Pagi hari yang cerah, aku melihat ayah sedang bermain di depan rumah dengan burung beo kesayangan nya. Dia memiliki perpaduan bulu berwarna merah dan biru . Setiap hari ayahku selalu mengajak nya dan kasih makan. Kejadian itu tidak pernah berubah sedikitpun dari 2 tahun yang lalu.
Hari ini adalah hari minggu terakhir aku berada di rumah, karena hari senin aku akan berangkat kerja ke luar pulau. Aku segera menghampiri ayah ke depan rumah untuk menghabiskan waktu bersamanya sebelum berangkat merantau. “Hai ayah , ayah mau kopi tidak?”
“Boleh nak, kamu mau buat kopi apa untuk ayah?”
“Aku buat kopi hitam kesukaan ayah ya?”
“Siap, bikin 2 cangkir ya sekalian sama kamu nak”
“Oke ayah, aku ke dapur dulu. Tunggu sebentar ya”.
Setelah mengobrol dengan ayah, aku segera bergegas menuju dapur untuk membuat kopi. Aku mengambil 2 cangkir dan menyiapkan 2 bungkus kopi hitam kemudian aku tuangkan ke dalam cangkir. Aku menyalakan kompor untuk merebus air dan menunggunya sekitar 2 menit . Setelah air sudah mendidih,aku segera mematikan kompor dan menuangkannya ke dalam cangkir. Aku mengambil tempat dan segera menuju ke depan untuk mengantarkan kopi kepada ayah.
“ Hai ayah, kopi nya sudah jadi ayo minum bersama.”
“Kopi buatan anak ku memang selalu enak,” puji Ayah sambil meraih salah satu cangkir. Beliau meniup nya perlahan sebelum menyeruput nya sedikit.
“Mantap. Pas manisnya, pas pahit nya.”
Aku tersenyum dan ikut duduk, memegang cangkir ku sendiri. Hangatnya menjalar ke telapak tanganku, kontras dengan angin pagi yang agak dingin. Di depan kami, halaman rumah yang tidak terlalu luas itu tampak begitu asri. Pohon mangga di pojok halaman bergoyang pelan ditiup angin. Aku memandangi setiap sudut tempat ini, mencoba merekam semuanya kuat-kuat ke dalam ingatan. Besok, pemandangan ini akan berganti dengan hiruk-pikuk kota baru di seberang lautan.
“Kamu mau? Kopi, kopi!” celetuk nya tiba-tiba dengan suara serak yang khas. Ayah tertawa keras, kedutan di ujung matanya memperlihatkan usia yang tak lagi muda. “Kamu itu burung, bukan manusia. Makan pisang saja sana,” sahut Ayah sambil mengambil sepotong pisang raja dari wadah di dekat sangkar dan menyuap kan nya lewat celah jeruji. Dia menyambar nya dengan antusias, memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Kami sempat terdiam selama beberapa saat, menikmati kebersamaan yang ditemani suara burung-burung liar di dahan pohon mangga. Keheningan ini terasa begitu berharga, namun di sisi lain, ada rasa sesak yang perlahan merayap di dadaku.
“Jadi, jam berapa besok jadwal penerbangan kamu, Nak?” tanya Ayah memecah kesunyian. Pandangannya lurus ke depan, menatap jalanan gang yang masih sepi.
“Jam sembilan pagi, Ayah. Mungkin jam tujuh aku sudah harus berangkat ke bandara dari rumah,” jawabku pelan.
Ayah mengangguk-angguk kecil, masih mempertahankan ketenangannya. Sejak ibu tiada tiga tahun lalu, Ayah menjelma menjadi sosok yang luar biasa tegar. Beliau jarang menunjukkan kesedihan atau kekhawatiran di depanku, selalu berusaha menjadi tiang yang kokoh agar aku tidak ragu melangkah.
“Bekerja di luar pulau itu tidak mudah, Nak. Suasana nya pasti beda, budayanya beda, orang-orangnya juga beda. Kamu harus pandai-pandai membawa diri,” tutur Ayah dengan suara yang lembut namun penuh penekanan. Aku mendengarkan dengan khidmat. Kata-kata Ayah meresap jauh ke dalam lubuk hatiku.
