Kopi Oma Masih Hangat

Cerpen ini saya gunakan untuk seleksi Osebi, cerpen ini juga berasal dari kisah nyata yang saya ubah agar relevan dengan tema "Bangga Berbudaya".

2025-11-27 14:01:11 - Fanyl

Di antara bangunan-bangunan yang tinggi, asap gelap dari truk kontainer, dan suara mesin penggiling tembakau yang tak pernah berhenti. Di ujung Gang Donayan 6, Kediri. Terdapat sebuah rumah dari batu bata merah. Ukiran Jepara di tiang depan masih terlihat jelas: “1948 – Rumah Edi & Narti”. Atap gentengnya sudah banyak retak, tapi dindingnya masih kuat seperti pelukan Oma yang selalu hangat meski tangannya sudah dingin.


Di belakang dinding batu bata merah itu, tinggal Pak Edi, Oma Narti, dan Dana, anak laki-laki berusia 12 tahun yang selalu tersenyum lebar hingga gigi ompong depannya terlihat. Senyum yang bisa membuat tukang ojek di depan gang lupa lelah, senyum yang membuat Oma berkata, “Dana, kalau kamu tersenyum, Oma nggak takut tua.”

Setiap pagi pukul 05.15, ketel perak dengan gagang berkarat berdentum pelan. Oma Narti, 72 tahun, berdiri di dapur kecil. Ia menderita hipertensi sejak tahun 2018, tapi, dokter selalu bilang, “Bu Narti, tekanan darahmu tinggi, kurangi minum kopi.” Oma hanya tersenyum, kemudian tetap menyeduh kopi tubruk untuk Pak Edi.


Tangan kanannya sering kesemutan, urat-uratnya menonjol seperti akar beringin, tapi ia tetap mengaduk, tiga kali ke kanan, tiga kali ke kiri, sambil berbisik, “Ini buat Pak Edi, biar ingat aku tiap pagi. Dana keluar dari kamar, rambutnya acak-acakan, senyum ompongnya langsung menyala.“Oma, kalau aku sudah besar, aku mau buat kopi kayak Oma, biar orang-orang ingat Oma selamanya.” Oma menoleh, matanya berkaca-kaca, “Janji ya, Le, Kalau Oma sudah nggak ada, kamu tetap aduk tiga kali kanan, tiga kali kiri. Biar Oma tahu kamu masih sayang Oma.” Dana memeluk pinggang Oma, “Oma nggak boleh nggak ada. Oma harus lihat aku jadi dalang besar dulu.”


Hari itu, Kamis, 29 Mei 2025. Oma Narti ulang tahun ke-72.


Dana sudah menabung selama tiga bulan, membeli bunga melati segar di Pasar Setono Betek. Ia berlari ke dapur, memeluk Oma dari belakang, “Oma, ini buat Oma, biar Oma nyanyi sampai tua.” Oma menangis pelan, lalu memeluk Dana erat-erat, “Le, Oma cuma minta satu: jangan pernah lupa suluk Oma, ya? Kalau Oma pergi duluan, kamu nyanyi buat Oma, ya?” Dana mengangguk keras, “Janji, Oma! Aku akan nyanyi sampai Oma dengar dari surga!”


Malam harinya, pendopo kelurahan penuh. Tiga puluh anak duduk bersila. Lampu neon pabrik rokok menyala terang di belakang kelir. Dana duduk di kursi kecil di belakang, wayang Arjuna di tangan kirinya, matanya terus mencari Oma. Pak Edi di sebelah kendang, tangan tuanya bergetar, tapi ia tersenyum ke arah Oma, “Narti, malam ini kita buktikan, wayang kita lebih keras dari mesin pabrik.” Oma balas tersenyum, “Edi, kalau aku jatuh di panggung, kamu jemput aku ya, seperti dulu waktu kita masih muda.”


Oma Narti berdiri di samping panggung, baju kebaya ungu tua yang dijahit sendiri, melati segar dari Dana di sanggul, mikrofon perak di tangan kanan yang sering bergetar. Ia menatap Dana, lalu Pak Edi, lalu anak-anak, lalu menarik napas dalam, seperti menarik seluruh hidup ke dalam satu suluk. “Arjuna wiwaha… tan hana wani…” Suaranya mengalir, lembut, dan penuh cinta.


Dana menggerakkan wayang, air matanya sudah menetes, “Oma… ini suluk terakhir buat aku, ya?” Baris kedua belum keluar. Tangan kanan Oma bergetar hebat. Mikrofon jatuh. Tubuhnya miring. Dana menangkap pinggang Oma, “Oma! Oma jangan tinggalin aku! Oma bohong! Oma janji nyanyi sampai tua!” Pak Edi berlari, “Narti! Narti, buka mata, Sayang! Kita belum selesai lakon kita! Narti, aku masih mau dengar kamu nyanyi tiap malam!” Ia memeluk istrinya, air matanya menetes ke pipi Oma, “Narti… kopi pagi ini masih hangat, tolong bangun, Narti…” Seorang perawat yang ikut melihat pertunjukan langsung melakukan CPR.


