Senja yang Menitipkan Rindu
Ternyata rindu bukan tentang siapa yang pergi, tetapi tentang siapa yang akan terus bertahan. Kisah tentang...baca sendiri lah yaa
2025-12-03 00:25:02 - Chel
Langit siang ini berwarna kelabu, seolah ikut menggambarkan pikiran Embun yang masih kalut memikirkan akan kuliah di mana. Angin tipis menyusup lewat jendela kamar, menggerakkan kelambu seakan ingin menyapa dan memainkan lembaran kertas soal UTBK. Meja kayu kecil itu terasa sesak oleh tumpukan buku tebal, lembar-lembar soal UTBK, dan coretan angka tak beraturan.
Embun menggeletakkan kepala di atas meja, tangannya lemas setelah menulis berjam-jam. Pulpen yang ia gunakan pun tinggal tersisa sedikit tinta di ujung pulpennya. Seakan menggambarkan semangatnya yang mulai menipis.
“Nak, makan dulu.” Suara lembut ibu Devi terdengar dari ruang makan, diiringi aroma tumisan yang samar.
“Iya, Bu… sebentar,” jawab Embun pelan, tapi tubuhnya tetap tak bergerak.
Tak lama, terdengar langkah kaki ringan disertai nyanyian sumbang. Nopal, adik satu-satunya, sudah berdiri di depan pintu sambil menatap kakaknya dengan wajah iseng.
“Mbak, ayo makan. Jangan makan soal mulu, nanti gundul otaknya,” godanya sambil terkekeh.
“Iya, iya, Pal. Ini sebentar lagi.” Embun mulai merapikan kertas-kertas yang berhamburan.
“Gacapekkah mbak ngerjain soal setiap hari? Nopal aja ngelihatnyaudahcapek sendiri loh,” celoteh Nopal prihatin melihat kondisi Embun.
“Ya gimana, Pal. Mbakpengen yang terbaik. Kalau bisa kuliah di PTN top, kan Ibu Bapak juga pasti bangga,” Jelas Embun.
Nopal mendengus. “Iya sih, tapi kalau Mbak kuliahnya jauh gimana? Nanti aku nggak punya temen nonton lagi dong,” tanya Nopal sambil memasang muka cemberut.
Embun tertawa kecil, mengelus rambut adiknya. “Kan bisa telepon. Kalau libur, kamu bisa nyusul Mbak ke kosan.”
Dari ruang makan, suara berat Bapak Hendra terdengar menggoda, “Embun, Nopal, cepet! Nanti keburu dingin masakan Ibu Devi.”
“Nggih, Ibu Devi dan Bapak Hendra,” sahut mereka kompak, lalu tertawa keras.
Ibu tersenyum sambil memukul lengan suaminya pelan. “Bapak itu sukanya bercanda mulu.”
Saat duduk di meja makan, bapak memperhatikan wajah Embun yang terlihat lesu. “Kenapa, Nak? Mukamu kayak orang belum makan seminggu aja.”
Ibu menjawab cepat, “Ya jelas lah, bentar lagi mau ditinggal anak gadisnya kuliah.”
“Oh iya? Memang mau kuliah di mana?” tanya bapak sambil menyendok sayur bayam yang masih mengepul.
“Bapak tuh, kerja terus sampai nggak tahu anaknya mau ke mana,” ibu mengomel sambil tersenyum.
Embun cuma terkekeh, matanya menatap kosong ke arah piring. Jemarinya memainkan sendok tanpa sadar. Di balik senyum kecil itu, tersimpan perasaan yang bercampur menjadi satu. Tentang rasa takut gagal, tentang harapan yang ia simpan rapat-rapat agar tak menambah beban orang rumah, dan masih banyak lagi perasaan yang ia pendam.
* * *
Ruang tamu kecil itu terasa tegang, laptop terbuka di atas meja, layarnya menampilkan laman pengumuman SPMB. Suasana benar-benar sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar, seolah ikut menunggu hasil pengumuman itu.
Embun duduk di kursi dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam, tatapan matanya lurus menembus layar yang sejak beberapa menit lalu menampilkan jendela yang sama. Di sampingnya, Nopal mencondongkan badan, matanya tak lepas dari layar. Ibu Devi di sebelah kanan duduk bersedekap, napasnya berat, ujung jarinya mengetuk pelan meja seakan menghitung detik. Bau teh hangat di gelas kecil di depan mereka perlahan mendingin tanpa tersentuh.
“Deg-degan banget, Pal...” bisik Embun sambil menggigit bibir.
“Tenang aja, Mbak. Jangan gugup, ada adik kesayanganmu di sini yang selalu menemanimu,” Nopal bercanda, mencoba memecah suasana.
