Sang Kuda Hitam dari Danau Como
Di balik gemerlap Danau Como, sebuah sejarah sepak bola sedang dipahat. Sosok sentral di balik keajaiban ini adalah Mirwan Suwarso, sang Presiden Klub yang memimpin perombakan total Como 1907. Tak cuma soal urusan pemain, Mirwan mengambil langkah berani dengan merenovasi Stadion Giuseppe Sinigaglia secara maraton demi memenuhi standar ketat UEFA agar Como bisa berlaga di Liga Champions di rumah mereka sendiri. Dari pembenahan fasilitas pencahayaan, kapasitas tribun, hingga modernisasi infrastruktur media, keberaniannya menyulap stadion tua itu menjadi arena siap tempur kelas Eropa.
Ambisi besar Mirwan di luar lapangan berpadu sempurna dengan tangan dingin Cesc Fàbregas di pinggir lapangan. Hasilnya, Como bertransformasi dari tim yang dipandang sebelah mata menjadi kuda hitam paling mematikan musim ini.
Sensasi mereka di Eropa dibuka pada 11 September 2026 saat melibas RB Leipzig 4-1. Martin Baturina membuka keunggulan di menit ke-15, disusul gol Anastasios Douvikas (38'), Assane Diao (54'), dan Máximo Perrone (90'). Gemuruh Stadion Sinigaglia yang baru direnovasi itu menjadi saksi bisu keperkasaan pertama Como di panggung para raja.
Ujian kedewasaan sempat datang saat melawat ke markas Feyenoord pada 14 Oktober 2026. Meski Assane Diao membawa Como unggul cepat di menit ke-18 dan Douvikas mencetak gol di injury time (90+3'), gol bunuh diri Robert Sánchez pada menit ke-81 memaksa Como kalah tipis 2-3. Namun, Mirwan dan Fàbregas dengan tenang menjadikan kekalahan itu sebagai bahan evaluasi taktikal.
Puncaknya terjadi pada 21 Oktober 2026 ketika raksasa Inggris, Manchester United, bertamu ke Sinigaglia. Laga baru berjalan dua menit, Nico Paz langsung membakar semangat publik tuan rumah. Douvikas menambah keunggulan di menit ke-49, diikuti gol kedua Nico Paz (57') dan sepakan Jacobo Ramón (76'). Manchester United hanya mampu membalas lewat Joshua Zirkzee (90+1'), mengunci kemenangan telak 4-1 bagi Como.
Kerja keras Mirwan Suwarso membawakan infrastruktur kelas dunia kini dibayar tuntas oleh performa anak asuh Fàbregas. Mengemas 6 poin berharga dari dua pembantaian besar dan satu kekalahan tipis, Como membuktikan bahwa visi kepemimpinan yang tepat sanggup meruntuhkan tembok raksasa Eropa.