Ilmu di balik Abadinya Madu
Apakah kamu tahuΒ bahwa madu relatif tidak akan kedaluwarsa dan dinobatkan sebagai bahan pangan yang abadi? mari simak alasan ilmiahnya!
Secara kimiawi, madu terdiri atas kurang lebih 80% gula alami. Hal ini menyebabkan kadar air di dalam madu sangat rendah. Ditambah lagi, madu memiliki tingkat keasaman (pH) yang lumayan tinggi, yaitu berkisar antara 3.2β4.5. Dengan kondisi asam dan minim air tersebut, jamur serta bakteri tidak akan mampu tumbuh di dalamnya.
Menurut sejarawan kuliner Sarah Johnson, hanya ada satu hal yang bisa merusak madu, yaitu kontaminasi air. Air akan memicu proses fermentasi yang menghasilkan gelembung dan bau asam. Jika madu kamu mengeluarkan gas dan berbau asam, itu tandanya ragi telah aktif dan madu tersebut harus dibuang.
Keabadian madu juga tidak lepas dari proses alkimia saat lebah memproduksinya. Semuanya bermula dari nektar bunga yang memiliki kandungan air sangat tinggi, berkisar antara 60 hingga 80 persen. Untuk mengurangi kelembapan tersebut, koloni lebah bekerja keras mengepakkan sayap mereka di dalam sarang hingga nektar mengering.
Selain perilaku tersebut, ketahanan madu didukung oleh keajaiban kimia dari dalam tubuh lebah itu sendiri. Perut lebah mengandung enzim khusus bernama glukosa oksidase. Saat lebah memuntahkan nektar ke sarang, enzim ini bercampur dan memecah cairan menjadi asam glukonat serta hidrogen peroksida. Senyawa hidrogen peroksida inilah yang menjadi pelindung alami untuk mematikan semua bakteri jahat. Peran besar lebah inilah yang menjawab mengapa madu jauh lebih awet dan tidak cepat basi dibandingkan larutan gula biasa.
Tidak mengherankan jika madu sudah menjadi obat legendaris selama berabad-abad. Berkat teksturnya yang kental dan kandungan hidrogen peroksidanya, madu dapat bekerja seperti salep atau perban alami buatan alam untuk menutupi luka bakar maupun luka sayat. Madu membuat penghalang sempurna terhadap infeksi luar.
Bahkan, bangsa Mesir Kuno sudah menggunakan madu sebagai obat luar untuk luka, kulit, hingga mata. Uniknya, sifat madu yang suka "menarik" kelembapan akan aktif saat dioleskan pada luka. Madu akan menyerap cairan dari jaringan tubuh dan memicu pelepasan hidrogen peroksida dalam jumlah yang sangat kecil. Dosis mikro alami inilah yang justru efektif mempercepat penyembuhan tanpa merusak jaringan kulit baru. Namun ingat, pastikan Anda selalu menyimpan madu di dalam wadah yang tertutup rapat agar tidak terkontaminasi oleh kelembapan udara luar.
Itulah penjabaran mengapa madu disebut sebagai bahan pangan yang tidak dapat kedaluwarsa dengan berbagai manfaat hebatnya bagi kita.
Sumber Utama :
-https://rri.co.id/cek-fakta/2172862/mitos-vs-fakta-mengapa-madu-tidak-abadi
-https://www.smithsonianmag.com/science-nature/the-science-behind-honeys-eternal-shelf-life-1218690/
-https://www.kompasiana.com/bagaskurniawan3721/695937eaed64155683008af2/madu-adalah-produk-alam-yang-hampir-abadi