Mengenal Potensi Pangan Lokal Pengganti Beras
Pola pikir “belum makan kalau belum makan nasi” menjadikan ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap nasi. Nasi merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang tak terpisahkan di kehidupan sehari-hari. Lambat laun, kebiasaan makan nasi setiap hari ini membentuk pola pikir tersebut. Berdasarkan data dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2024, menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi beras nasional mencapai 6,5 kilogram (kg) per kapita sebulan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok masih sangat tinggi. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah dan dapat menjadi alternatif beras, seperti singkong, jagung, sagu, ubi-ubian dan salah satunya adalah ketan putih yang menjadi bahan dasar jadah. Oleh karena itu, jadah yang berbahan dasar ketan putih memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif nasi dan menjadi sarana untuk melestarikan kuliner tradisional.
Selain besarnya potensi sebagai alternatif pangan, jadah telah lama melekat dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Jawa. Jadah merupakan salah satu jajanan tradisional yang berasal dari Jawa, terutama di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Beras ketan, parutan kelapa, dan garam menjadi bahan utama jadah. Sehingga hasil perpaduan bahan ini memiliki cita rasa gurih, tekstur yang kenyal dan sedikit lengket. Kehadiran jadah yang biasanya hadir saat acara adat, terutama sebagai seserahan dalam prosesi lamaran atau pernikahan bukan hanya sekadar pelengkap hidangan, melainkan juga menjadi simbol perekat hubungan kekerabatan yang mendalam dan berkelanjutan.
Dari segi nilai kelengkapan gizi, ketan putih dalam olahan jadah memberikan komposisi nutrisi yang sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan energi harian. Berdasarkan data Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, setiap 100 gram ketan putih matang menyuplai energi sebesar 163 kkal, 35.7 gram karbohidrat, 3 gram protein serta asupan fosfor dan kalium. Tingginya kandungan amilopektin pada karbohidrat kompleks beras ketan menghasilkan pasokan energi yang padat dan dapat memberikan sensasi kenyang yang lebih lama. Ditambah dengan serat dan lemak nabati sehat dari campuran parutan kelapa, menjadikan jadah sumber energi yang bergizi seimbang.
Pada akhirnya, mewujudkan ketahanan pangan tidak selalu harus dengan mengimpor komoditas pangan baru, tetapi bisa juga dengan memanfaatkan potensi pangan lokal di sekitar kita. Jadah yang berbasis ketan putih telah membuktikan bahwa ia tidak hanya sebagai makanan tradisional saja, tetapi juga sebagai sumber karbohidrat alternatif yang mengenyangkan, dan mudah diolah. Dengan perlahan mengurangi pola pikir “belum makan kalau belum makan nasi” serta memadukan olahan lokal seperti jadah ke dalam menu harian, kita dapat mewujudkan penganekaragaman pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Daftar Pustaka
Damiana. (2024, 23 Oktober). Bukan Jakarta, warga RI makan beras paling banyak ternyata ada di sini. CNBC Indonesia.https://www.cnbcindonesia.com/news/20241023155215-4-582442/bukan-jakarta-warga-ri-makan-beras-paling-banyak-ternyata-ada-di-sini
Fauzan Sidik. (2026, 1 Juni). Filosofi jadah: Tradisi, rasa, dan makna. Ponpes Gasek Malang.https://ponpesgasek.id/filosofi-jadah-tradisi-rasa-dan-makna/
Hello Sehat. (2021, 11 Mei). 5 Makanan pengganti nasi putih yang baik untuk tubuh.https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/makanan-pengganti-nasi-putih/
NilaiGizi.com. (n.d.). Nilai kandungan gizi ketan putih, matang.https://nilaigizi.com/gizi/detailproduk/38/nilai-kandungan-gizi-ketan-putih-matang
Nurma. (2025, 14 Januari). Pengganti nasi yang sehat: Makanan pokok yang mudah ditemukan di Indonesia. IPB Digitani.https://digitani.ipb.ac.id/pengganti-nasi-yang-sehat-makanan-pokok-yang-mudah-ditemukan-di-indonesia/