SI HITAM YANG NAKAL

Berhati-hati dalam melakukan apapun itu

2025-12-02 02:54:23 - Gn.taa

Di sebuah desa bernama, hiduplah seorang anak bernama Hitam dan seorang anak bernama Putih. Mereka terlahir dari orang tua yang sama, namun mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Hitam terkenal akan kenakalannya sedangkan Putih dengan kebaikan hatinya. Siang itu mereka pergi bermain bersama teman-temannya di taman suka-suka yang terletak di tengah desa, mereka memiliki banyak teman yaitu Abdi, Safa, dan Mania. Saat sedang asik bermain perosotan, Hitam dan Safa pergi ke ayunan untuk bermain bersama dan berbincang seru. Tiba-tiba, Hitam turun dari ayunan dan mulai menjahili Safa.

Safa pun bertanya “Kamu mau ke mana Hitam?” Hitam dengan senyum–mulai menjahilinya. “Aku tidak mau ke mana-mana kok, cuma mau di belakangmu saja.” Dengan senyum kecilnya itu, Hitampun perlahan-lahan mulai memegang gagang ayunan milik Safa dan mulai mengayunkannya dengan cepat.

“Hitam kamu mau ngapain!!!”

“HAHAHA seru sekali, ya!”

Tiba-tiba Safa terjatuh dari ayunan. Alhasil kaki, tangan, dan kepala Safa terluka. Safa menangis keras dan membuat Hitam terkaget melihat Safa terjatuh. Hitam panik seakan-akan badannya tidak bisa bergerak. Teman-temannya pun terkejut mendengar suara tangisan Safa dan segera menghampiri Safa untuk menolongnya.

 “SAAFAA!!!” teriak teman-temannya. Mereka terkejut dengan keadaan Safa yang terlihat kesakitan. “Kenapa jadi begini Safa?” tanya Abdi dengan muka serius.

“A-aku terjatuh tadi saat bermain ayunan.” Safa menjawabnya dengan tangisan dan rasa kesakitan.

“Kenapa kamu bisa jatuh begini safa?” tanya si Mania. 

“Saat aku duduk di ayunan, aku didorong dengan keras oleh Hitam.” jawab Safa. 

“HITAM KAMU JAHAT SEKALI YA TERNYATA!!!” jawab Putih.

Si Hitam pun tertunduk dan menjawab, 

“Maafkan saya Safa dan teman-teman,” jawab Hitam dengan nada ketakutan.

Teman-temannya pun tidak mendengarkan perkataan Hitam dan fokus dengan Safa yang kesakitan.

Berhubung rumah Mania yang paling dekat dengan taman bermain mereka, Abdi berpikiran untuk mengajak ke rumah Mania saja untuk diobati sementara.

“Teman-teman bagaimana kalau kita obati Safa di rumah mania terlebih dahulu,” ide Abdi.

“Boleh, boleh banget, ayoo ke rumahku dulu saja Abdi,” jawab Mania cepat.

 Hitam pun merasa tidak enak dengan teman-temannya dan berpikiran untuk membantu.

“Sini saya bantu juga teman-teman,” jawab Hitam ingin membantu.

“TIDAKK USAH, KAMU YANG SUDAH MEMBUAT SAFA MENJADI SEPERTI INI!!” jawab si Mania. 

Perkataan Mania pun membuat Hitam ingin menangis.

“Ya sudah teman-teman, ayo segera kita bantu Safa agar lukanya tidak menjadi lebih parah.” jawab Putih. 

“Ayokk–ayookk sudah tidak usah hiraukan si Hitam itu.” celetuk Abdi.

Setibanya di rumah Mania, “Tunggu sini ya Safa aku ambilkan minum, perban, dan obat-obatan.” jawab Mania si pemilik rumah.

“Boleh aku bantu Mania?” ucap si Putih

“Boleh, bolehh bangett ayoo masukk,”

Saat Putih dan Mania memasuki rumah untuk mengambil minum dan obat-obatan.

