Lagi dan lagi, aku terbangun di kotak beton 4x4 dengan jeruji besi yang membekukan
harapan. Di balik tembok kasar ini, aku mendengar teriakan parau orang-orang yang
senasib denganku-sampah masyarakat yang dibuang agar dunia tetap terlihat bersih.
Tapi apa salahku? Aku bukan orang jahat. Malam itu bukan salahku, namun kenyataan
seolah membungkam logika di kepalaku.
TAK! TAK! TAK!
Pak Andi datang membawa nampan berisi pil-pil penyiksaan. Meski suaranya lembut,
bagiku itu adalah racun yang membunuh jiwaku perlahan. "Bebaskan aku! Ini tidak adil!"
teriakku sambil memeluk kaki yang gemetar di pojok ruangan. Pak Andi hanya menghela
napas, meletakkan obat itu, lalu berlalu pergi. Namun kali ini, tidak terdengar bunyi klik
kunci.
Jantungku berdegup kencang. Ini kesempatanku. Dengan tangan gemetar, kudorong
pintu itu dan berlari menyusuri koridor remang-remang menuju gerbang besar di ujung
lorong. Aku mendobraknya dengan seluruh sisa tenaga.
BRAK!
Cahaya putih menyilaukan menyambutku, tapi bukan suara bising jalan raya yang
kudengar. Justru keheningan dan wangi sedap malam yang menenangkan. Saat mataku
terbiasa dengan cahaya, aku terpaku. Aku berdiri di aula luas yang bersih, bukan di
jalanan. Di depanku, Pak Andi berdiri tenang dengan jas putihnya, memegang sebuah
bingkai foto yang pinggirannya hangus terbakar.
"Mana ibu dan adikku? Kau bilang aku boleh pulang!" teriakku parau.
"Lihat ini, Tuju," ucapnya lembut. Di foto itu, aku merangkul mereka di depan rumah kami.
"Malam itu tidak ada perampok. Kompor meledak saat kau memasak.
Kau gagal menarik mereka keluar dari api, tapi pikiranmu menolak menerima bahwa mereka sudah tiada." Aku menggeleng kuat, tapi saat menunduk, pakaianku bukan seragam oranye tahanan, melainkan kemeja katun putih yang bersih. Lantainya bukan semen kasar, tapi marmer
yang mengilap.
"Ini bukan penjara, Tuju," Andi menyentuh pundakku hangat. "Ibu dan adikmu sudah
tenang di sana. Ruang 4x4 itu bukan sel kami, tapi jeruji yang kau bangun sendiri di dalam
kepalamu untuk menghukum dirimu."
Di bawah sinar matahari yang hangat, aku akhirnya jatuh terduduk. Aku menyadari bahwa penjara yang paling kejam bukanlah beton dan besi, melainkan rasa bersalah yang tak
mampu kumaafkan.
Sebuah cerita fantasi karya Muhammad Wiryo Soeripto yang mengajarkan kepada kita untuk jan...