Embun Ingatan

2025-12-02 02:41:07 - mela-laikan

Embun Ingatan


Halo, namaku Chelia Theressa. Mahasiswa yang baru masuk kuliah. Izinkan aku membuka lembaran-lembaran lama saat aku SMA, menyelipkan satu bait dua bait curhatan di sela-selanya.


Semua temanku suka menolongku. Mereka membantu diriku saat aku sedang susah, mereka adalah malaikat tanpa sayap bagiku. Beberapa pergi saat mereka menemukan seseorang yang baru. Tetapi bukan seperti yang kamu pikirkan, cerita ini bukan tentang air mata Chelia yang menenggelamkan dirinya sendiri.



* * *



“Pagi Juan! Gimana latihannya kemarin? Seru bukan?” 


Juan terlihat lesu pagi ini, dia memasuki kelas dengan raut wajah yang digelayuti awan mendung. Aku menghembuskan napas panjang, siapa orang yang berani membuat temanku sedih seperti ini! Walaupun aku tahu apa yang membuatnya sedih, mungkin latihannya kemarin telah memeras habis tenaganya. Duh, kasihan sekali Juanku. 


“Juann, jawab aku. Apakah Zea membuatmu memakan sayur dia lagi?”


Juan yang dengan berat hati menjawabku. “Pagi Chel, kamu semangat banget pagi ini, aku iri denganmu! Orang-orang bisa tersenyum senang, sungguh kejam dunia yang merenggut senyum ini.” 


“Lalu, mengapa kamu tidak ikut tersenyum saja?” Aku tersenyum, menjahili temanku. Sebenarnya tidak disarankan untuk menjahili Juan, apalagi kalau dia sedang lesu begini. “Chelia Theressa! Bukan begitu maksudku!” Yah… kubilang juga apa. Jangan ganggu Juan saat dia lesu. Baiklah, aku ulang saja cerita ini. 


“Maaf Juan, aku tidak bermaksud membuatmu tambah cemberut. Aku mau kamu tersenyum agar Zea juga tersenyum!” Aku menarik satu kursi di sebelah Juan. “Nah sekarang Juan temanku yang baik! Kamu boleh menceritakan apapun yang ada di pikiranmu! Ceritakanlah kepada teman baik, tidak sombong, dan cantik yang ada di sampingmu ini.” 



Juan dengan santai menoleh ke samping. “Aku tidak melihat teman yang baik, tidak sombong, dan cantik itu di sebelahku. Kamu bohong Chelia?” Juan tersenyum tipis.


Perasaan di dadaku dicampur aduk seperti adonan. “Lihat ke sini Juan! Aku di sini, di sampingmu sebelah kiri, bukan kanan!” Enak saja menuduh orang. Aku teman yang baik, tidak sombong, dan cantik itu. Tetapi aku sadar adonan itu mengembang dan menjadi roti yang sedap. “Tunggu! Kamu tersenyum Juan! Juan tadi kamu tersenyum, kan?”

Terlihat dari muka Juan, yang sangat senang itu sampai senyumannya terbalik. “Enak saja menuduh orang. Kamu tumben lebih memilih menghiburku daripada mengerjakan tugas fisika?” Juan membalikkan keadaan, sekarang malah aku yang terpojok. 


“Tidak ada tugas hari ini, tidak tahu kalau besok. Andai saja aku bisa memprediksi tugas esok hari lalu esok harinya lagi, pasti akan aku kerjakan semua dalam satu malam!” Aku menatap langit-langit kelas. “Oh iya, tadi aku mau ngapain?”


Kebiasaan Chelia. Ingatan rapuh, seperti gelembung sabun yang pecah bahkan sebelum disentuh. “Dasar pikun, baru saja tadi kau menanyakanku, belum ada satu jam Chelia.” Juan tersenyum tipis, menahan tawa.


“Juann! Aku ini sedang serius membicarakan tentang mengapa kamu sedih.” Aku mengerutkan alis. Juan ini jika serius, ia akan melucu; namun saat melucu, ia seolah sedang memimpin sidang negara. “Ah iya maaf, jadi apa yang mau kamu tanyain? Paling juga ga penting, kan? Aku laper pengen ke kantin.” Juan lalu berdiri dan meninggalkanku sendirian di kelas yang kosong ini. Baru juga jam 6:00 pagi.