Dari luar rumah Safa dan Abdi menunggu kedatangan Putih dan Mania.

Sedangkan Hitam masih menunggu di tempat permainan tadi. Ia bertanya pada diri sendiri.

“Hitam, apa yang telah kamu lakukan pada Safa sampai Safa seperti itu?” Hitam berbicara di dalam hati.

Dengan penuh pikiran Hitam pun menangis di taman tersebut.


Saat merasakan sakitnya kaki, tangan, dan kepala Safa melihat Hitam dengan penuh rasa kasihan.

Dia pun berbicara kepada Abdi yang sedang menemaninya.

“Abdi bolehkah aku minta tolong padamu?” tanya Safa.

“Boleh Safa, kamu mau minta tolong apa?” Jawab Abdi.

“Tidak susah kok aku ingin kamu panggilkan Hitam itu yang masih di taman bermain. aku merasa kasihan padanya,” jawab Safa.

“T–TAPI KAN…,” belum selesai Abdi berbicara sudah dipotong oleh Safa.

“Aku tahu Abdi. Aku sudah tidak apa-apa, panggilkan saja dia,” katanya dengan lemah.

“Baik deh kalau itu maumu. Aku panggilkan dulu Hitam,” jawab Abdi.


Saat sampainya di taman bermain.

“HITAM” teriak Abdi dari pagar pintu bermain.

Hitam pun terkaget atas panggilan di Abdi.

“Ayok cepetan ke rumah Mania, dipanggil sama Safa,” teriak Abdi dari pagar.

“E–ehh iya Abdi nanti aku ke sana,” jawab Hitam dengan terbata–bata dengan nada ketakutan.


Sesampainya di rumah Mania, Hitam pun terkejut karena keadaan Safa terlihat tidak baik.

“AAA SAKITT MANIAA” jawab Safa saat dilarutkan obat oleh mania.

“A-aaduuhh maaf Safaa tahan dulu ya sebentar lagi selesai nih,” jawab di Mania.


Si Abdi dan Putih pun melihat keberadaan Hitam yang sedang melihat Safa kesakitan.


“Kamu ngapain ke sini hitam?” jawab si Abdi dan Putih 

“Sssttt sudah dia memang aku suruh ke sini,” jawab Safa lemah.

“Sini duduk hitam,” ucap si Safa.


Hitam pun tidak berani berkata-kata.

“Mengapa kamu melakukan hal itu kepadaku, Hitam?” tanya si Safa.

“A–aakuu tadi terlalu senang,” jawab Hitam.

“Maafkan aku Safa aku janji tidak akan mengulangi itu lagi,” jawab Hitam 

“Ouuhh begitu hitam baiklah, tapi kamu janji sama aku tidak akan mengulangi lagi ke teman-teman lainnya ya?” jawab Safa.

“Iyaa Safa aku janji tidak mengulangi itu kembali ....” jawab Hitam


Di sisi lain Mania, Abdi, dan Putih pun tercengang atas kebaikan Safa dan mereka pun berbisik-bisik.

“Kok si Safa baik banget si mau memaafkan Hitam padahal kan dia sudah jahat banget sama Safa,” bisik Abdi.

“Iyahh kok baik banget ya aku saja yang saudaranya tidak habis pikir dengan saudara kaya dia,” jawab sinis Putih.

“Ya sudahlah teman-teman mereka juga sudah baikan,” jawab Mania.


“Ya sudah ya teman-teman kita sekarang berteman lagi. Tidak ada kata musuh-musuhan lagi ya. Kita sekarang saudara,” jawab si Safa.


“Oke lah, maafkan aku ya Hitam tadi sudah menyakiti harimu karena perkataanku,” celetuk si Mania.

“Maafkan saya juga ya Hitam,” ucap Abdi dan Putih.

“Iya teman-teman maafkan saya juga ya,” jawab Hitam.


Mereka berlima pun saling tersenyum satu sama lain. 

Dan hari setelahnya mereka pun bermain bersama-sama lagi. 

                           ***

More Posts