Misteri Paman Hussein
Sepotong kisah Bapak Pluralisme dan Bapak Republik Indonesia
2026-05-20 13:21:02 - Галих
Pada akhir tahun 1944, ketika Gus Dur masih berusia empat tahun, ia diajak oleh Ayahnya, Wahid Hasyim untuk pindah dari Jombang ke Jakarta lantaran Wahid Hasyim bertugas di Kantor Urusan Agama atau Shumubu. Wahid Hasyim meninggalkan keluarganya dan hanya pergi bersama putra tertuanya untuk menetap di Jakarta. Gus Dur kecil dan Wahid Hasyim tinggal di kawasan Menteng Jakarta Pusat yang saat itu merupakan daerah yang diminati oleh pengusaha terkemuka, profesional dan politikus.
Dengan menetapnya Wahid Hasyim dan Gus Dur kecil di daerah Menteng membuat mereka dekat dengan pusat kegiatan. Misalnya ketika mereka melaksanakan ibadah shalat di Masjid Matraman, mereka bisa teratur bertemu dengan tokoh nasionalis Indonesia seperti Hatta.
Menurut ingatan Gus Dur, saat itu ia sering membukakan pintu pada sekitar pukul delapan malam. Seorang laki-laki asing berpakaian petani datang berkunjung untuk menemui ayahnya. Keduanya sering bercakap-cakap selama berjam-jam. Tamu asing itu meminta Gus Dur kecil memanggilnya sebagai Paman Hussein. Baru beberapa tahun kemudian Gus Dur mengetahui bahwa Paman Hussein yang ia kenal itu adalah Tan Malaka, seorang tokoh berhaluan kiri terkenal.
Ini adalah sepotong kisah dari buku biografi Gus Dur pada halaman 36-37 yang ditulis oleh Greg Barton.
Tan Malaka dikenal sebagai bapak Republik Indonesia. Jauh sebelum tokoh seperti Soekarno, Hatta dan kawan-kawan memikirkan tentang fondasi republik ini, Tan Malaka sudah menuliskannya melalui bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia. Dalam buku Naar De Republiek Indonesia, Tan Malaka menjelaskan latar belakang kondisi dunia dan Indonesia (Hindia Belanda pada zaman itu) pada masa itu dan menggagas ide seperti apakah republik ini dibangun.
Tan Malaka hidup dengan cara menyamar menggunakan sejumlah identitas palsu untuk menghindari intelijen Belanda. Tidak hanya Belanda, tetapi ia juga diburu oleh banyak intelijen negara lain. Tan Malaka pergi mengembara dari satu negara ke negara lain sepanjang tahun 1922-1942. Alasan keberhasilan Tan Malaka dalam penyamarannya adalah ia mampu berbicara fasih dalam bahasa asing seperti Belanda, Inggris, Prancis, Rusia, dan bahasa lainnya.
Dikutip dari Viva.co.id, dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan ternyata Tan Malaka ada di sekitar Jakarta. Ia datang dari Banten, bukan sebagai Tan Malaka, melainkan sebagai pemuda Banten bernama Hussein. Lengkapnya Iljas Hussein. Ia bahkan sempat menemui sejumlah tokoh pergerakan dari kalangan pemuda, antara lain Soekarni. Bahkan Soekarni yang tidak tahu sedang berbicara dengan Tan Malaka, sempat menyuruh Hussein pulang ke Banten dan menghimpun para pemuda guna menyambut proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus. Selain Soekarni, Tan Malaka yang menyamar sebagai Hussein itu juga menemui Chaerul Saleh. Chaerul dan Soekarni paham benar dengan semua gagasan dan pemikiran Hussein. Mereka menyadari bahwa Hussein sedang mengemukakan ide-ide Tan Malaka. Tapi sungguh keduanya tidak menduga bahwa Hussein itulah Tan Malaka.
Tan Malaka sendiri akhirnya wafat pada 21 Februari 1949 setelah dieksekusi tanpa pengadilan oleh pasukan Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan yang merupakan bagian dari Divisi Brawijaya. Tan Malaka dieksekusi di desa Selopanggung di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur. Tan Malaka dieksekusi setelah dianggap sebagai ancaman politik sebab manuver politik Tan Malaka tidak disukai oleh kelompok-kelompok yang berseberangan dengannya. Mereka menuding Tan Malaka hendak menggulingkan Presiden Soekarno.
- Sastrajendra
SUMBER
Barton, G.B. (2003).Biografi Gus Dur. Yogyakarta: IRCiSoD dan LKiS.
https://jeo.kompas.com/detik-detik-terakhir-tan-malaka
https://www.viva.co.id/berita/nasional/742367-kisah-tan-malaka-menyamar-saat-proklamasi