Satu grup sahabat yang sedang berlibur dan hendak pergi ke rawa untuk berswafoto. Namun tiba tiba hutan terbakar.. Apa yang terjadi? Apakah mereka berhasil keluar?
Suatu hari, Kala, Nayya, Nina, dan Bela sedang menjelajahi hutan. Mereka berencana akan melakukan swafoto di rawa yang cantik. Di tengah perjalanan, mereka merekam keindahan hutan tersebut. Tiba tiba, Bela melihat ke kameranya dan melihat asap berwarna abu-abu yang mulai muncul. “Eh, teman-teman, coba lihat ke sini,” ajak Bela kepada Kala, Nayya, dan Nina.
Saat mereka mendekat ke arah Bela, mereka melihat asap abu-abu dan mencium bau gosong yang memenuhi langit. “Apa yang sedang terjadi?” Tanya Kala. “Teman-teman.. Hutan ini sedang terbakar! Ayo pergi dari sini!” Kata Nayya, panik melihat asap hitam itu semakin pekat. Saat hendak pergi dari hutan, kobaran api semakin dekat dan kobaran tersebut merambat dengan cepat. “SEMUA! Naiklah ke rumah pohon di atas sana!” Perintah Nina. Mereka pun naik ke atas rumah pohon yang terletak di atas pohon yang tinggi. Nayya panik, dan ingin segera berlari menuju desa terdekat. Kala pun menenangkan Nayya.
Saat itu, terdengar suara lenguhan yang lemah. “Kalian dengarkan?” Tanya Bela, “ASTAGA! Lihat! Terdapat anak rusa. Sepertinya ia terjepit di antara bebatuan. Ayo selamatkan dia.” Ajak Bela. “Tidak. Aku tidak mau! Api sudah mengelilingi hutan hingga tak ada lagi jalan keluar. Kita berempat saja tidak bisa keluar, apalagi kalau kita membawa anak rusa itu!” Nayya menolak keras ajakan Bela.
“Teman teman, kita akan keluar dari sini bersama sama, dengan anak rusa tersebut. Aku dan Nayya akan menggendong anak rusa tersebut. Bela dan Kala akan mengangkat bebatuan yang menjepit anak rusa. Setelah itu kita akan keluar dan meminta bala bantuan. Paham?” Kata Nina yang dibalas dengan anggukan. Setelah mengangkat dan menggendong anak rusa itu, mereka berlari secepat mungkin. Kala yang membawa peta berteriak mengarahkan mereka ke jalan keluar. Mereka tersedak oleh asap, mata menjadi perih dan merah bagaikan buah cherry.
Saat sudah berhasil lolos dari kobaran api. Mereka segera melaporkan pada desa terdekat. “Pak, Bu, kami menemukan anak rusa ini di tengah kobaran api. Bisakah bapak dan ibu menelpon bala bantuan dan tim medis?” Kata Nina dengan nafas terengah-engah. “Terima kasih, Nak. Kami sudah melapor, mereka akan tiba sebentar lagi. Kalian tidak apa apa kan? Istirahatlah sembari menunggu jemputan.” Nina, Kala, Nayya, dan Bela mendapatkan pengobatan darurat oleh ibu ibu di desa tersebut.
Saat sudah dijemput, tampak kekhawatiran di muka orangtua Nina, Nayya, Kala, dan Bela. “Kamu tidak apa-apa kan? Ibu sungguh mengkhawatirkanmu..” Kata sang ibu. “Aku tidak apa-apa bu” Jawab Nayya. Nina langsung memeluk sang ibunda, sembari mengatakan “Ibu aku takut, aku takut. Apakah aku melakukan hal yang benar?”. Sedangkan Kala dan Bela si kembar langsung menangis saat bertemu ibu. “Bapak dan ibu sekalian, saya berterima kasih kepada anak anak bapak dan ibu. Berkat mereka, hutan berhasil diselamatkan, dan semua hewan juga berhasil dievakuasi. Warga yang tinggal dekat di hutan juga sudah mengungsi. Sepertinya hari ini sudah cukup melelahkan bagi mereka, kami menawarkan tempat untuk beristirahat jika anak anak dan bapak ibu berkenan..” Akhirnya, mereka semua beristirahat di desa tersebut untuk satu hari satu malam.
Saat pagi datang, Nina dan teman teman memutuskan untuk bergotong royong dan membersihkan jalanan desa. Saat sedang membersihkan, mereka tanpa sengaja melihat pria. Pria itu tampak sedang membakar sampah dan membuangnya sembarangan. Melihat hal itu, Kala menegur pria tersebut bahwa apa yang ia lakukan tidak baik untuk lingkungan dan dapat membuat hutan serta lingkungan sekitar terbakar. Pria tersebut kemudian meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi nya lagi.
Sehari pun berlalu. Mereka kembali ke tempat tinggal masing masing. Sejak saat itu, Kala, Nayya, Nina, dan Bela semakin peduli kepada lingkungan sekitar. “Kasihan ya, di hutan hangus, di kebun binatang terkurung..” Kata Bela yang masih terpikirkan oleh Nina.