R. Gatot Susilo 15 hours ago
rgs02 #budaya

Merengkuh Ketenangan lewat Ngayomi, Ngayemi, dan Nguwongke

Bicara soal cinta, saya sering kali terjebak pada narasi-narasi dramatis—bahwa cinta itu harus meledak-ledak, penuh pengorbanan berdarah-darah, atau harus menguras seluruh ego. Namun, belakangan ini, saya mencoba menarik diri mundur sedikit dan merenungkan bagaimana filosofi Jawa mendesain konsep cinta. Dari pencarian dan perenungan ini, saya menemukan sebuah kearifan lokal yang menawarkan kerangka berpikir yang sangat dewasa, tenang, dan sama sekali tidak "toxic."

Saya menyadari bahwa cinta yang matang, atau perilaku cinta yang ideal, harus berdiri di atas tiga pilar utama: Ngayomi, Ngayemi, dan Nguwongke. Ketiga konsep ini bagi saya bukan sekadar kata-kata puitis, melainkan sebuah panduan praktis tentang bagaimana saya memposisikan diri dan orang yang saya cintai—entah itu pasangan, keluarga, sesama manusia, atau bahkan Sang Pencipta.

1. Ngayomi: Protektif Tanpa Harus Posesif

Pilar pertama yang saya pelajari adalah Ngayomi. Secara sederhana, ngayomi berarti memberi perlindungan (proteksi) dan rasa aman. Namun, titik kritis yang saya sadari ada di sini: cinta yang ngayomi itu melindungi, bukan memenjara.

Saya pernah melihat, atau bahkan mengalami sendiri, bagaimana atas nama cinta, seseorang berubah menjadi posesif. "Kamu hanya boleh denganku," "Jangan lakukan itu kalau aku tidak suka." Saya tersadar, itu bukan ngayomi, itu mendominasi. Bagi saya sekarang, cinta yang sehat itu ibarat payung, bukan pagar ("tresno ora dadi pager, nanging dadi payung"). Payung melindungimu dari panas dan hujan saat kamu berjalan ke mana pun, sedangkan pagar membatasi pergerakanmu hanya di satu area sempit.

Cinta yang ngayomi berarti kehadiran saya membuat orang lain merasa bebas dari rasa cemas, insecure, atau takut salah. Saya ingin hadir sebagai benteng tempat bersandar, bukan sebagai sipir penjara yang mengekang.

2. Ngayemi: Menciptakan Ketenangan, Bukan Kelelahan (Drama)

Pilar kedua adalah Ngayemi, yang berakar pada kata "ayem" atau tenteram. Saya meyakini cinta seharusnya menyejahterakan batin, membuat hidup terasa teduh, hening, dan nyaman. Jika sebuah hubungan dipenuhi oleh drama yang menguras tenaga, pertengkaran tanpa ujung, atau tuntutan yang tak realistis, maka bagi saya, cinta itu gagal melakukan tugasnya untuk ngayemi.

Satu tanda bahaya terbesar yang saya hindari adalah ketika saya atau pasangan merasa harus terus "berakting" demi diterima. Jika saya terpaksa memalsukan kepribadian (misalnya bersikap sangat ekstrovert padahal saya introvert agar suasana tidak bosan), pada akhirnya saya akan kelelahan. Cinta sejati, yang ingin saya jalani, mengizinkan penanggalan topeng. Saat saya bersama orang yang saya cintai, saya ingin bisa berkata, "Ini aku yang sebenarnya, dengan segala kekuranganku," dan ia tetap menerima saya utuh. Itulah kedamaian (ayem) yang sesungguhnya yang saya cari.


3. Nguwongke: Memanusiakan Manusia

Pilar ketiga, dan mungkin yang paling fundamental dalam perenungan saya, adalah Nguwongke (memanusiakan). Ini adalah penawar dari sifat egois dalam mencintai yang sering saya waspadai dalam diri.

Mencintai dengan nguwongke berarti saya sadar penuh bahwa orang yang saya cintai adalah subjek yang independen. Ia adalah "wong" (manusia) yang punya cita-cita, pikiran, kehendak, dan jalan hidupnya sendiri. Saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak melihatnya sebagai properti pajangan untuk menaikkan status sosial, bukan sekadar pelampiasan ego, dan bukan pula sekadar "obat merah" yang saya cari saat terluka.

