Terjebak di Antara Tren Sigma dan Realitas Anak Baru Gede

tugas b indo

Oct 29, 2026 - 상준


Pada awal masuk SMP dua tahun lalu, saya baru saja datang ke sekolah. Sebagai murid baru, saya mengira berselancar di media sosial akan menjadi hiburan yang seru untuk melepas penat setelah seharian beradaptasi di lingkungan baru. Namuan, perhatian saya langsung tertuju pada satu kosakata baru yang mendadak memenuhi kolom komentar dan video pendek, yaitu kata sigma.

Keesokan harinya, istilah tersebut ternyata tidak hanya berhenti di dunia maya, tetapi langsung merambah ke lingkungan sekolah baru saya. Saat saya sedang makan, begitu makanan disajikan oleh ibu dapur, saya langsung makan dengan lahap bersama teman-teman sekelas yang baru kukenal, Seorang teman tiba-tiba berjalan ke ruang makan dan berbicara dengan menggunakan kata yang sebelumnya pernah saya temui di komentar Tiktok yaitu sigma. Dia lalu ikut mengobrol sambil berkata bahwa dia adalah seorang sigma. Semua teman di meja menirukan ekspresi wajah yang aneh.

Karena merasa bingung dan tidak ingin dicap kurang update di depan teman-teman baru, saya hanya bisa ikut tertawa canggung sambil mengangguk, berpura-pura paham. Sepanjang sisa jam istirahat, otak saya berputar keras memikirkan apa sebenarnya arti dari kata tersebut. Mengapa penolakan untuk mengikuti tren dalam bersosialisasi justru dianggap sebagai sesuatu yang keren dan dipuji-puji?

Besoknya, saat kepulangan putra, saya mencoba berselancar lebih dalam di algoritma Tiktok. Di sana saya menemukan ratusan video pendek yang mengagungkan sosok sigma, sebuah kiasan untuk laki-laki penyendiri, mandiri, sukses, dan tidak butuh pengakuan dari orang lain dan seringkali digambarkan lewat potongan adegan film dengan latar musik yang dramatis. Konsep ini seolah menjadi kiblat baru bagi anak-anak seusia kami yang sedang mencari jati diri


More Posts