Kok Gini? PT1
Cerpen saja, mungkin ada sedikit komedi
2026-07-28 13:40:01 - japdul kece
Kok Gini?
Matahari terbit, menyilaukan lewat jendela kamar yang sedikit berantakan. Pintu kamar tidur dibuka dengan cepat, seorang wanita paruh baya berumur 41 tahun, membangunkan seorang pemuda yang berkisaran 16 tahun.
“Zaman!! Cepat bangun anak pemalas!” Yap, ibuku membangunkanku dengan menarik selimut.
“Lima menit lagi Maa.” Diriku sedikit meronta malas.
Ibuku lantas pergi, jujur aku lagi malas ke sekolah sebenarnya. Cape banget, soalnya sudah push rank sampai jam satu pagi.
Namun tiba-tiba, kasur dan seluruh tubuhku basah kuyup. Aku sangat terkejut dan langsung melek, dengan ajaibnya, aku langsung segar sekali.
“Kapok kamu kan?!” Ibuku menatap dengan kepuasan tersendiri.
“Aduh, Mama nih, kan jadi bas—”
“Nanti Mama cuci sama ganti sprei kasurmu. Sana mandi.” Sela Ibuku sembari mendorong tubuhku keluar kamar.
Aku hanya menghela napas panjang saja, mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Aku menggosok seluruh tubuhku dengan sabun cair.
Aku keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan handuk di pinggang dan kaos dalam hitam. Aku berlari kecil ke kamarku, bersegera memakai seragam putih abu-abu lengkap dari atas sampai bawah. Wajarlah, murid paling teladan di sekolah nih bos.
Saat mau keluar kamar, adik perempuanku sudah di depan pintu kamarku.
“Oi Bang, cepat makan dan antar guee!” Dasar, sok kali adikku ini.
Aku hanya cuek dan ke meja makan, mengambil sepotong ayam goreng buatan Ibuku, tak lupa juga aku mengambil beberapa centong nasi, mau diet soalnya. Ketika aku sedang menyuapi diriku, adikku muncul dengan muka sok imut.
“Bang, cepetan dong, Laila bisa terlambat nih….” Aku hanya mempercepat makan saja, daripada dia ngadu ke Ibu, tamat riwayatku.
Aku menyelesaikan hidangan dan menaruh piring kotor di tumpukkan piring kotor lainnya, lantas aku mengambil tas dan mengambil kunci motor CBR 250 RR full modif.
BRUMM… BRUMM… BREMM…. Yap, suaranya begitu syahdu untuk didengar. Adikku malah berprotes berisik, enak aja dia bilang berisik.
Aku segera naik, disusul oleh Laila yang duduk di jok belakang motor sport-ku. Aku menoleh ke belakang.
“Dah siap?” Laila hanya mengangguk saja.
Aku mulai melepas perlahan kopling, motorku mulai berjalan dengan kecepatan rendah. Saat di jalan raya, aku melaju dengan kecepatan 80 km/j. Membuat adikku berteriak sambil memukul punggung.
“ABANG!! JANGAN NGEBUT-NGEBUT IHH!!” Laila berteriak, membuat diriku mengerem sedikit guna mengurangi kecepatan.
Sesampainya di sekolah, kalau mau tahu yee, namanya SMAN 1 Yogyakarta. Berhubung adikku sudah kelas 10, sedangkan diriku sudah kelas 12, aku harus berboncengan dengan adik super ramah ini…
“OI! Zaman, lu sekarang bawa adek lu yaa.” Temanku yang satu ini, namanya Zayyan.
Aku menatap Zayyan dengan sedikit jengkel, karena dia memang menjengkelkan. Aku segera menyuruh Laila ke kelasnya, biar gak dideketin sama Zayyan sih…. Muncul dua temanku, Mehmed dan Agus.
“Man, adik lu cakep juga ya.” Celetuk Mehmed dengan nyengir kuda.
“Enak aja lu, gak usah dekat-dekat, cuih! Gak sudi Gue!” Aku melotot, tapi Agus semakin nyengir.
“Sudah-sudah, alangkah baiknya antum jaga mata, Agus… btw, adik lu cakep banget coy!!” Aku menghela napas panjang.
Ketika kami melangkah ke kelas, guru paling berbahaya bagi kami, sudah melangkah begitu cepat, walaupun beliau seorang perempuan, dia itu sangat berbahaya….
Astaga, guru killer itu sudah melangkah lebih cepat, dan yap, beliau masuk duluan sebelum kami. Ketika kami berempat masuk, guru killer itu sudah menunggu di depan.
“Bagus, di saat yang lain sudah menyiapkan hasil dari kerja kelompok, cuman kalian saja yang belum ternyata.” Guru killer itu adalah guru bahasa Indonesia, nama beliau adalah Bu Lia.
“Anu Bu….” Agus hendak memberi alasan, namun….
“Gak usah kasih alasan klasik!” Bu Lia menggeram.
Kami berempat terdiam bagaikan patung, namun Zayyan malah cengengesan. Bu Lia langsung menatap tajam.
“Kalian berempat, akan saya beri sanksi!! Sekarang keluar kalian dari kelas ini!” Bu Lia memicingkan matanya.
Kami berempat keluar dari kelas.