* * * 



Satu demi satu teman-temanku datang. Ada yang langsung duduk lalu mengerjakan PR atau membaca buku. Ada juga yang masuk hanya untuk meletakan tas lalu lari ke luar kelas entah mau ke mana. Kembali ke cerita, sudah ada sekitar setengah jam Juan tidak kembali ke kelas. “Amel, kamu tadi melihat Juan di kantin?”

“Juan? Juan tuh siapa Chel?” Amel kembali bertanya.



… 



Aku terdiam sebentar, “Juan, teman sekelas kita?” Aku menatap Amel dengan bingung, Amel pun juga menatapku dengan bingung. Jejak Juan seolah menghilang ditelan kabut. “Chelia, kamu begadang lagi tadi malam?” Amel bertanya, mukanya terlihat serius. Mana mungkin aku begadang. Tidur jam 9:00 saja aku sudah dimarahi oleh mama. 


“Mana mungkin aku begadang Amel. Aku selalu tidur sebelum jam 9:00 malam.” Aku menjawab dengan santai. Semakin kupikirkan semakin aku bingung. “Ah, sudahlah Amel, aku akan mencarinya sendiri saja.”



* * *



Aku sudah mencari Juan ke seluruh penjuru sekolah dari kantin yang dia sukai, di kamar mandi, di tempat favorit dia menyendiri sambil membaca buku, dia tidak ada di satupun tempat itu. “Juan, kamu di mana sih? Juan-” Aku terdiam menatap tidak percaya apa yang kulihat.


Jantungku berdebar kencang, memukul-mukul dinding rusukku, bukan karena takut. Tapi aku melihat satu pintu berwarna putih, tingginya melampaui pandangan mata, seolah menjulang mencakar langit. Aku perlahan-lahan mendekati pintu itu, aku salah… aku seharusnya tahu untuk tidak mendekati pintu itu. Di sana, suara berbisik seolah-olah ditiupkan angin, suara yang tidak seharusnya kudengar.


Sebuah bisikan mulai menyebar saat pertama aku memasuki sekolah ini. Sebuah pintu putih yang menjulang tinggi tak terhingga, pintu itu hanya membawa anak-anak yang terpilih… bahasa kasarnya menculik. Pintu itu katanya akan mengantarkan mereka ke dunia yang sungguh sebuah mahakarya estetika yang dibuat Tuhan hanya untuk anak-anak terpilih ini. 


Semakin aku melangkah dekat, getaran dingin merambat ke seluruh tubuhku. Jemariku membeku menjadi dingin sekali, dan mataku tidak bisa berpaling ke arah lain selain ke pintu itu. Di benakku pintu putih adalah tujuan pertamaku! Tidak ada yang boleh menarik pandanganku darinya. Sungguh aku ingin berteriak, tetapi tidak seorangpun melihatku di sana.



* * *



Perlahan kelopak mata terbuka, kepala terasa pusing berputar. "Juan..." Nama itu meluncur dari bibirku, sesaat setelah kesadaran kembali di padang entah berantah. Di sekelilingku hanya ada kuntum, sejauh mata memandang, lautan bunga terhampar. Bunga kesukaan yang kurindukan sejak kecil: poppy. Belum pernah kulihat rangkaian poppy sedemikian luas. Tanganku terulur, tergoda untuk memetik bunga terdekat denganku.

"Lupakan sejenak tentang Juan, aku ingin memetik bunga ini."


Jemari ini perlahan merayap, dan saat berhasil menggenggam tangkai bunga itu, seketika aku terlempar ke masa lalu. Kenangan pudar itu kembali: Ayah telah tiada, meninggalkan aku dan ibu di rumah besar yang kosong itu. Pelukan hangat ibu saat kami berdua di balik kaca, mendengarkan hujan yang menari di luar. Kelopak mata ini perlahan menutup, dan yang tertinggal hanyalah bisikan lembut di samping telingaku. Perlahan kubuka mata, dan di hadapanku duduk sosok ibu yang manis, menatapku dengan mata yang pilu. 

"Ibu, mengapa menangis?”

Semuanya redup langsung menjadi gelap. Melenyapkan lanjutan dari cerita ini.



* * *


More Posts