Saat Inggris terjebak di “Neraka” Jawa-Sumatera, Australia bersimpati untuk Indonesia Merdeka !

Secuil kisah masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1946)

2026-09-03 07:34:21 - Sastra

Setelah menyerahnya Kekaisaran Jepang kepada pihak sekutu pada 15 Agustus 1945 dan Konferensi Potsdam (1945), pasukan Sekutu ditugaskan ke Hindia Belanda untuk menyelamatkan serta mengurus tawanan perang sekutu, Interniran Eropa dan memulangkan tentara Jepang ke negara asalnya. Selain itu, Sekutu juga ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban sementara hingga kembalinya pemerintahan sipil yang artinya pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Maka dari itu pada September 1945, serdadu Inggris mendarat di Indonesia dibawah komando SEAC (Southeast Asian Command). Pasukan Sekutu yang ditugaskan di Hindia Belanda ini disebut sebagai AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Mereka dibawah komando seorang Letnan Jenderal yang bernama Sir Philip Christison. 


Pada awal kedatangannya, pasukan Sekutu disambut baik oleh otoritas Republik yang baru berdiri. Misalnya pada 20 Oktober 1945 ketika Inggris mendarat di Semarang, mereka disambut baik oleh gubernur Jawa Tengah saat itu Wongsonegoro dan masyarakat setempat. Saat itu Wongsonegoro bersedia memberi bantuan logistik kepada pihak Inggris. Hal yang tidak diketahui oleh pihak Republik bahwa operasi evakuasi tawanan dan interniran ini diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tentara Inggris bergerak menuju pedalaman untuk mencari kamp-kamp Jepang yang tersisa. Untuk melaksanakan tugas ini Inggris mengerahkan 60.000 pasukan. Sebanyak 45.000 berada di Pulau Jawa dan sisanya berada di Sumatera. 


Sambutan baik pihak Republik ini berubah menjadi kecurigaan setelah mengetahui Inggris membantu Belanda kembali berkuasa melalui NICA di Indonesia. Selain itu, rupanya Inggris juga mempersenjatai kembali tawanan perang Sekutu dan mantan tentara Jepang yang berada di pihak mereka. Hal-hal ini menyebabkan keributan di beberapa titik di Jawa dan Sumatera. Misalnya, Pertempuran Magelang yang terjadi pada 26 Oktober 1945 disebabkan aksi Inggris yang diam-diam mempersenjatai kembali tawanan.


Menurut beberapa sumber, mantan pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) yang kembali dipersenjatai berperilaku secara serampangan. Mereka penuh dengan rasa dendam terhadap orang Indonesia serta sarat akan kekerasan. Selain itu mereka juga sulit dikendalikan dan tidak disiplin.


Sejatinya Inggris tidak memiliki niat untuk berurusan dengan pihak Republik. Bagi Inggris hubungan panas antara Republik dan Belanda adalah urusan kedua pihak dan Inggris ingin segera menyelesaikan tugasnya. Akan tetapi tindakan Inggris yang membonceng NICA selama operasinya di Hindia Belanda menyebabkan hal itu terjadi. Maka secara terpaksa Inggris harus bertanggung jawab atas tindakannya dengan menghadapi perlawanan gigih rakyat Republik. 


Inggris mulai kewalahan dalam menghadapi perlawanan pihak Republik. Mereka kekurangan logistik dan perbekalan lantaran tugas awal mereka adalah penyelamatan tawanan dan interniran. Di Surabaya Inggris kehilangan seorang Jenderal yang bernama AWS Mallaby di kawasan sebuah jembatan yang kini dikenal sebagai jembatan merah. Penyebab kematiannya hingga hari ini masih diperdebatkan. Kejadian ini kemudian menyebabkan Inggris mengeluarkan ultimatum yang tidak digubris oleh pihak Republik. Dalam Pertempuran Surabaya, Inggris harus menghadapi perlawanan rakyat Surabaya dan Jawa Timur yang tiada habisnya selama 3 minggu. Pertempuran hebat yang terjadi di Surabaya ini membuat Inggris menjuluki pertempuran ini sebagai Neraka di Timur Jawa. Meski pertempuran ini dimenangkan pihak Inggris, mereka menerima korban yang cukup besar sebanyak 400-2.000 orang. Sementara itu, jumlah korban lebih besar diderita Republik yakni 16.000 orang. 

Inggris juga dipermalukan di Palagan Ambarawa setelah dipaksa mundur oleh pasukan TKR yang dipimpin Kolonel Soedirman. Pasukan Inggris dipaksa mundur dari Ambarawa dan kembali ke Semarang setelah dikepung oleh TKR selama empat hari empat malam. 


