Si Putri Pensil dari kelas X kesusahan memahami pelajaran biologi. Datanglah Si Genius membantu mengajarinya. Keesokan harinya ulangan. Saat pengumuman nilai, Si Putri Pensil mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Ia berterima kasih banyak kepada Si Genius.
Alvianda Theya Sabrimann, seorang siswi SMA kelas X. Di kelas, ia selalu duduk di kursi barisan paling belakang. Hari ini Theya terlihat murung, mungkin karena selama pelajaran Biologi tadi Theya tidak dapat memahami materi satupun. Ketika hendak bertanya, entah kenapa rasanya seperti ada kunci yang menutup rapat mulutnya untuk berbicara. Juga saat membuka buku paket, terdapat banyak istilah seperti mitosis, meiosis, ekskresi, dan patogen yang membingungkan bagi otaknya. Padahal, ia ingin sekali memahami pelajaran Biologi karena materinya sangat menarik. Namun, dengan melihat atau mendengar istilah-istilah yang asing baginya itu sudah cukup membuat dirinya pusing hingga rasanya ada bagian di tubuhnya yang akan meledak.
Sebenarnya, Theya merupakan murid yang pandai dalam bidang seni. Setiap waktu istirahat, Theya pasti menggunakan waktu itu untuk menggambar. Pensil yang ia gunakan itu bagaikan tongkat sulap di tangan seorang penyihir kecil, di mana setiap goresannya mampu menghidupkan dunia yang tak pernah dilihat orang lain. Teman-teman sekelasnya memanggil Theya dengan sebutan “Si Putri Pensil” karena kegemarannya akan menggambar. Theya sangat percaya diri dalam mengerjakan tugas untuk kelas seni, tetapi sebaliknya jika mengerjakan tugas kelas biologi.
Guru biologi bernama Miss Fia memberi tahu kepada murid-murid kelas X bahwa besok akan diadakan ulangan sebelum meninggalkan kelas. Theya tidak mendengar perkataan guru biologinya tadi karena ia sedang memproses materinya. Sesaat ia melamun, namun kemudian terkejut saat teman sekelasnya menepuk bahunya lalu memberi tahu bahwa besok akan ada ulangan.
“Hah? Apa? Besok ulangan biologi?” tanya Theya. Matanya melotot seolah tidak percaya perkataan temannya itu.
“Iya, Theya. Tadi ‘kan dikasih tahu sama Miss Fia kalau besok bakal ada ulangan. Kamu tidak dengar, ya?” balas temannya sembari tertawa.
Waduh, aku nanti pasti gagal, batin Theya. Sebelum pergi jajan di kantin, Theya tidak lupa berterima kasih kepada temannya yang sudah menepuk bahunya dan memberikan pengumuman bahwa besok akan diadakan ulangan biologi. Selama perjalanannya menuju kantin, Theya mulai overthinking tentang ulangan itu. Ia bahkan lupa bahwa uang sakunya ketinggalan di kelas. Pada akhirnya, ia kembali ke kelas dan memutuskan untuk tidak jajan meskipun ia ingat bahwa uang sakunya ketinggalan.
Siang harinya, Theya terlihat masih menetap di dalam kelas walaupun bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Theya menahan nafasnya beberapa saat sebelum membuka buku paket biologi. Saat ia buka, ia merasa bahwa halaman-halaman yang ia lihat itu berbisik seolah mengejeknya. Ia segera menutupi mukanya yang penuh dengan ekspresi bingung.
“Theya, kamu kenapa?” Tiba-tiba sebuah suara lembut memanggil muncul entah dari mana. Theya melompat saat mendengarnya. Saat melihat dari mana datangnya sumber suara itu, Theya jadi tenang karena ternyata itu Keisha, teman sekelasnya yang genius.
“Aku tidak apa-apa. Kamu kok belum pulang?”
“Aku baru dari perpustakaan,” jawab Keisha ramah. “Biasa, belajar. Toh besok juga ada ulangan.” Keisha menambahkan dengan senyuman hangat.
Theya menghembuskan napas ketika mendengar kalimat itu. “Iya, kamu benar,” balas Theya lemas. Melihat keadaan Theya yang seperti ini, Keisha yakin ada yang tidak beres dengan dirinya. Selama beberapa hari terakhir, Keisha sadar dengan sikapnya Theya ini. Beberapa detik kemudian, Keisha tiba-tiba menambahkan, “Kamu mau belajar sama aku tidak? Selagi aku ada free time, kita bisa belajar bersama, kok. Itu kalau kamu mau saja, sih.”
