebagai produsennya dan toko mereka hanya bertugas sebagai finisher dari produk yang sudah dibuat.
Selain melihat produk dan mencoba seragam produksi mereka, aku juga berbincang mengenai perkembangan komunitas Airsoft yang ada di Indonesia dengan penjual, khususnya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Rupanya, komunitas di pulau Jawa jauh lebih aktif ketimbang di tempatku, Balikpapan. Meski begitu, beberapa airsofter dari Kaltim juga dikenal di kalangan komunitas pulau Jawa terutama yang berasal dari Samarinda dan Kutai Kartanegara sebab mereka terkadang mengikuti acara wargame maupun turnamen yang ada di pulau Jawa. Aku harap, suatu hari nanti INASSOC Kalimantan Timur serta komunitasku, BSA, bisa berkembang seperti komunitas airsoft di pulau Jawa.
Sebelum aku mengeluarkan dompetku untuk membayar, Om brewok itu berkata padaku :
“Oh ya Mas. Masnya saya kasih diskon 25% dah karena udah jauh-jauh datang dari sini. Tak bonusin patch PMC Wagner juga karena masnya kan mau buat impresi Mercenaries Rusia ya”
Mulutku sedikit ternganga. Segera aku tambahkan barang belanjaanku berupa tas minimap kecil untuk bagian belakang rompi JPC ku. Total belanjaanku menjadi sekitar 600.000 rupiah. Bahagia sekali rasanya hari itu.
Seusai membayar, aku menyempatkan berfoto dengan om brewok itu sebagai pemilik toko dan berpamitan serta mengucapkan kata Terima Kasih.
Aku kembali menuju stasiun Maguwo untuk kembali ke hotel. Sesampainya aku di stasiun, tentunya aku harus menyusuri jalan Malioboro lagi. Matahari sudah terbenam dan angin mulai berhembus di kawasan itu. Kali ini pengunjung lebih ramai. Musisi jalanan, penjual, dokar, becak dan pengemis berbaur dalam keramaian malam ini dan lagi-lagi aku berusaha mempercepat langkahku. Akan tetapi, perasaanku berkata lain. Sisi lain dari diriku menyuruhku untuk menikmati suasana dan angin sepoi-sepoi di jalan Malioboro. Aku menuruti kemauan diriku yang lain itu dan pertanyaan kembali muncul dari kepalaku
“Apa yang istimewa dari Malioboro ?”
“Oh iya, nama Om-om brewok tadi siapa ?”
***
Perlengkapan Taktis & Pakaian (Gear & Pouches)BDU (Battle Dress Uniform): Seragam dinas lapangan atau pakaian tempur standar yang biasa digunakan oleh personel militer.Chest Rig: Perlengkapan taktis yang dipakai di dada untuk membawa magasin peluru dan perlengkapan lain. Didesain lebih ringan dibandingkan plate carrier karena tidak memiliki slot untuk pelat anti-peluru.Cordura: Jenis kain nilon berkualitas tinggi yang tahan gesekan dan goresan, menjadi standar bahan pembuatan perlengkapan militer.CPC (CAGE Plate Carrier): Model rompi taktis yang dirancang untuk mendistribusikan beban berat dengan sangat baik ke tubuh pengguna, biasanya memiliki kerangka/desain yang lebih kompleks dari JPC.Dangler Pouch: Kantung tambahan yang dipasang menggantung di bagian bawah depan plate carrier (di sekitar area perut/vital) untuk ruang simpan ekstra sekaligus perlindungan tambahan.GP Pouch (General Purpose Pouch): Kantung serbaguna berukuran sedang yang dipasang pada rompi untuk menyimpan barang-barang umum.JPC 1.0 (Jumpable Plate Carrier): Model rompi taktis yang ringan, minimalis, dan fleksibel, sangat populer di kalangan militer asli maupun airsofter.LBT-6094: Model rompi taktis klasik yang lebih tebal, kokoh, dan mampu membawa beban perlengkapan yang lebih berat.Minimap Pouch: Tas/kantong kecil yang dipasang di bagian punggung plate carrier untuk membawa kantong air minum (hydration bladder) atau perlengkapan kecil lainnya.Patch: Emblem atau lencana kain yang menempel menggunakan velcro pada seragam atau rompi taktis sebagai penanda unit, bendera negara, atau sekadar aksesoris gaya.Plate Carrier: Rompi taktis yang dirancang khusus untuk menampung pelat pelindung (anti-peluru).Utility Pouch: Kantung penyimpanan tambahan untuk membawa perlengkapan medis, perbekalan, atau alat cadangan.Velcro: Perekat kain kasar-halus yang digunakan pada seragam dan perlengkapan taktis untuk menempelkan patch (emblem) atau menutup kantung.
Pola Kamuflase / Motif LorengACU (Army Combat Uniform / UCP): Pola kamuflase digital berpiksel dengan nuansa abu-abu kehijauan yang digunakan militer AS era Perang Afghanistan/Irak pertengahan 2000-an.ATACS-FG (Advanced Tactical Concealment System - Foliage Green): Pola kamuflase modern yang dirancang menyerupai bayangan dan dedaunan untuk membaur di lingkungan hutan lebat atau vegetasi hijau.DPM (Disruptive Pattern Material): Pola loreng klasik legendaris milik militer Britania Raya (Inggris) sebelum akhirnya digantikan oleh pola MTP.EMR (Edinaya Maskirovochnaya Raskraska): Dikenal juga sebagai Digital Flora, ini adalah pola kamuflase digital yang menjadi standar militer Rusia saat ini.Frogskin: Pola loreng tua milik Amerika Serikat yang terkenal digunakan oleh Korps Marinir AS (USMC) pada era Perang Dunia II di palagan Pasifik.Jietai (Jieitai Camouflage): Pola loreng khusus yang digunakan oleh JSDF (Japan Self-Defense Forces / Pasukan Bela Diri Jepang), dirancang khusus untuk bersembunyi di vegetasi kepulauan Jepang.M81 Woodland: Pola loreng klasik khas militer Amerika Serikat era 1980-an dengan paduan warna hijau, cokelat, hitam, dan krem.MTP (Multi-Terrain Pattern): Pola loreng standar militer Britania Raya (Inggris) modern yang memadukan desain goresan DPM dengan warna dasar dari Multicam.Multicam: Pola kamuflase modern yang sangat populer, dirancang efektif untuk menyamarkan pengguna di berbagai kondisi lingkungan (hutan, gurun, hingga perkotaan).OCP (Operational Camouflage Pattern): Pola loreng standar militer Amerika Serikat saat ini. Memiliki kemiripan dan mengambil basis dasar dari pola Multicam.Tigerstripe: Pola loreng berbentuk garis-garis mendatar menyerupai kulit macan, sangat populer digunakan oleh pasukan khusus pada era Perang Vietnam.
Unit Militer & InstitusiARBiH (Armija Republike Bosne i Hercegovine): Tentara Republik Bosnia dan Herzegovina pada era Perang Saudara Yugoslavia (1992–1995).FSB (Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti): Badan Keamanan Federal Federasi Rusia (penerus KGB). Pasukan khusus mereka sering menjadi inspirasi impresi di kalangan airsofter.PMC (Private Military Company): Perusahaan penyedia jasa militer swasta atau tentara bayaran profesional.PMC Wagner: Salah satu entitas perusahaan militer swasta (tentara bayaran) asal Rusia.
ALAMAT TOKO DAN KONTAK CSM TACTICOOL GEAR :
Kadipolo, Sendangtirto, Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55573
No Telpon : +62567471000
Instagram : @csmtacticoolgears