sasmyra 12 hours ago

Detak Jantung Di Balik Tirai

Bagi Anindya, bangku paling pojok kiri kelas adalah tempat paling aman di dunia. Di sana, ia bisa bersembunyi di balik buku cerita tanpa harus bertatapan dengan siapa pun. Ia selalu memakai jaket yang longgar dan membiarkan poni rambutnya menutupi sebagian wajah. Menjadi tidak terlihat adalah zona nyaman terbaiknya.


Namun, ketenangan itu hancur berantakan pada suatu Kamis siang yang terik.


"Karena kelas kita belum menyetor nama untuk lomba pembacaan puisi di Bulan Bahasa, Ibu sudah memilih perwakilan kita," Bu Wulan, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas, menatap seisi ruang kelas yang mendadak sibuk memandangi lantai. "Anindya. Ibu minta kamu yang maju."


Detik itu juga, Anindya merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menguap. Seluruh perhatian kelas yang mendadak tertuju padanya membuat tenggorokannya tercekat. Dengan suara bergetar, ia mencoba membela diri, "S-saya, Bu? Tapi saya tidak bisa..."


"Ibu sengaja memilihmu, Anindya. Ibu pernah membaca tugas puisi yang kamu kumpulkan minggu lalu. Tulisannya sangat mendalam. Ibu yakin kamu bisa menghidupkannya di atas panggung," potong Bu Wulan dengan senyum hangat namun tidak menerima bantahan.


Ketika bel pulang berbunyi dan kelas mulai sepi, Anindya masih mematung di kursinya. Kepalanya pening. Membayangkan dirinya berdiri di tengah panggung aula yang megah, disorot lampu, dan ditatap oleh ratusan pasang mata, membuat telapak tangannya langsung basah oleh keringat dingin. Jiwa pemalunya berontak kencang. Ia ingin pulang, mengunci diri di kamar, dan menghilang.


Melihat Anindya yang pucat, Kirana sang ketua kelas langsung merangkulnya sepulang sekolah. "Tenang, Anindya, jangan pucat gitu dong. Kamu pasti bisa, kita bakal jadi tim sukses kamu," janji Kirana.


Dua minggu berikutnya menjadi masa-masa paling sibuk bagi Anindya. Sudut belakang kelas disulap menjadi ruang latihan dadakan setiap sore. Awalnya, Anindya hanya bisa membaca naskah puisi dengan suara berbisik dan tubuh yang kaku. Namun, teman-teman sekelasnya tidak menyerah. Kirana membantu melatih intonasi suaranya, Larasati mengajari gestur tangan yang luwes. Sementara Bu Wulan selalu datang membawa camilan sambil memberikan tips pernapasan perut. Dukungan tulus itu perlahan meruntuhkan tembok ketakutan di dalam dada Anindya. Ia sadar, ia tidak sedang dituntut menjadi sempurna, melainkan sedang didekap oleh kebersamaan.


Hari pertunjukan pun tiba. Aula sekolah penuh sesak oleh gemuruh suara penonton. Di balik tirai hitam panggung, Anindya berdiri dengan lutut yang gemetar hebat. Kakinya lemas, seolah lupa cara berdiri tegak menopang berat badannya sendiri.


“Selanjutnya, perwakilan dari kelas 10-A!” suara pembawa acara bergema.

Kirana menggenggam jemari Anindya yang beku. “Buka saku bajumu, Anindya. Keluarkan keberanian yang kita simpan di sana,” bisiknya menyemangati.


Anindya melangkah ke tengah panggung. Lampu sorot yang terang langsung menusuk matanya, membuat penonton hanya tertuju padanya dan tampak seperti siluet yang sunyi. Ia membeku selama tiga detik. Lidahnya mendadak kelu. Namun, saat melirik ke sayap panggung, ia melihat teman-teman sekelasnya sedang mengepalkan tangan ke udara dengan mata berbinar penuh keyakinan.


Anindya menarik napas dalam-dalam lewat perut, mendekatkan mikrofon, dan mulai bersuara.


“Ketika malam mendekap sunyi…”


Bait pertama lolos. Awalnya bergetar, namun perlahan suara Anindya berubah menjadi bulat, dalam, dan berenergi. Ia tidak lagi melihat penonton sebagai ancaman. Anindya menghidupkan setiap kata dari puisi buatannya sendiri, mengalirkannya dengan ketulusan yang memukau.


Saat bait terakhir selesai diucapkan, aula sempat hening satu detik sebelum akhirnya meledak oleh gemuruh tepuk tangan yang riuh. Teman-teman sekelasnya bersorak histeris dari kursi penonton. Anindya membungkuk kecil dengan air mata haru yang merebak di sudut mata. Sambil tersenyum lebar di bawah kilauan lampu sorot, ia tahu satu hal: ia mungkin tetap seorang gadis pemalu, tetapi ia tidak akan pernah takut lagi pada panggung.

Fenomena 'Piala Ciki': Mengapa Carabao Cup Kerap Dipandang Sebelah Mata?

Fenomena 'Piala Ciki': Mengapa Carabao Cup Kerap Dipandang Sebelah Mat...

1793258556.png
APIPIIEEEE🤙😝
6 hours ago
Gemilang di Lapangan, Tim Futsal Mega IBS Sabet Gelar Juara Turnamen Fourfeo!

Gemilang di Lapangan, Tim Futsal Mega IBS Sabet Gelar Juara Turnamen F...

1793258556.png
APIPIIEEEE🤙😝
11 hours ago
Lelah yang Menemukan Rumah

Lelah yang Menemukan Rumah

1793693229.gif
Ghayda Asyila Fauzan
11 hours ago
- HANDAROE -

- HANDAROE -

1697550439.png
Ahmad Weli🥶
12 hours ago
Apa itu MBTI? Mengenal 16 Tipe Kepribadian dan Cara Kerjanya

Apa itu MBTI? Mengenal 16 Tipe Kepribadian dan Cara Kerjanya

1789312780.jpeg
Nathh_
1 day ago