Mendengar hal itu, Theya mendadak semangat. Semangatnya layaknya api yang berkobar. “Tentu saja aku mau!” respon Theya. Wajahnya kini melontarkan senyuman ceria. Dengan cepat ia bereskan barang-barangnya yang tergeletak berantakan di atas meja. Keisha tertawa kecil melihat temannya yang mood-nya mendadak berubah. Sekarang Keisha jadi tahu apa masalah yang dihadapi Theya selama beberapa hari terakhir.
“Yuk! Mau di mana?” tanya Theya bersemangat setelah membereskan barang-barangnya.
“Kalau di perpustakaan saja bagaimana? Agar kita tidak usah pergi jauh-jauh,” balas Keisha sambil mengangkat bukunya yang beratnya sampai 1 ton lebih. Theya mengangguk mendengar jawaban dari Keisha. Sebelum pergi, Theya izin terlebih dahulu kepada orang tuanya supaya mereka tidak khawatir karena pulang terlambat. Orang tuanya mengizinkan dengan syarat jangan pulang larut malam. Theya lega mendengar jawaban dari orang tuanya, juga dengan Keisha setelah mendapatkan izin dari orang tuanya. Akhirnya, kedua siswi itu berangkat menuju perpustakaan sekolah.
Di perpustakaan sekolah, Keisha mulai mengajar kepada Theya. Keisha bertanya dulu ke Theya materi mana yang tidak dipahami. Ketika sudah tahu di bagian mana kesulitannya, Keisha akan menjelaskan materi tersebut terlebih dahulu. “Jadi begini, bayangkan aku seperti bakteri yang ingin menyerang tubuhmu,” ujar Keisha sambil menggambar di sebuah kertas dengan kemampuan seadanya. Keisha tahu kalau Theya merupakan pembelajar visual, jadi ia gunakan kesempatan ini untuk mengajarnya melalui gambar.
“Kemudian, datanglah sel darah putih yang datang melindungi tubuh dan menyerang balik bakterinya. Nah, sel darah putih ini memiliki nama, loh. Ada sel fagosit, sel limfosit, sel memori, dan masih banyak sekali,” lanjut Keisha. Theya mulai perlahan-lahan mengerti materi yang diajarkan Keisha, tetapi ia tetap kesusahan dalam menghapal nama-nama sel darah putih. Maka dari itu, Keisha menciptakan lagu untuk Theya agar memudahkan dalam menghapal nama-nama sel darah putih.
“Lagu itu terdengar sangat lucu,” puji Theya. Mendengar hal itu, Keisha tersipu malu.
Keisha tidak pernah tergesa-gesa. Ia mengulang dan berkali-kali menggambar untuk Theya. Kesabaran Keisha ini bagaikan sungai mengalir yang tidak pernah kering. Sampai malam hari mereka belajar secara giat, tidak sadar akan waktu. Keisha menganggap kegiatan belajar bersama Theya ini seru karena dapat berbagi ilmu pengetahuan. Akhirnya salah satu dari mereka sadar bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul 08.30 malam. Theya sedih karena ia akan bingung jika mempelajari biologi sendiri. Theya suka teknik penjelasan yang dipakai oleh Keisha karena mudah dipahami dan dapat dibayangkan secara jelas.
“Tidak apa-apa, besok masih ada waktu kok sebelum pelajaran biologi dimulai. Pakai saja waktu itu untuk belajar. Kalau kamu sudah sampai di rumah, kamu istirahat saja, ya?” ujar Keisha lembut. Theya tidak pernah bosan mendengar suara Keisha yang bersifat gentle itu.
“Baiklah. Terima kasih banyak, Keisha. Berkatmu, aku jadi lebih paham tentang biologi daripada sebelumnya,” balas Theya.
“Sama-sama. Jangan ragu untuk panggil aku jika kamu butuh bantuan. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Selamat tinggal dan selamat malam, Theya.” Dan dengan begitu saja, Keisha pergi meninggalkan Theya di perpustakaan sekolah yang diisi penuh dengan keheningan.
Esok paginya, Theya bangun lebih awal dari biasanya. Secara tergesa-gesa ia mandi, dan dengan cepat ia habiskan sarapannya yang lezat itu.
“Wah, tumben sekali kamu, sayang. Bangun pagi, sudah mandi, dan sarapannya hilang begitu saja. Tampaknya pagi ini kamu semangat sekali,” sebut mama.
“Iya, Mah,” balas Theya yang sedang mencuci piringnya. Mama suka melihat sikap Theya yang seperti ini. Namun, pada waktu bersamaan, ia heran kenapa Theya bersikap seperti ini.
“Kamu mau berangkat sekarang?” tanya mama. Theya menjawab dengan cara menganggukkan kepala. Akhirnya, Theya diantar ke sekolah oleh sang mama tercinta.