“Berapa menit lagi?” tanya ibu tanpa melepas pandangan dari layar.
“Dua menit lagi, Bu. Ya Allah... Bismillah...” Waktu berjalan pelan, seolah sengaja mempermainkan mereka.
Tepat pukul 15.00. Jari Embun gemetar di atas tetikus. Tapi ia tidak meng-klik. Diam. Menatap layar kosong. Napasnya berderu kencang.
“Mbak, ayo dibuka. Jangan ditatap aja kayak patung. Kalau lama, biar Nopal yang klik sendiri lho,” kata Nopal.
“Aku takut, Pal...”
“Ya Allah, Mbak... buka aja!”
Klik.
Tulisan biru itu di layar muncul perlahan.
PENGUNGUMAN HASIL SELEKSI SNBT SNPMB 2025
Nomor Peserta: 01234567890
Nama: Embun binti Hendra
Tanggal Lahir: 04 - 04 - 2007
Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT SNPMB 2025 di
PTN: 1355 - Universitas Diponegoro
Program Studi: 133551002 - Kedokteran (Sarjana)
Persyaratan pendaftaran ulang calon mahasiswa baru dapat dilihat di sini.
Anda dapat mencetak kembali Kartu Tanda Peserta UTBK-SNBT 2025 di sini.
“MBAK, LOLOS MBAKK!!” teriak Nopal, memeluk bangga kakaknya.
“Alhamdulillah... terima kasih, ya Allah!” Embun menjerit haru. Embun membalas pelukan hangat adiknya, matanya mulai tergenang air mata.
Ibu Devi ikut menangis dan turut memeluk mereka. “Alhamdulillah Nak, akhirnya...”
Suasana rumah berubah hangat. Tawa, pelukan, air mata, semuanya bercampur.
Tapi di tengah kebahagiaan itu, Embun baru menyadari ada sesuatu yang kurang.
“Loh, Bapak mana Bu? Kok nggak kelihatan dari tadi?”
Senyum ibu perlahan luntur. Ia menatap meja, tangannya gemetar. “Bapak... sudah pergi, Nak.”
“Maksudnya? Pergi ke mana, Bu?”
Ibu berdiri, berjalan ke lemari, lalu mengambil sebuah amplop coklat. Ia menyerahkannya pada Embun dengan mata berkaca-kaca.
“Untuk Embun.”
Embun membuka amplop itu dengan perasaan gundah. Di dalamnya terdapat tiket pesawat dan surat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
“Nak…
Kalau surat ini kalian baca, berarti bapak sudah jauh.
Maaf karena bapak nggak di sana waktu kamu buka hasil SNBT-mu, tapi percayalah, di tempat jauh ini bapak ikut berdoa.
Bapak tahu, jadi dokter itu impianmu, tapi itu juga tanggung jawab yang berat.
Bapak cuma ingin bantu sedikit meringankan jalanmu, walau artinya Bapak harus jauh.
Jadi, Bapak putuskan berangkat kerja ke negeri orang.
Nggak pamit bukan karena nggak sayang... tapi karena Bapak takut, kalau melihat kalian, Bapak nggak bakal kuat ninggalin.
Jangan sedih, Nak. Rindu ini biar Bapak yang tanggung.
Bapak akan baik-baik saja di sini. Belajarlah yang rajin, Nak.
Doakan Bapak sehat, ya, biar bisa cepat pulang.
Suatu hari nanti, kalau Bapak lihat kamu pakai jas dokter dan tersenyum, itu sudah cukup buat Bapak bahagia.
Jaga ibu, jaga Nopal.
Bapak.
Surat itu bergetar di tangan Embun. Air matanya jatuh tanpa suara. Embun menatap surat itu lama. Ia membaca berulang-ulang, seolah belum percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Setiap kalimat terasa seperti angin yang datang dari jauh, membawa rindu yang berat.
“Jadi... Bapak pergi demi aku?” suaranya pecah.
Ibu hanya mengangguk. “Iya, Nak. Demi kuliahmu.”
Nopal menatap kakaknya, suaranya serak, “Berarti... sekarang tinggal kita bertiga, ya, Mbak?”
Embun memeluk adiknya dan ibunya erat-erat. Tangis mereka menyatu dalam senja yang menembus tirai jendela.
Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Bapak pasti bangga, ya, Bu,” katanya lirih.
Ibu mengangguk sambil mengusap punggungnya. “Iya, Nak. Pasti bangga.”
Embun memeluk ibunya erat. Di luar, langit sore perlahan memerah, seolah ikut melukis takdir baru untuk Embun. Dalam diam itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus melangkah, supaya suatu hari nanti bapak benar-benar punya alasan untuk tersenyum dari jauh.