Nanti Sampai Kapan?
Penyesalan juga datang, nanti tapi.
2026-04-04 12:33:36 - syakira.
Masih pagi, tapi Pasar Kembang paling jago soal membuat orang-orang rela bangun dini hari, bersiap-siap lalu pergi ke sana. Sebagiannya menjual bunga, sebagiannya membeli. Pembelinya pun beraneka macam–sepasang orang tua, orang yang lebih tua, yang masih tertidur di stroller, yang terpaksa terbangun karena diajak orang tuanya.
“Untung pagi ini kau bangun, Dik, jadi kau kebagian bunga yang bagus.” Perempuan berumur dua puluhan itu menceletuk.
Sejak kemarin, adik perempuannya selalu merengek ingin bunga, diajaklah ke pasar bunga, tapi saat dibangunkan, seribu alasan keluar dari mulutnya, membatalkan keberangkatan mereka.
Perempuan bertubuh mungil, umurnya masih terhitung di bawah delapan belas tahun menoleh ke arah kakaknya. “Kau saja yang gak becus banguninnya!” Balasnya ketus. Padahal memang dia yang susah dibangunkan. “Harusnya Kak Obey gak nyerah gitu saja, Effort dikit lah!” lanjutnya.
Kalau saja Kak Bey–Kakaknya tega terhadap adiknya, mungkin adiknya dari tadi sudah dapat hadiah ocehan bonus pukulan dari kakaknya, tapi melihat adiknya menggotong seikat bunga, tak tega membentaknya, hanya mendengus dan menggelengkan kepala.
***
“Rel, bunganya letakkan dulu dalam vas, terus kasih air sana! Jangan ngemil mulu, heh!” Mereka telah sampai rumah beberapa jam lalu, disambung dengan aktivitas lainnya. Bunga Kak Bey sudah terpajang cantik di jendela kamarnya. Kak Bey hanya membeli 3 tangkai bunga yang menurut matanya menarik. Benar saja, sampai rumah, orang tuanya memuji betapa cantiknya bunga yang ia beli, lalu dengan hati-hati memindahkan tempat bunga itu. Berharap akan bertahan dan awet.
Bunga yang dibawa adiknya tadi terlantarkan begitu saja di meja ruang tamu, entah sampai kapan, dalam empat puluh delapan jam, bunga itu akan segera layu bila tak segera diberi air. Kak Bey tidak mau mengurusnya, itu milik adiknya.
“AUREL!!”
Adiknya mengerang malas, sudah berapa kali kakaknya mengingatkannya? Nanti ya nanti.
Dua hari berlalu, bunga itu sudah tidak terletak lagi di meja ruang tengah. Lebih buruk, sekarang bunganya hanya terpajang di pojok kamar milik Aurel. Siang itu Aurel hendak menghampiri Kak Bey yang sibuk sendiri di kamarnya, dibukalah pintu kamar Kak Bey.
“Onde Mande! Aurel—”
“Kak, bungamu!” Aurel lebih dulu memotong, terkesima dengan bunga yang dipajang Kak Bey. Hanya vas bening kecil yang diisi setengah dengan air dan 3 tangkai bunga, cukup membuat Aurel teringat dengan bunganya.
Aurel melesat berlari mengambil vas bunga, mengisi air di wastafel dapur dan terbirit-birit mengambil bunganya di kamar.
“Nasib.” Kakaknya mengejek, lihat bunga Aurel sekarang. Layu. Tak seindah di awal, tak seindah semasa penjual itu yang merawatnya.
“Lihat mukamu, tak sama layunya dengan bunga ini.” Kak Bey menunjuk bunga, lalu ke muka Aurel, dan kembali menunjuk bunga. Benar kata Kak Bey, muka Aurel tak kalah layu dengan bunga, hilang sudah senyuman manisnya, penyesalannya datang terlambat. Bahkan sempat-sempatnya berpikir kalau bunga itu layu karena melihat muka masamnya.
“Paling besok mekar lagi, Kak.” Harapnya.
Ditunggulah berminggu-minggu, tiap hari matahari muncul di langit, memberi senyuman hangat, menyinari seluruh dunia, kemudian diganti rembulan yang bulatnya sempurna, tak kalah indah. Begitu terus selama berhari-hari.
Bunga Aurel tak pernah mekar lagi, semakin layu yang ada. Aurel duduk di kursi ruang makan, bunganya terpajang di meja makan, ia memandang melas bunga layu itu. Dia menyesal, dan tidak, dia tidak mau mengucapkannya, walau hatinya dari tadi berbunyi seharusnya kau rawat dari kemarin, Aurel. Ia menunduk.
Ia iri betul melihat bunga Kak Bey, sampai sekarang masih segar padahal belinya di waktu yang sama. Hanya saja Kak Bey rutin mengganti air, memotong batang sejak bunga itu tiba di rumah, beda dengan dirinya.
Aurel tersadar, selama ini dia hanya ‘menginginkan’ untuk punya bunga saja, merawat pun tak terlintas di benaknya. Bersama orang yang tepat, contohnya Kak Bey, bunga itu tetap mekar dengan cantik, memesona siapapun yang melihatnya, menyegarkan mata. Buang-buang uang saja..