“Aduh, gimana sih. Bu Killer itu sudah marah besar tuh.” Zayyan mengeluh, padahal dia yang bikin kami disuruh keluar.
“Emang dia itu sudah jadi guru killer sejak dulu apa gimana sih.” Aku menatap belakang Zayyan dengan sedikit panik.
Kenapa sih? Kok muka lu kek panik gitu?” Dasar tidak tahu situasi, padahal ada Bu Lia itu….
“Oy, jawab kocak, bikin gua jadi ke—” Namun terlambat, Bu Lia langsung menyela.
“Benar kok, Ibu sudah jadi guru killer sejak dulu.” Senyum palsu dari Bu Lia membuatku merinding, Zayyan saja sampai terkejut.
“Eh Bu Lia… hehehe.” Zayyan memasang wajah sok polosnya.
Satu jam berlalu, kami berempat dipanggil ke ruang bimbingan konseling, mana pengap lagi di ruang bimbingan konseling. Kami hanya duduk di kursi panjang depan kursi kosong, guru BK itu belum datang pula, sebenarnya ya, guru BK-nya perempuan yang masih muda, sekitaran 24 tahun umur beliau, mana cantik banget lagi.
Pintu ruangan BK terbuka, mengeluarkan suara mendecit ala pintu. Seorang guru wanita muda itu melangkah anggun. Kapan lagi melihat guru secantik Bu Lala atau dengan sapaan santai “Kak Lala” bahkan Mehmed yang terkenal paling sholeh saja sampai tak bisa menjaga matanya.
“Selamat pagi menjelang siang semuanya, omong-omong, gak usah tegang dong.” Bu Lala tersenyum riang saat duduk dan menatap kami dengan begitu ramah.
“B-baik Bu….” Zayyan sedikit canggung, memainkan jemarinya.
“Santai saja, Zayyan, panggil saja Kak Lala ya.” Bu Lala hanya tersenyum, membuat Zayyan tersipu malu.
Selama satu jam tersebut, kami menjelaskan mengenai hal sudah dialami oleh kami berempat pada hari ini. Bu Lala menyimak dan mulai memahami situasi dan kondisi kami.
“Gini ya, Kak Lala paham sama kalian, masa muda terkadang bisa memberi rasa pahit ketika sudah dewasa, jika kalian tidak serius. Sebenarnya, Kak Lala sudah tahu potensi dari kalian.” Bu Lala menarik napas sejenak.
“Jika kita bedah satu-satu, dari Zaman dulu deh. Zaman, kamu memiliki potensi sebagai pengacara di luar negeri, karena kemampuan bahasa asingmu paling bagus di antara seluruh angkatan dulu. Bahkan kamu sudah menguasai lebih dari dua belas bahasa asing yang berbeda, Kakak salut sama kamu, apalagi kamu sudah pernah mengikuti lomba debat di masing-masing negara yang berbeda.” Bu Lala menyentuh tanganku, memberi sugesti ketenangan.
“Terus, Zayyan. Kamu itu aslinya memiliki potensi dibidang sains dan teknologi, apalagi kamu jago membuat robotik dan coding. Bahkan Kakak sangat ingin melihat karya robotikmu selanjutnya.” Bu Lala tersenyum manis.
“Terus, Mehmed. Kamu itu sebenarnya potensi dalam hal apapun, matematika kamu jago, semua mata pelajaran kamu jago lah.” Bu Lala tersenyum.
“Dan terakhir, Agus. Astaga… kamu itu ahli komputer loh, Kakak tahu ketika tidak sengaja melihat buku catatanmu, mengenai kode koding, intinya kamu lebih jago koding daripada Zayyan.” Nada Bu Lala memang sangat riang dengan sedikit keterkejutan.
Kami berempat terdiam, merasakan sedikit motivasi oleh perkataan Bu Lala. Pikiranku sedikit bergejolak, saat meresapi seluruh perkataan Bu Lala.
“Terima kasih Kak, atas nasihat yang telah Kak Lala berikan.” Kami berempat berkata serempak.
Bu Lala hanya tersenyum. Kami pun berpamitan dan keluar dari ruangan Bu Lala dengan seluruh nasihat yang telah kami serap, Zayyan yang sedikit jahil, sekarang agak sedikit diam, begitu juga yang lain.
Kami berempat kembali ke kelas, duduk sambil berperang dalam pikiran kami masing-masing. Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku keluar dengan teman-temanku. Ketika di parkiran motor, adikku sudah menunggu dengan muka dibuat galak.
“Abang ini, lama kali lah.” Laila bersedekap.
Teman-temanku malah berbisik mengenai diriku yang sedikit tunduk kepada adikku.
Saat sampai di rumah, aku menaruh motor di garasi, sedangkan adikku langsung masuk ke dalam rumah. Sebenarnya pikiranku masih terus berperang. Aku segera ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur.
“Jika aku serius, apakah prestasi itu akan berguna untuk diriku? Jika berguna, maka aku akan mengusahakan satu hal, aku akan mengikuti lomba debat tingkat global untuk umum, aku akan berdebat dengan seluruh orang dengan seluruh kemampuan bahasaku.” Monolog diriku sebelum terlelap dalam mimpiku.
Part kedua menyusul….