Dari Bahaya Scrolling Hingga Optimasi Otak: Rangkuman Podcast Suara Berkelas bersama dr. Rian Keswani

Kenapa otak kita semakin lama semakin lemot?

Sep 16, 2026 - acoy

Pada podcast suara berkelas kali ini, kita kedatangan salah satu bintang tamu yaitu Dokter Rian Keswani. Bintang tamu kita yang spesial ini bekerja di bidang bedah saraf, khususnya pada kasus tumor otak. Pada awal video, dijelaskan bahwa sebenarnya otak kita itu bersifat adaptif dan terus merestrukturisasi jalur saraf dengan berdasarkan kebiasaan sehari-hari.

Sebenarnya, rasa bingung, pusing, atau frustrasi saat sedang mempelajari hal baru merupakan tanda alami dari otak, bahwa otak kita sedang membuat koneksi saraf baru. Sensasi tidak nyaman ini justru menjadi indikator utama bahwa aktivitas belajar kita sedang berjalan. Pada generasi yang sudah mulai maju ini, kebanyakan anak muda mulai kecanduan dengan kegiatan yang bernama scrolling.


Kegiatan scrolling tidak dapat berhenti, jika tidak muncul kesadaran diri dari masing-masing pribadi. Kegiatan tersebut juga dapat membawa dampak biologis yang negatif pada tubuh kita yaitu dengan meningkatkan laju dopamin secara cepat yang disusul oleh penurunan sistem otak secara drastis.

Dampak dari efek biologis ini adalah akan muncul rasa bosan dan cemas jika berhenti menonton video-video pendek tersebut, dengan munculnya rasa tidak nyaman kita akan melakukan scrolling tanpa henti, yang secara tidak langsung dapat mengganggu seluruh aktivitas kita.


Tidak hanya mengganggu aktivitas kita, kegiatan scrolling juga dapat mengikis ketahanan kita pada kegiatan yang membutuhkan fokus secara mendalam, seperti membaca buku atau belajar dengan waktu yang cukup lama, dengan tipisnya pertahanan kita nanti, kita akan otomatis bosan jika sedang melakukan aktivitas seperti yang sudah disebutkan.

Secara alami, otak kita sangat menyukai tantangan. Jika kita tidak memberikan tantangan kepada otak kita, otak kita akan mengecil. Tetapi, otak kita juga tidak suka dengan tantangan yang sangat sulit, justru otak kita suka dengan tantangan yang berkembang tingkat kesulitannya.


Oleh karena itu, ketika ingin membangun kebiasaan baru atau mempelajari keterampilan rumit, kuncinya adalah dengan menekan hambatan awal serendah mungkin. Rasa malas sering kali muncul bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena tingkat kesulitan di awal terasa terlalu membebani mental.


Kamu bisa mengakalinya dengan menurunkan tingkat gesekan fisik dan pikiran, misalnya menyiapkan peralatan yang dibutuhkan sejak malam sebelumnya atau cukup berkomitmen untuk mencoba selama dua menit saja.

Begitu melangkah di dua menit pertama, otak akan jauh lebih mudah untuk melanjutkan aktivitas tersebut sampai selesai.

Selain mengelola tantangan mental, menjaga kondisi fisik juga memegang peranan vital dalam meningkatkan performa saraf. Saat kamu tidur nyenyak, sistem pembersihan alami di dalam otak akan bekerja secara aktif dengan membuang racun sisa metabolisme seharian, sekaligus memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Tidur yang cukup membuat fungsi otak tetap optimal dan tidak gampang lelah.


Kualitas tidur ini perlu ditunjang dengan aktivitas fisik yang teratur, seperti latihan kekuatan otot dan kardio. Olahraga secara rutin merangsang pelepasan protein khusus yang berfungsi memperbaiki serta menumbuhkan sel-sel saraf baru, sekaligus melancarkan aliran darah ke otak.


Membiasakan pola hidup sehat ini sejak muda bukan cuma bikin fokus kamu makin tajam sekarang, tapi juga jadi investasi jangka panjang buat mencegah penyakit degeneratif seperti stroke saat memasuki usia lanjut nanti.


More Posts