Ambulans tiba. Dalam mobil, Oma masih sadar satu menit. Matanya mencari Dana. “Dana… suluk… selesaikan ya, Le…Oma sayang kamu… selamanya…” Dana memegang tangan Oma yang dingin, “Oma jangan pergi… aku belum bilang terima kasih… aku belum bilang aku sayang Oma setiap hari…” Jari kelingking Oma bergerak sekali, lalu terdiam selamanya.


Pukul 19:03 


Dokter menggeleng. Dana memeluk mikrofon perak, menangis sampai suara habis, “Oma… Oma janji… Oma janji nyanyi sampai tua…kenapa Oma bohong…” Pak Edi berdiri di dekat ranjang oma, memegang tangan Oma yang sudah dingin, “Narti… aku belum bilang…kopi pagi ini aku belum minum…aku masih mau kamu aduk tiga kali kanan, tiga kali kiri…”


Malam itu, rumah Gang Donayan 6 sunyi. Dana duduk di teras, memeluk bunga melati yang layu, senyum ompongnya hilang. Pak Edi memeluknya dari belakang, suara serak, “Dana… Pak Kung janji, sanggar tetap buka. Oma cuma pindah tempat duduk, di hati kita, di setiap suluk yang kamu nyanyikan…”


Keesokan pagi, Dana bangun pukul 05:15. Ia membuat kopi tubruk: tiga sendok kopi, satu sendok gula aren, tiga kali menggerakkan tangan ke kanan, tiga kali ke kiri. Air matanya jatuh ke dalam cangkir. Ia menuang kopi ke tiga cangkir kecil, satu untuk Pak Edi, satu untuk kursi anyaman Oma, satu untuk melati di halaman.


Lalu ia berbisik sambil menangis, “Oma, aku buat kopi seperti Oma, tiga kali kanan, tiga kali kiri, Oma, rasakan ya, Oma masih ingat aku, kan?”

Pukul 19:00, pendopo kelurahan kembali dibuka. Blencong menyala. Dana duduk di kursi dalang, wajahnya pucat, tangan gemetar. Pak Edi di belakang kendang, matanya bengkak. Anak-anak datang, ada yang menangis pelan. Dana mengangkat wayang Arjuna. Suaranya serak, tapi, ia bernyanyi, “Arjuna wiwaha…tan hana wani…


Tepat pukul 19:05, speaker tua yang kabelnya dicabut, berdengung pelan. Lalu terdengar suara Oma, rekaman 29 Mei 2019, jernih, hangat, hidup, “…nggayuh ing kaestu…Arjuna, jangan menyerah, Le…Oma sayang kamu…” Dana menangis tersedu, tapi tangannya tetap menggerakkan wayang. Ia berbisik ke speaker, “Oma… aku sayang kamu…aku lanjutkan barisnya… Oma dengar aku, kan?”


Pak Edi menabuh kendang, lebih pelan, lebih dalam, sambil berbisik, “Narti… aku juga sayang kamu…selamanya…” Anak-anak ikut bernyanyi, suara kecil mereka menggema, mengalahkan mesin pabrik, mengalahkan rindu. Sejak itu, setiap pentas, speaker itu hidup tepat pukul 19:05. Hanya satu bait. Hanya suara Oma. Hanya kalimat, “Oma sayang kamu.”


Setiap kali Dana selesai menyanyi, ia selalu berbisik ke speaker, “Oma, aku sayang Oma…tiga kali kanan, tiga kali kiri…kopi Oma masih hangat…” Setiap pagi, Dana membuat kopi untuk tiga cangkir. Selalu setengah gelas. Selalu tiga kali kanan, tiga kali kiri. Air matanya selalu jatuh ke cangkir Oma.


Di tembok pendopo, tertulis cat semprot merah, tulisan tangan Dana yang masih goyah: “SANGGAR DEWI LESTARI Oma Narti (1953–2025) Pulang ke panggung yang lebih besar, 29 Mei 2025, 19:03”.


Setiap kali aku berani melanjutkan baris berikutnya dan berbisik, “Oma, aku sayang kamu.” Malam ini, lampu neon pabrik rokok masih menyala. Melati mekar di halaman. Kopi masih mengepul di teras. Dan di kursi anyaman, cangkir Oma selalu hangat, seolah tangan yang pernah mengaduk kopi dengan tiga kali kanan, tiga kali kiri, masih berkata pelan, “Dana, Oma dengar kamu. Nyanyi lagi, Le. Suluknya belum selesai. Dan di Gang Donayan 6, selamanya ada tiga suara, satu senyum ompong, dan satu pelukan yang tak pernah benar-benar pergi.”



More Posts