Gleeze Valencia 2 weeks ago
Zeze_skies #bahasa

Kidung Cinta di Bawah Langit Bhumi Mataram (part 1)

Kidung Cinta di Bawah Langit Bhumi Mataram


*Cerita ini adalah karya fiksi sejarah. Beberapa nama tokoh, tempat, dan peristiwa dalam kisah ini mungkin memiliki kemiripan dengan kisah nyata di dunia asli. Namun, seluruh alur cerita, dialog, dan tindakan di dalamnya adalah hasil imajinasi serta karangan murni dari penulis. Cerita ini dibuat dan dipublikasikan hanya untuk tujuan hiburan semata.


Temanggung, 2026

Fajar menyingsing, menyembulkan sang baskara dari tempat peraduannya. Di bawah mahligai sang kembar Sindoro-Sumbing, kicauan burung bergemerisik di sekitar pepohonan. Dengan memakai celana cargo warna biru berbahan jins dan kaus kuning yang dipadu dengan rajutan bunga daisy, Aruni tampak begitu cerah—secerah pagi yang masih menutupi atmosfer Ngadirejo. Ransel yang sudah siap di punggungnya serta semangat menggebu-gebu untuk mengunjungi Situs Liyangan begitu membara, membuat langkahnya mantap menyusuri pusat situs tersebut.

Sebagai seorang arkeolog serta pencinta literatur sejarah yang sudah menjejaki beribu tempat bersejarah, Situs Liyangan inilah kali pertamanya ia menjejakkan kaki setelah tahun lalu tak dapat mengunjunginya. Ia berjalan di atas tarsahan—jalan bebatuan andesit yang disusun rapi oleh tangan-tangan manusia Bhumi Mataram pada seribu tahun silam. Pijakannya semakin dekat dengan petirtaan kuno yang airnya masih sangat jernih hingga kini. Di sana, terdapat yoni yang masih berdiri kokoh diselimuti kabut pagi dari Lembah Purbosari.

Aruni menundukkan badannya untuk melihat relief bunga yang terukir pada yoni tersebut. Saat ia menyentuh air petirtaan kuno tersebut, tiba-tiba air yang semula tenang berubah bergetar hebat. Sang baskara yang awalnya bersinar kini meredup bak ditelan raksasa Lembah Purbosari. Semerbak bunga kenanga dengan dupa jati menusuk indra penciuman Aruni. Aruni merasa kakinya sudah ditelan oleh Bhumi Mataram yang menunggu kehadirannya. Di tengah pusing yang hebat, ia merasakan bisikan suara berat tepat pada telinganya, “Kirana! Kami menunggumu.”


Bhumi Mataram, 899

Bau menyengat yang menggiurkan serta suara bising yang memekakkan telinga membuat mata Aruni yang semula terpejam kini terbuka. Ia tidak lagi berada di petirtaan kuno tempat terakhirnya berada, melainkan di bawah pohon beringin dengan pemandangan kirab menuju Lembah Sindoro. Tidak ada lagi kicauan burung yang tenang. Yang ada malah hamparan orang-orang yang sedang menggiring sesuatu menuju Lembah Purbosari.

Kirab hasil bumi tersebut berjalan menuju peristirahatan keluarga bangsawan sebagai tanda syukur, setelah rencana pernikahan antara Gusti Dewi Kirana dengan Rakai Watukura Dyah Balitung resmi disepakati oleh ayahanda Dewi Kirana, yaitu Rakai Watuhumalang. Semua orang bersorak senang dan memperlihatkan syukurnya dengan mengadakan kirab gunungan hasil bumi dari rakyat Bhumi Mataram.

Di tengah keriuhan itu, pakaian mentereng Aruni yang tidak lazim bagi gadis-gadis abad ke-9 mendadak menyorot pandangan salah seorang rakyat. Pria itu nekat keluar dari jalur kirab dan melangkah mendekat. Ia tersentak hebat melihat gadis yang bersandar tersebut, hatinya mencelos seolah keluar dari jiwanya. “Gusti Dewi Kirana?”


(bersambung...)

Sirius

Sirius

1738653082.jpg
Kimmy
2 years ago
Ngetech #1 : Ngulik Bidang Sains Data

Ngetech #1 : Ngulik Bidang Sains Data

1680166578.jpg
printoutln("Kaka")
1 year ago

Budaya Indonesia

Bicara tentang budaya Indonesia, yuk simak!

1762411508.png
💤
2 years ago
Mangga Apel “Si Imut yang Kecut”

Mangga Apel “Si Imut yang Kecut”

https://lh3.googleusercontent.com/a/ACg8ocL6KuDVofrTjV_YOYGrrXHdSRj1tFOLS99gaCf6H-4mUmRCKbc=s96-c
Kayla Maritza
1 year ago
Sagu, Bahan Pangan Alternatif di Indonesia Timur

Sagu, Bahan Pangan Alternatif di Indonesia Timur

https://lh3.googleusercontent.com/a/AGNmyxbZ97yQA7BggpwvpsGSYqIacIBhTX9AdF7R8Lkr=s96-c
رحمة عفيفة عزم
2 years ago