Setelah banyaknya musibah yang menimpa pasukan Inggris, perlawanan rakyat Republik menyadarkan Inggris dengan segera. Inggris sadar bahwa Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945 bukanlah boneka Jepang seperti yang dituduhkan Belanda. Republik ini bukan negara yang tidak memiliki dukungan rakyat yang besar dan mereka benar-benar ingin merdeka. Oleh sebab itu, Inggris memaksa Belanda untuk duduk berunding dengan pihak Republik. 


Belanda menganggap tindakan Inggris sebagai pengkhianatan terhadap Belanda. Belanda merasa harga diri dan kedudukan hukumnya dipermalukan oleh Inggris. Melalui seorang diplomat yang bernama Lord Killearn, Inggris menjadi penengah dalam perundingan Indonesia dan Belanda yang kemudian dikenal sebagai perjanjian Linggarjati. Dalam perjanjian ini Belanda secara de facto mengakui Jawa, Sumatera dan Madura adalah wilayah Republik. 


Aksi militer Inggris ini sebenarnya mendapatkan kecaman dari dalam negeri Inggris sendiri. Kubu sayap kiri di dalam parlemen Inggris mengecam aksi militer Inggris di Hindia Belanda dan mendesak penarikan pasukan. Maka secara resmi Inggris memutuskan untuk meninggalkan Indonesia pada November 1946 dan posisi mereka digantikan oleh Belanda. 

Nasib yang dialami oleh Inggris ini jauh berbeda dengan nasib serdadu Australia yang berada di bagian Timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Serdadu Australia juga mendapatkan tugas yang mirip dengan apa yang dilakukan Inggris di Jawa dan Sumatera akan tetapi mereka datang melalui operasi pembebasan seperti operasi Oboe 1 dan 2 di Tarakan dan Balikpapan yang terjadi sebelum proklamasi Republik Indonesia. Operasi pembebasan Australia ini dibawah komando SWPA (Southwest Pacific Area) pimpinan Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat. Namun, setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2, komando mereka dialihkan ke SEAC. 


Serdadu Australia cenderung diterima oleh penduduk setempat. Mereka menghormati penduduk asli dan fokus melakukan pengamanan serta bantuan kemanusiaan. Beberapa diantara serdadu Australia itu bahkan mendukung kemerdekaan Republik Indonesia sebab mengaku muak melihat tindakan angkuh dan kejam pejabat NICA. Otoritas NICA mengaku dibuat gusar dengan sikap serdadu Australia yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan dan memberikan bantuan kepada Republik. 



Di Banjarmasin misalnya, pada 10 Oktober 1945, pasukan Australia yang berniat menghadang gerakan massa pemuda Banjarmasin untuk berdemo dan menyerbu kantor NICA, memilih mengalihkan arus massa menjadi pawai keliling kota. Mereka, The Diggers (sebutan bagi pasukan Australia yang bertugas di Kalimantan) membantu menyebarkan selebaran dukungan kepada pihak Republik. 


Dukungan Australia tidak datang dari serdadu yang bertugas di lapangan saja. Buruh pelabuhan Australia juga melakukan pemogokan kerja terhadap kapal-kapal Belanda yang ingin kembali ke Indonesia. Serikat buruh menghalang-halangi upaya Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia. Mereka melakukan boikot dengan menolak mengisi muatan dan bahan bakar kapal-kapal Belanda. Aksi ini adalah bentuk solidaritas kepada Republik Indonesia yang baru berdiri. 


Atas aksi-aksi itu, Belanda mengajukan protes kepada pihak Australia. Setelah proses yang panjang akhirnya Australia bersedia menarik mundur pasukannya yang tersisa dengan titik penjemputan di Balikpapan secara berangsur-angsur sejak November 1945-Februari 1946. Pasukan Australia ini kemudian digantikan oleh KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger). 

SUMBER : 


Tim Penulis ODGOI. (2023).Melewati Batas : Kekerasan Ekstrem Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia


Wirayudha, R. (2024, Agustus 22). Simpati Serdadu Australia terhadap Kemerdekaan Indonesia. Historia.Id https://www.historia.id/article/simpati-serdadu-australia-terhadap-kemerdekaan-indonesia-vxedr 


Isnaeni, H.F. (2010, April 8). Joris Ivens dan Dukungan Buruh Australia untuk Indonesia. Historia.Idhttps://www.historia.id/article/joris-ivens-dan-dukungan-buruh-australia-untuk-indonesia-dbm56 


Mukhti, M.F. (2024, Juli 30). Raksasa Perang Dunia Dipermalukan di Ambarawa. Historia.idhttps://www.historia.id/article/raksasa-perang-dunia-dipermalukan-di-ambarawa 

More Posts