The Art of Strategic Laziness

Males

Nov 04, 2026 - Fa'iq Althaf Zayyan

Kita hidup di zaman di mana kesibukan dianggap sebagai simbol status. Semakin sedikit tidur dan semakin banyak tugas yang dikerjakan, semakin "sukses" seseorang dianggap. Tapi mari kita jujur sejenak: apakah benar semua kerja keras itu produktif, atau kita hanya sibuk menyibukkan diri? Di sinilah konsep malas secara strategis masuk. Bukan malas dalam arti tidak melakukan apa-apa sama sekali, tapi malas dalam arti memilih untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak penting.

Lalu ada Hukum Pareto atau Prinsip 80/20 yang bisa menjadi pembenaran ilmiah untuk menjadi selektif. Vilfredo Pareto menemukan bahwa 80 persen hasil berasal dari 20 persen usaha. Dalam konteks sekolah atau pekerjaan, ini berarti sebagian besar pencapaian Anda datang dari segelintir aktivitas yang benar-benar penting. Orang yang malas secara strategis akan mengidentifikasi 20 persen tugas yang paling berdampak dan fokus di situ, sementara sisanya dikerjakan seperlunya atau bahkan didelegasikan. Ini bukan berarti tidak bertanggung jawab, ini berarti mengalokasikan energi dengan bijak.

Pada akhirnya, menjadi malas secara strategis adalah tentang bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Malas itu baik ketika itu membuat Anda berpikir lebih efisien dan melindungi diri dari kelelahan yang tidak perlu. Dengan memilih tugas yang benar-benar penting dan mengabaikan yang tidak, Anda sebenarnya sedang menghargai waktu dan energi Anda sendiri. Jadi, tidak ada salahnya untuk sesekali bersantai dan membiarkan prinsip-prinsip ini bekerja. Karena pada kenyataannya, hasil yang maksimal tidak selalu datang dari usaha yang maksimal, tapi dari usaha yang tepat sasaran.

Bill Gates pernah berkata bahwa dia akan memilih orang malas untuk melakukan pekerjaan sulit, karena orang malas akan mencari cara termudah untuk menyelesaikannya. Ini terdengar seperti lelucon, tapi sebenarnya masuk akal. Orang yang malas tidak akan bertele-tele dalam mengerjakan sesuatu. Mereka akan mencari jalan pintas yang efisien, mengotomatisasi proses yang berulang, dan menghilangkan langkah-langkah yang tidak perlu. Dalam hal ini, kemalasan menjadi sumber inovasi.

Salah satu prinsip yang bisa kita pakai adalah Hukum Parkinson yang ditemukan oleh Cyril Northcote Parkinson pada tahun 1955. Hukum ini menyatakan bahwa pekerjaan akan melar mengisi waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya. Kalau Anda diberi waktu satu minggu untuk mengerjakan tugas, kemungkinan besar Anda akan menyelesaikannya dalam satu minggu juga, meskipun tugas itu sebenarnya bisa selesai dalam dua hari. Otak kita yang "malas" sebenarnya tahu cara kerja yang efisien, tapi kita sering memaksakan diri untuk terlihat sibuk. Dengan membatasi waktu pengerjaan secara sengaja, Anda memaksa diri untuk langsung fokus pada hal yang penting dan mengabaikan detail yang tidak perlu.


Sumber:

  1. Parkinson, Cyril Northcote. (1958). Parkinson's Law: The Pursuit of Progress. John Murray Publishers.
  2. Koch, Richard. (1997). The 80/20 Principle: The Art of Achieving More with Less. Nicholas Brealey Publishing.
  3. Covey, Stephen R. (1989). The 7 Habits of Highly Effective People. Free Press.
  4. Gates, Bill. Kutipan tentang memilih orang malas untuk pekerjaan sulit sering dirujuk dalam literatur manajemen dan budaya bisnis Silicon Valley.

More Posts