Byyyy 4 days ago

Sang Pengumpul Aroma Kenangan

cerpen...

Di sebuah lembah tersembunyi yang dipagari oleh jajaran pegunungan hijau yang selalu diselimuti kabut sutra, terdapat sebuah profesi unik yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Gandha. Mereka dikenal oleh penduduk lokal bukan sebagai pembuat parfum biasa yang mencampur kelopak bunga, melainkan sebagai Pengumpul Aroma Kenangan.

Lalu ada seorang pemuda bernama Jaya. Ia menghabiskan sebagian besar usianya dengan menjelajahi hutan-hutan sunyi dan desa-desa terpencil, memanggul sebuah kotak kayu berisi ratusan botol kaca kecil berkilau yang ia tiup sendiri menggunakan corong perak khusus. Bagi keluarga Gandha, setiap manusia memiliki aroma magis tersendiri yang tercipta dari mozaik momen-momen paling membahagiakan dalam hidup mereka. Tugas Jaya adalah menangkap dan mengabadikan esensi tak kasat mata tersebut agar tidak lekang oleh gerusan waktu.


Pada suatu sore yang dihiasi oleh langit berwarna jingga keemasan, keheningan lembah itu terpecah oleh suara gemerincing lonceng kereta kuda mewah yang berhenti tepat di depan kedai kayu milik Jaya. Dari balik pintu kereta yang berlapis beludru, turunlah seorang wanita tua dengan pakaian sutra bersulam benang emas yang indah. Namun, di balik kemegahan busananya, tatapan matanya menyiratkan sebuah kerinduan yang amat mendalam dan melelahkan. Wanita itu adalah Ibu Sofia, seorang bangsawan terpandang yang telah berkelana ke berbagai belahan dunia.

Ia melangkah masuk ke kedai Jaya, menatap deretan botol kosong dengan sisa harapan yang hampir redup.


"Aku telah membeli segala macam wewangian terbaik dari ujung timur hingga ujung barat dunia, Anak Muda," ujar Ibu Sofia dengan suara yang bergetar pelan, menahan haru yang membuncah. "Namun, tidak ada satu pun dari parfum mahal di dalam botol kristal itu yang mampu mengembalikan memori tentang masa kecilku di rumah jerami milik nenekku—tempat di mana aku pertama kali merasa benar-benar dicintai tanpa syarat, jauh sebelum dunia membebankan gelar dan kekayaan ini di pundakku."

Jaya tersenyum dengan penuh rasa hormat. Ia mengangguk paham bahwa kerinduan sejati tidak akan pernah bisa diredakan oleh kemewahan materi yang mendinginkan jiwa, melainkan oleh kesederhanaan rasa yang tulus hangat.


Jaya kemudian mengajak Ibu Sofia masuk ke dalam ruang kerjanya yang hening, sebuah ruangan yang dipenuhi oleh rak-rak kayu pohon tua berisi ribuan botol kaca beraneka warna. Berbeda dengan pengrajin aroma lainnya, proses pengumpulan di sini sama sekali tidak menggunakan kelopak mawar atau rempah-rempah kering, melainkan murni menggunakan kekuatan ingatan dan kemurnian udara.

Jaya meminta Ibu Sofia untuk duduk di sebuah kursi kayu yang nyaman, memejamkan matanya dengan rapat, dan membiarkan pikirannya berkelana kembali ke masa lalu. Ia diminta menceritakan secara detail suasana pagi hari di rumah jerami sang nenek puluhan tahun silam.


Saat Ibu Sofia mulai bercerita dengan suara lirih tentang kehangatan tungku api yang menyala, aroma empon-empon herbal yang sedang direbus, hingga bau tanah basah setelah hujan semalam mengguyur atap jerami, Jaya mulai bergerak. Ia mengayunkan sebuah alat pengisap udara berbahan perak murni ke sekitar kepala Ibu Sofia. Alat tersebut bekerja menangkap partikel-partikel tak kasat mata yang dilepaskan oleh gelombang otak dan letupan emosi bahagia sang wanita tua.


Udara yang berhasil terperangkap di dalam instrumen perak itu kemudian dialirkan secara perlahan ke dalam sebuah botol kaca bening yang paling jernih. Sebagai sentuhan akhir, Jaya meneteskan satu tetes minyak zaitun murni ke dalamnya—sebuah pengikat alami agar esensi kenangan tersebut mengunci rapat dan tidak menguap ke udara bebas.


Ketika Jaya membuka sedikit sumbat gabus botol tersebut dan mengibaskannya perlahan ke udara, air mata Ibu Sofia seketika menetes membasahi pipinya yang mulai berkerut. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan puncaknya rasa haru. Aroma kehangatan kayu bakar, rebusan herbal racikan neneknya, dan bau tanah yang segar langsung menyeruak memenuhi seluruh ruangan, membawa jiwanya terbang melintasi dimensi waktu, memeluk kembali masa kecilnya yang indah.


Ibu Sofia menggenggam botol kecil itu dengan kedua tangannya yang gemetar, seolah-olah ia sedang mendekap seluruh harta karun paling berharga yang ada di atas bumi. Ia menatap Jaya dengan binar mata yang kini telah kembali hidup.


"Berapa harga yang harus kubayar untuk keajaiban yang tak ternilai ini, Jaya?" tanya Ibu Sofia, sambil bersiap merengkuh kantong kain berisi koin-koin emas dari balik jubah sutranya.


Jaya menggelengkan kepala perlahan. Dengan lembut, ia mendorong kembali tangan Ibu Sofia yang hendak menyerahkan imbalan tersebut.

"Aroma ini adalah milik Anda sejak awal, Ibu. Saya tidak menciptakan apa pun; saya hanya membantu mengumpulkannya kembali dari sudut pikiran Anda yang mulai berdebu akibat kesibukan dunia. Simpanlah botol ini dengan baik. Setiap kali dunia luar terasa terlalu melelahkan, bising, dan dingin, bukalah sumbatnya, dan biarkan kehangatan masa kecil Anda memeluk serta menguatkan jiwa Anda sekali lagi."


Wanita tua itu akhirnya pulang menembus senja dengan senyuman paling cerah yang pernah ia miliki dalam beberapa dekade terakhir. Sementara itu, Jaya kembali melangkah ke dalam kedainya, merapikan kembali botol-botol kosong di atas rak kayunya, dan bersiap menyambut jiwa-jiwa lelah lainnya yang ingin menemukan kembali potongan kebahagiaan mereka yang sempat tersisih oleh sang waktu.


Tamat...

Para Raja Mataram Kuno Pembangun Candi Megah

Para Raja Mataram Kuno Pembangun Candi Megah

1731308278.png
almatheaaa
2 years ago
Densha otaku

Densha otaku

1779369754.png
Datuk Belambangan
1 year ago
Apa Arti tanda Z pada Militer Rusia?

Apa Arti tanda Z pada Militer Rusia?

1777900926.jpg
Галих
1 year ago

Cerita Narasi: Persahabatan

Sebuah cerita narasi karya Uzdah Malilah Firyal

https://lh3.googleusercontent.com/a/AAcHTtdGmF2e-ItdsdYE9TgImFhDGKHoAxklhdWBSBppAr7_YA=s96-c
Fitri Isnaeni
2 years ago
Raja ketiga kerajaan Mandura

Raja ketiga kerajaan Mandura

1714290832.png
Azhnrkhlf
2 years ago