Setibanya di sekolah, Theya mulai lagi memikirkan tentang masa depan yang kelam. Ia khawatir nilai yang tertulis di kertas ulangan biologinya akan mengecewakan Miss Fia dan orang tuanya sekali lagi. Theya ingat sekali, hasil dari ulangan pertama biologinya adalah 37. Angka yang sangat rendah di pandangan Mama dan Papa. Sebab itulah Theya ingin serius dan tidak bermain-main lagi dengan nilai akademik, apalagi jika itu nilai dari pelajaran sains.
Theya merasa waktu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba sudah siang hari saja. Theya panik. Ia cemas. Ia tidak dapat berpikir secara baik ketika bel berbunyi, menandakan bahwa pelajaran biologi akan dimulai segera. Keisha sadar kepanikan yang dialami oleh Theya. Ia menghampirinya dan mencoba menenangkan dirinya.
“Theya, aku tahu kamu bisa. Kamu harus percaya diri,” jelas Keisha lembut.
“Tetap saja, Keisha. Aku tidak ingin nge-blank waktu mengerjakan ulangan,” jawab Theya gelisah. Ia menutupi mukanya yang terlihat lesu dengan kedua tangannya. Keisha menepuk bahu Theya pelan sembari mengucapkan, “Ya sudah, sebelum Miss Fia datang, coba kita mengingat materi kemarin. Kamu masih ingat lagu yang aku ciptakan, tidak? Apakah kamu masih ingat gambaran punyaku?”
“Iya, aku ingat.”
“Kamu putar saja lagu itu di pikiranmu. Kamu bayangkan saja gambar punyaku. Aku yakin itu akan memudahkanmu dalam mengerjakan ulangan nanti,” ujar Keisha. Theya mengangguk lemah mendengar balasan dari Keisha.
Keisha menghembuskan napas. “Ingatlah satu hal, They. Kamu harus berani untuk melakukan sesuatu, jangan takut. Semuanya itu ada proses, tidak semuanya berhasil dalam waktu itu saja. Jadi tidak apa-apa jika kamu gagal di awal ataupun gagal berkali-kali. Setidaknya kamu ada usaha untuk melakukan sesuatu itu. Usaha tidak akan mengkhianati hasil! Yang penting adalah kamu memiliki niat untuk membuktikan itu.” Kata-kata dari Keisha menyadarkan Theya yang tadinya risau. Apa yang diucapkan oleh Keisha itu benar. Ia tidak salah.
“Kamu benar. Terima kasih, Kei.”
Akhirnya, Miss Fia tiba di dalam kelas. Murid-murid kelas X yang awalnya berkeliaran di mana-mana bergegas duduk di tempat mereka. Miss Fia membagikan lembar soal setelah murid-murid siap untuk mengerjakan ulangan. Theya menarik napas panjang, lalu menatap Keisha. Keisha menyadarinya dan langsung mengacungkan jempol sambil berbisik, “Si Putri Pensil pasti bisa!”
Saat mengerjakan soal, entah kenapa otak Theya terasa ringan seperti balon yang baru dilepas tali pengikatnya. Gambar-gambar lucu buatan Keisha terus muncul di benaknya setiap kali menemui pertanyaan sulit. Semuanya membantu dia mengingat.
Waktu habis. Lembar soal dan jawaban dikumpul. Seminggu kemudian, saat pengumuman nilai, jantungnya Theya berdetak cepat. Miss Fia tersenyum lebar.
“Selamat kepada Alvianda Theya Sabrimann karena telah mendapatkan nilai tertinggi di kelas, yaitu 95!” seru Miss Fia. Kelas riuh bertepuk tangan. Theya bengong tidak percaya. Ia menoleh ke Keisha yang sudah lebih dulu berdiri dan memeluknya erat.
“Kamu hebat, Theya!” ungkap Keisha gembira.
“Tidak, bukan aku... tetapi kamu yang hebat, Keisha!” tegas Theya sambil menangis bahagia. Ia tidak lupa berterima kasih kepada sang genius yang ternyata berpengaruh besar dalam nilainya.
Sejak hari itu, barisan paling belakang kelas X tidak lagi sepi. Di sana selalu ada dua siswi; satu memegang drawing pen dan satunya lagi memegang buku catatan tebal. Artis dan Genius. Begitu teman-teman memanggil mereka sekarang. Dua sahabat yang membuktikan bahwa tidak ada mata pelajaran yang terlalu sulit, selama ada tangan yang mau menggambar dan hati yang mau mengajar.
Sebuah cerita narasi karya Uzdah Malilah Firyal