Cinta yang nguwongke menuntut saya untuk mengizinkan pasangan saya tumbuh dan berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, bukan versi yang saya inginkan. Kehadiran saya ada untuk mendukung pertumbuhannya, bukan untuk mengerdilkannya demi memuaskan harapan pribadi saya.

Transendensi Cinta: Merengkuh Ilahi lewat Kebiasaan

Perenungan ini membawa saya pada sebuah realisasi yang lebih besar. Ketiga pilar ini—Ngayomi, Ngayemi, Nguwongke—adalah manifestasi dari prinsip yang sangat dalam: "Tresno jalaran soko kulino" (Cinta tumbuh karena terbiasa). Selama ini, saya mungkin berpikir bahwa mencintai, terutama mencintai Allah, harus diawali dengan perasaan yang menggebu-gebu, sebuah pencerahan spiritual yang turun tiba-tiba.

Namun, filosofi ini membalikkan pemahaman saya. Jangan menunggu rasa baru bertindak. Bertindaklah, biasakanlah (ngulinakno), maka rasa itu akan hadir.

Dalam konteks spiritual, saya belajar bahwa saya tidak perlu menunggu hati saya "bergetar sempurna" baru saya mulai beribadah, berdoa, atau berbuat baik. Cinta Ilahiah dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten. Saya biasakan untuk salat, saya biasakan untuk zikir, saya biasakan menyapa-Nya di setiap hela napas. Awalnya mungkin terasa hampa, seperti kewajiban semata. Namun, seiring waktu, dari kebiasaan (kulino) itu, tumbuhlah rasa terpikat (kesengsem).

Ketika saya terus memupuk rasa itu, ia akan melekat kuat (kantil), hingga akhirnya saya mencapai titik di mana rasa saya menyatu dengan kehendak-Nya (manunggal roso). Titik di mana apa yang Allah cintai, itulah yang saya cintai; apa yang Dia benci, itulah yang saya benci. Ibadah bukan lagi beban, melainkan kebutuhan dan ketenangan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, saya belajar bahwa cinta—baik kepada sesama maupun kepada Sang Pencipta—bukanlah semata tentang seberapa keras jantung berdebar di awal mula. Ia adalah tentang seberapa tabah dan konsisten saya merawat komitmen di hari-hari yang paling biasa.

Ia tentang membiasakan diri untuk melindungi tanpa memenjara (ngayomi), menenteramkan tanpa menuntut (ngayemi), dan memanusiakan tanpa merendahkan (nguwongke). Dari pembiasaan itulah, cinta sejati akhirnya menemukan bentuknya yang paling utuh.

Perpulangan Siswi Mega Islamic Boarding School (Mega IBS)

Perpulangan Siswi Mega Islamic Boarding School (Mega IBS)

https://lh3.googleusercontent.com/a/ACg8ocKFJyae_MbKXQUNhcPtHCnvwR5NFxFX8148YPmZScoH8ow2hVU=s96-c
Callysta
16 hours ago
Chromebook Mati Total Akibat Arus Pendek

Chromebook Mati Total Akibat Arus Pendek

1754663132.jpg
.
16 hours ago
Siswa SMP Mega IBS Raih Juara 1 OMI 2026 Bidang IPS Tingkat Kota Semarang, Siap Melaju ke Tingkat Provinsi

Siswa SMP Mega IBS Raih Juara 1 OMI 2026 Bidang IPS Tingkat Kota Semar...

1788151121.png
MEGA ISLAMIC BOARDING SCHOOL
17 hours ago
Reza Berhasil Meraih Medali Emas dan The Best Overall

Reza Berhasil Meraih Medali Emas dan The Best Overall

https://lh3.googleusercontent.com/a/ACg8ocJg4piTQ-8JhEVIUcpf38ZfXg21AFq1Uaye06TFH2-rRnvo_Q=s96-c
japdul kece
18 hours ago
MBG versi Mega!

MBG versi Mega!

1770342753.png
hanmaru
18 hours ago