“Iya, Ayah. Aku akan selalu ingat pesan Ayah. Aku juga pasti akan rindu sekali dengan rumah. Rindu masakan Ayah, rindu minum kopi seperti ini, rindu cerewet nya burung beo ayah”
“Rindu! Rindu! Kerja yang rajin!” sahut burung lagi, meniru kan frasa yang entah kapan pernah didengarnya.
“Lihat itu, burung saja tahu kamu harus fokus kerja di sana,” gurau Ayah. Beliau lalu menepuk pundak ku dengan tangan kanannya yang terasa kasar akibat bertahun-tahun bekerja keras demi mencari uang untuk ku. “Jangan cemaskan Ayah di sini. Ayah sudah biasa sendiri, lagi pula ada burung yang menjaga rumah. Yang penting kamu di sana sehat, makan yang teratur, dan jangan memaksakan diri kalau lelah.”
Mendengar ucapan Ayah, tenggorokan ku mendadak terasa kering. Aku tahu Ayah hanya mencoba menenang ku. Menghabiskan masa tua sendirian di rumah ini pasti akan terasa sepi, meski ada burung yang menemaninya mengobrol setiap hari. Selama dua tahun terakhir, setelah aku lulus kuliah dan bekerja serabutan di kota ini, kami hampir selalu menghabiskan waktu bersama setiap malam dan akhir pekan.
“Ayah benar-benar tidak apa-apa kalau aku tinggal?”
Ayah menoleh ke arah ku, menatap mataku dalam-dalam. Senyum tulus terukir di wajahnya yang mulai dihiasi kerut.
“Anak burung itu, Nak, kalau sudah tumbuh bulu yang lebat dan sayap yang kuat, dia harus keluar dari sarangnya. Dia harus terbang tinggi, melihat dunia, mencari makannya sendiri. Kalau dia tetap di dalam sarang, dia tidak akan pernah tahu seberapa kuat sayapnya bisa membawa dia terbang. Ayah akan sangat bangga melihat kamu sukses di sana.”
“Terima kasih, Ayah. Aku janji akan memberikan yang terbaik di sana. Begitu
dapat cuti pertama, aku pasti langsung pulang,” ucap ku mantap.
“Nah, begitu baru anak Ayah,” ucap beliau sambil kembali menyeruput kopi nya yang kini sudah mulai mendingin.
Matahari bergerak semakin tinggi, sinar nya yang mulai menghangat menembus sela-sela dedaunan dan menyinari teras rumah kami. Tetangga sebelah rumah mulai berlalu lalang, beberapa menyapa kami yang sedang asyik mengobrol. Kami menghabiskan sisa pagi itu dengan membicarakan banyak hal hal-hal acak, mulai dari kenangan masa kecil ku saat terjatuh dari sepeda, lucunya tingkah laku burung yang pernah lepas lalu kembali sendiri karena kelaparan, hingga tips-tips praktis memasak makanan sederhana yang diajarkan Ayah agar aku tidak kelaparan di tempat rantau nanti.
Cangkir kopi kami kini telah kosong, hanya menyisakan ampas hitam di dasarnya. Obrolan pagi itu perlahan berakhir seiring dengan waktu yang terus berjalan menuntut persiapan. Aku harus mulai memasukkan sisa baju dan dokumen penting ke dalam koper besar yang terletak di kamar.
“Pergilah bersiap-siap, Nak. Pastikan tidak ada barang yang tertinggal,” kata Ayah seraya berdiri dari kursi nya, bersiap untuk membersihkan sangkar burung seperti rutinitas biasanya.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan mantap. Langkah kaki ini mungkin akan membawa ku pergi ribuan kilometer menyeberangi lautan, tetapi aku tahu, kalau doa Ayah dan kehangatan cangkir kopi hitam pagi ini yang aku buat dan aku habiskan bersama ayah akan selalu menjadi jangkar yang mengikat ku pada tempat yang kusebut sebagai rumah. Dan esok hari, petualangan baru di luar pulau resmi dimulai. Aku akan berangkat merantau meninggalkan ayahku tercinta sendirian di rumah bersama burung beo kesayangannya