Lah, ini mah our kisah
Dalam bentuk toleransi, Natal tinggal beberapa minggu lagi. Kalimantan sudah lebih dulu mengirim kartu ucapan. Kartu itu berisi abu dan pita asap tipis. Pengirimnya selalu sama setiap tahun, begitu juga penerimanya, yaitu kita, yang juga terkejut setiap tahun. Lantas bagaimanakah kondisi ini dari perspektif analogi kreatif jika dikaitkan dengan lagu "Merry Christmas, Please Don't Call" yang sedang viral saat ini?
“Oh, golden boy, don't act like you were kind. You were mine, but you were awful every time”
Baris pembuka reff meminta agar ucapan pribadi tidak disebarkan kepada orang lain. Di Kalimantan, ini merujuk pada janji lapangan kerja dan pembangunan yang mengikuti izin konsesi. Walhi mencatat bahwa sebagian besar titik panas di Kalimantan ada di wilayah konsesi perusahaan. Walhi menyebut masalah ada pada tata kelola izin dan lemahnya penegakan hukum (Mongabay). Hutan yang terbakar tidak selalu hutan tanpa pemilik. Hutan itu sering sudah punya sertifikat, peta, dan alamat surat.
“So don't tell them what you told me, don't hold me like you know me”
Larik ini menolak pengakuan akrab di depan orang lain karena pengakuan itu terasa kosong. Pemerintah memang bergerak: izin lima perusahaan dicabut dengan total konsesi 92.464 hektare, termasuk konsesi 3.812 hektare di Lamandau yang area terbakarnya mencapai 497 hektare (Katadata). Langkah ini patut diapresiasi. Namun, koalisi masyarakat sipil menilai keadaan ini memperlihatkan kegagalan mencegah kebakaran, melindungi warga, dan menjatuhkan sanksi tegas kepada korporasi (Greenpeace Indonesia). Dua kubu menyodorkan dua rapor untuk ujian yang sama, dan hutan tidak bisa ikut memberi nilai.
“I would rather burn forever”
Dalam lagu, api menggambarkan rasa sakit yang sengaja diterima. Di Kalimantan, api benar-benar api. Pada 10 Oktober, Kementerian Kehutanan mencatat ada 793 titik panas di Indonesia. Sebanyak 288 titik ada di Kalimantan Tengah (detikKalimantan). Di Palangka Raya, sejak status siaga darurat diberlakukan 1 Juni sampai 8 Oktober, tercatat 1.407,75 hektare lahan terbakar dalam 832 kejadian (Tirto). Sebanyak 832 kali peringatan waspada disampaikan, tapi api tetap muncul. Relawan di kawasan konservasi bahkan menyebarkan surat terbuka berisi video, meminta helikopter water bombing.
“But you should know that I died slow”
Larik selanjutnya menegaskan bahwa kehancuran terjadi perlahan, bukan sekaligus. Dampak kesehatan dari karhutla seperti itu. Kemenkes mencatat 50.891 kasus ISPA akibat asap pada Juli hingga Agustus (Katadata), sedangkan di Kalimantan Barat saja ada 165.747 kasus ISPA selama tujuh bulan (Sindonews/RCTI+). Anak-anak dan lansia paling rentan.
“Running through the halls of your haunted home”
Larik ini menggambarkan seseorang berlari di lorong rumah yang rusak karena ulah orang lain. Di Kalimantan, rumah itu adalah udara yang dihirup bersama. BMKG mencatat sebaran asap dari Kalimantan masuk ke udara Jakarta pada 16 Oktober (Kompas). Kali ini, asap membawa pemerataan yang jarang muncul dari program pembangunan. Warga Jakarta sekarang merasakan apa yang sudah berbulan-bulan dihirup warga Palangka Raya, sebuah bentuk persatuan yang tidak pernah diminta siapa pun.
“And the toughest part is that we both know what happened to you, why you're out on your own”
Larik selanjutnya menyebutkan bahwa kedua pihak sama-sama paham situasinya dan sekarang orang itu menanggung akibatnya sendiri. Karhutla gambut selalu terjadi setiap musim kemarau, dan semua orang sudah tahu penyebabnya: pembukaan lahan, drainase gambut, pengawasan yang lemah. Tidak ada yang benar-benar tidak tahu. Publik sudah yakin bencana ini bisa diprediksi dan dicegah. Yang dipertanyakan adalah kemauan bertindak dan siapa yang akhirnya harus menanggung akibatnya: warga yang menghirup asap, bukan mereka yang membakar lahan.
“Merry Christmas, please don't ̶c̶a̶l̶l̶ burn”
Larik penutup sudah jadi judulnya sendiri: ucapan selamat Natal yang sopan tapi menolak dihubungi. Dalam lagu, seseorang mengucapkan selamat sambil meminta jarak. Dalam kisah kita, jarak itu tidak pernah ada; asap menempel di paru-paru anak-anak, di langit dunia, di agenda rapat yang seharusnya membahas pencegahan sejak Januari. Imbauan memakai masker dan status siaga darurat adalah ucapan selamat yang sopan. Warga sebenarnya menuntut jarak yang nyata antara mereka dan api, yaitu pencegahan, bukan pemadaman setelah semuanya terbakar. Mungkin ucapan yang jujur untuk Kalimantan bukan "selamat Natal", tapi "maaf, kami terlambat lagi." Tahun depan api seperti ini akan datang lagi, dan kita sudah tahu pasti isinya.
Catatan: "Merry Christmas, Please Don't Call" adalah lagu dari Bleachers (proyek Jack Antonoff) yang dirilis lengkap pada November 2024. Lagu ini bergenre synthpop dengan nuansa gelap dan bercerita tentang luka mendalam akibat perpisahan yang menyakitkan. Tujuh bagian di atas masing-masing membahas satu baris reff secara berurutan, dengan penjelasan makna yang sudah ditulis ulang. Lagu ini membahas hubungan pribadi antarmanusia, bukan soal lingkungan. Hubungan ke Kalimantan di sini hanya interpretasi dan analogi kreatif, bukan maksud dari penulis lagu.
Sources