Ghayda Asyila Fauzan 11 hours ago
gedgedgeda #bahasa

Lelah yang Menemukan Rumah

Cerita ini mengisahkan tentang Ichang yang bangkit dari kegagalan berkat kasih sayang dan pelukan hangat sang ibu. Kegagalan hari ini bukan akhir segalanya, karena ia selalu punya rumah tempatnya pulang untuk mencoba lagi besok.

Jam di dinding kamar Ichang sudah menunjuk ke angka dua pagi. Suasana di dalam rumah benar-benar sepi, hanya ada suara jangkrik “krik-krik” dari balik jendela kamarnya. Di bawah lampu belajar yang mulai membuat matanya terasa perih dan berat, Ichang hanya bisa menatap pasrah tumpukan buku tebal serta lembaran berkas beasiswa di atas meja belajarnya. Semuanya masih berantakan dan belum beres, sama persis seperti isi kepalanya yang kusut saat ini.


Rasa di dalam dada Ichang rasanya benar-benar campur aduk tidak karuan. Sebenarnya, dia merasa sudah habis-habisan mengeluarkan seluruh energinya demi momen ini. Selama beberapa minggu terakhir, Ichang memaksakan diri belajar puluhan jam sehari tanpa kenal lelah. Dia sengaja begadang setiap malam hingga kepalanya terasa mau pecah, bahkan dia sampai berkali-kali menolak ajakan main atau nongkrong dari teman-teman dekatnya demi bisa fokus menghadapi ujian. Tapi sialnya, hasil ujian yang diumumkan siang tadi justru hancur total dan jauh dari harapan. Nilai yang terpampang di layar chromebook-nya benar-benar membuat hatinya terasa perih. Ichang merasa sangat frustrasi, lelah secara fisik dan mental, sampai rasanya ingin menyerah saja malam ini dan melupakan semua mimpi besar yang selama ini dia kejar.


Di tengah kesunyian malam yang semakin larut, tiba-tiba lagu Fix You dari Coldplay mengalun pelan dari pengeras suara chromebooknya.


“When you try your best, but you don't succeed…”


Mendengar bait pertama dari lirik lagu tersebut, dada Ichang langsung terasa sesak dan tertusuk. Lirik itu rasanya sangat cocok menggambarkan situasi yang sedang dia alami sekarang. Tanpa bisa dibendung lagi, kedua mata Ichang mulai berkaca-kaca dan pandangannya mendadak kabur oleh genangan air mata. Air mata yang sejak siang tadi mati-matian dia tahan di depan teman-temannya akhirnya tumpah juga tanpa sisa. Ichang benar-benar merasa tersesat, bingung harus melangkah ke mana lagi, dan merasa kesepian di tengah ambisi besarnya mengejar masa depan yang tiba-tiba saja terlihat sangat buram.


Klek.


Suara engsel pintu kamar yang terbuka secara perlahan langsung memecah lamunan sedih Ichang. Dia buru-buru menyeka pipinya yang basah dengan ujung lengan baju, tapi usahanya terlambat. Ibunya melangkah masuk tanpa suara sambil membawa secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul wangi. Ichang sempat merasa tegang dan panik, dia sangat takut kalau ibunya akan merasa kecewa berat jika mengetahui hasil ujiannya yang hancur. Namun, dugaan buruk Ichang ternyata salah total. Ibu sama sekali tidak terlihat marah, tidak mengomel, tidak menuntut apa pun, atau menceramahi Ichang panjang lebar mengenai pentingnya belajar lebih keras lagi seperti yang biasa dilakukan orang tua lain.

Beliau hanya meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja belajar, lalu menarik kursi kosong untuk duduk di sebelah Ichang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ibu langsung merangkul erat pundak Ichang yang mulai bergetar hebat karena berusaha menahan suara tangisnya agar tidak pecah. Pelukan hangat itu terasa begitu tulus dan erat, seolah menyalurkan kekuatan besar yang seolah-olah meruntuhkan seluruh dinding pertahanan diri Ichang. Di dekat telinga Ichang, ibu membisikkan kata-kata penenang dengan nada suara yang sangat lembut, "Nggak apa-apa, Chang. Ibu tahu persis kalau kamu sudah berjuang sangat keras selama ini. Menangis saja dulu kalau memang rasanya capek banget."


Tepat pada momen emosional itu, melodi lagu di chromebook Ichang perlahan masuk ke bagian instrumental gitar dan drum yang tinggi, megah, dan penuh semangat.


“Lights will guide you home…”


Mendengar bisikan lembut dari ibunya dan merasakan kehangatan dari pelukan itu, perlahan-lahan rasa cemas, panik, dan ketakutan hebat yang tadinya menusuk dada Ichang mulai berkurang sedikit demi sedikit. Beban sangat berat yang beberapa minggu ini terasa menumpuk di atas kedua pundaknya mendadak terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.


Ichang kemudian meraih cangkir dan menyeruput sedikit teh hangat buatan ibunya yang rasanya manis, pas, dan sangat menenangkan lidah. Dia akhirnya menyadari satu hal penting malam itu, gagal hari ini bukan berarti seluruh perjuangan hidupnya harus selesai sampai di sini. Perjalanan masa depannya masih sangat panjang, dan satu lembar nilai yang jelek tidak akan pernah bisa menentukan akhir dari jalan hidupnya yang sebenarnya. Di balik rasa lelah dan kecewa yang luar biasa hebat malam ini, Ichang tahu dia masih memiliki alasan yang kuat untuk kembali bangkit. Perjuangan ini bukan hanya untuk sekedar pembuktian diri kepada orang lain, melainkan karena ada sosok ibu yang selalu bersedia menjadi rumah terbaik tempatnya untuk pulang dan berkeluh kesah. Besok pagi saat matahari terbit, Ichang berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba lagi dengan semangat serta harapan yang baru.

7
187
Fenomena 'Piala Ciki': Mengapa Carabao Cup Kerap Dipandang Sebelah Mata?

Fenomena 'Piala Ciki': Mengapa Carabao Cup Kerap Dipandang Sebelah Mat...

1793258556.png
APIPIIEEEE🤙😝
6 hours ago
Gemilang di Lapangan, Tim Futsal Mega IBS Sabet Gelar Juara Turnamen Fourfeo!

Gemilang di Lapangan, Tim Futsal Mega IBS Sabet Gelar Juara Turnamen F...

1793258556.png
APIPIIEEEE🤙😝
11 hours ago
Detak Jantung Di Balik Tirai

Detak Jantung Di Balik Tirai

https://lh3.googleusercontent.com/a/ACg8ocI9KaUer1T8NIdb1WLkx_8Monq3THUCvHiulIqRyIarOLweLDY=s96-c
sasmyra
12 hours ago
- HANDAROE -

- HANDAROE -

1697550439.png
Ahmad Weli🥶
12 hours ago
Apa itu MBTI? Mengenal 16 Tipe Kepribadian dan Cara Kerjanya

Apa itu MBTI? Mengenal 16 Tipe Kepribadian dan Cara Kerjanya

1789312780.jpeg
Nathh_
1 day ago