Toko itu tidak punya nama, hanya sebuah papan kayu tua bergambar jam pasir yang tergantung di atas pintu. Letaknya di ujung gang sempit yang jarang dilewati orang. Di dalamnya, duduk seorang lelaki tua bernama Pak Aris. Ia bukan menjual jam dinding atau arloji rusak, melainkan menjual waktu.
"Satu jam dihargai sepuluh ribu rupiah," kata Pak Aris kepada Bima, seorang pemuda yang datang dengan napas terengah-engah.
Bima adalah tipikal pekerja kota yang selalu dikejar tenggat waktu. Hari itu, ia kehilangan berkas penting proyeknya dan butuh waktu tambahan sebelum rapat besar dimulai. Tanpa berpikir panjang, Bima mengeluarkan selembar uang dan membelinya. Pak Aris memberikan sebuah botol kaca kecil berisi cairan perak bersinar. "Minum ini, dan kamu akan mendapatkan satu jam tambahan yang membeku bagi orang lain, khusus untukmu."
Bima meminumnya. Seketika, dunia di sekitarnya berhenti bergerak. Burung yang terbang di udara terpaku, rintik hujan menggantung bagai kristal, dan semua orang membatu. Bima menggunakan satu jam itu dengan efisien. Ia mencari berkasnya yang terselip, menyusun materi presentasi, dan kembali ke dunianya saat waktu mencair lagi. Rapatnya sukses besar.
Sejak hari itu, Bima menjadi pelanggan setia. Ia membeli waktu untuk tidur lebih lama, membeli waktu untuk menyelesaikan maraton film seri, bahkan membeli waktu hanya untuk bermalas-malasan tanpa merasa bersalah. Baginya, uang sepuluh ribu rupiah per jam adalah harga yang sangat murah untuk sebuah keajaiban.
Namun, setelah beberapa bulan, Bima mulai menyadari ada yang aneh. Kulitnya mulai keriput di beberapa bagian, rambutnya menipis, dan ia merasa lebih cepat lelah daripada teman-teman seusianya.
Ia kembali ke toko Pak Aris dengan amarah. "Apa yang terjadi padaku? Apakah cairan itu racun?"
Pak Aris menatap Bima dengan tatapan teduh sekaligus iba. Ia menggeleng pelan. "Itu bukan racun, Anak Muda. Itu adalah konsekuensi."
"Konsekuensi apa?!"
"Kamu membayar satu jam waktu absolut dengan uang sepuluh ribu rupiah. Tapi kamu lupa, saat dunia berhenti, tubuhmu tidak ikut berhenti," jelas Pak Aris sambil menunjuk sebuah cermin besar di sudut ruangan. "Jantungmu tetap berdetak, sel-sel tubuhmu tetap menua. Ketika kamu membeli satu jam dari saya, kamu sebenarnya sedang memotong satu jam dari jatah umurmu di masa depan dan menghabiskannya saat ini juga sendirian."
Bima terpaku. Ia melihat pantulan dirinya di cermin—wajahnya tampak lima tahun lebih tua dari usia aslinya. Ia baru sadar bahwa waktu yang ia beli untuk dihabiskan dalam kesendirian yang membeku telah merampas waktu berharganya di dunia nyata bersama keluarga dan teman-temannya.
"Waktu tidak pernah murah, Bima," bisik Pak Aris. "Ia adalah satu-satunya hal di dunia ini yang nilainya tak terhingga karena tidak bisa diputar kembali."
Bima melangkah keluar dari toko itu dengan tubuh bergetar. Ia menatap arloji di pergelangan tangan yang terus berdetik. Mulai detik itu, ia berjanji tidak akan pernah lagi membeli waktu. Ia memilih untuk hidup di dalam waktu yang berjalan apa adanya, menikmati setiap detiknya bersama orang-orang yang ia cintai sebelum jatahnya benar-benar habis.